Wednesday, January 4, 2017

DARI PANTAI KE PANTAI BELITUNG


Namanya provinsi dengan nama kepulauan mah sudah pasti Bangka Belitung dikelilingi dengan garis pantai yang panjangnya mencapai 1200 km. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ehh 3 hari 2 malam sih, saya dan teman menyambangi beberapa pantai di sepanjang 2 kabupaten di pulau Belitung. Siapa tahu bisa jadi rekomendasi buat yang mau main-main ke Belitung.

1. Pantai Tanjung Pendam
Pantai yang terletak di kabupaten Belitung Barat ini adalah pantai yang pertama kali saya kunjungi begitu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di provinsi Bangka Belitung. Pantai ini menjadi salah satu tujuan utama karena terletak di pusat kota Tanjung Pandan. Di pantai seluas 22  hektar ini merupakan salah tempat yang menghubungkan pulau Belitung dengan beberapa pulau kecil lainnya.

Wednesday, December 28, 2016

2017 WISHLIST

Dengan berakhirnya tahun 2016, berakhir pula kerjaan saya sebagai video journalist di salah satu media nasional di Jakarta. Banyak suka duka selama lima setengah tahun bekerja disana, termasuk kesempatan traveling, baik karena tugas negara maupun jalan sendiri telah dilakukan sepanjang tahun 2016. Review perjalanan tahun 2016? Ahh sudah biasa. Kali ini saya mau bikin wishlist saja buat tahun 2017. Siapa tahu hal itu bisa memacu saya untuk lebih sering menghabiskan waktu untuk hal-hal berguna bagi saya dan mudah-mudahan bagi orang-orang disekitar saya.

1. Traveling ke luar negeri dengan kedua Orangtua
Ini sebenarnya wishlist sejak 2 tahun lalu. Kala itu sepulang dari roadtrip Brunei – Malaysia, saya pulang kampung ke Pati dan bercerita kepada ibu tentang perjalanan selama di Brunei dan Malaysia yang harus melewati 8 kali imigrasi (baca disini).

Wednesday, December 14, 2016

MENYAPA PAGI DI ALESANO

Perjalanan menuju ke alesano di daerah cigombong, bogor jawabarat terpaksa dimulai sore hari dengan sepeda motor dari kawasan semanggi. Saya telat dan langsung kena semprot omelan sama teman saya, mas adhie. "Kita kan ngejar waktu supaya sebelum magrib bisa sampai sana, ndah. Jalan jam segini mau sampai sana jam berapa nih". Dan saya cuma nyengir garing sambil mengenakan helm. Hihihi. Maaf ya. Khilaf tadi abis ditraktir teman.

Namun ada untungnya juga sih jalan agak sorean, karena hujan yang mengguyur Bogor sejak siang sudah reda saat kami melintasinya sore itu. Namun yah itu, kita jadi kemalaman sampai di areal Cigombong. Ditambah perjalanan dari desa setempat menuju camping ground yang mendadak turun kabut tebal meski tanpa hujan. Beruntung salah seorang pengelola berpapasan dengan kami saat menuju area camping ground sehingga kami tidak perlu pakai acara nyasar di antah berantah kampung orang ini.

Malam itu lebih banyak saya habiskan dalam tenda bersamaan dengan tebalnya kabut, angin kencang dan rintik hujan. Niat menikmati cahaya kota di malam hari pun pupus. Setiap kali membuka tenda, hanya angin dingin yang menusuk dan menampar wajah dengan keras yang menyapa. Cahaya di kejauhan itu hanya bisa dinikmati beberapa saat sebelum kabut kembali menyelimutinya. Ahh sudahlah.

Wednesday, November 16, 2016

MENGGOSOK JUTAAN RUPIAH DI MARTAPURA

Martapura, Kalimantan Selatan sudah terkenal se antero Nusantara sebagai tempat penghasil intan permata berkualitas wahid di dunia. Meski ada ungkapan yang menyebutkan "Intan Permata adalah sahabat wanita" namun saya bukanlah penggemar perhiasan dan batu-batuan semacam itu. Iya! memang saya selalu menyebut perhiasaan semacam intan permata dan sejenisnya sebagai bebatuan, toh sebelum digali, dipotong dan digosok kan itu barang bentuknya batu kan?! Jadi, meski sekarang tuh barang berbentuk perhiasaan yang harganya jutaan juga saya tetap menyebutnya batu. Hehehehehe..
Namun, meski bukan penggemar batuan jenis ini, saat diajak untuk melihat proses penggosokan intan di Martapura tentu saja saya tidak menolaknya. Kapan lagi gitu bisa melihat penggosokan batu berharga jutaan itu langsung di kotanya. Kesempatan langka tidak boleh dilewatkan.


Tempat penggosokan yang saya datangi adalah Pusat Informasi Pariwisata dan Penggosokan Intan (PIPPI) yang terletak di jalan Ahmad Yani no 2, Martapura, Kabupaten Banjar Baru, Kalimantan Selatan. PIPPI ini merupakan hasil kerjasama antara Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II (Kalimantan) dengan Pemprov Kalimantan Selatan dan kabupaten Banjar Baru dan berdiri sejak bulan April 2014.

Proses penggosokan tidak hanya untuk memperhalus batu-batuannya, namun juga untuk membentuk batuan berharga ini menjadi bentuk dengan presisi yang sangat sempurna. Cacat sedikit saja, harga bisa jatuh cukup drastis. Itu sebabnya ahli penggosokan intan permata biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi ahli gosok yang diakui.  

"Harga termurah intan adalah 8 juta per karat. Itu yang kualitasnya paling rendah. sedangkan yang termahal bisa mencapai 80 juta per karat" ujar pengelolanya. Heh??? Itu uang semua ya??? *geleng-geleng kepala lalu bengong* Punya uang segitu mah buat saya mending beli tiket pesawat kemana gitu. Huft!
Alat pendeteksi keaslian intan dan berlian
Label harganya bikin pusing..

Batuan jenis lain juga dijual disini
Melihat display berbagai jenis intan permata dan bebatuan lainnya saya justru pusing bukan karena kilauannya, tapi pusing menghitung jumlah nol di label harganya. Alamak jang! *garuk-garuk kepala lalu buang dompet ke tong sampah* Isi dompet saya tidak laku disini. Hahahahaha.. 

Namun batu intan permata di Martapura ini memang sangat indah dan meski cuma sekilas melihat proses penggosokannya yang ternyata cukup rumit dan penuh detail, saya jadi sedikit mengerti kenapa batu jenis ini dihargai begitu tinggi. Belum lagi kalau melihat proses pendulangan intan di sungai-sungai Martapura. Sayang saya belum berkesempatan untuk melihat proses pendulangannya. Mungkin lain kali. Insya Allah! (EKW) 

Translate

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...