Saturday, October 13, 2018

JURNALIS KOK NGEBLOG??

Pernah bekerja sebagai jurnalis beberapa tahun, dunia tulis menulis menjadi makanan sehari-hari dimanapun. Lalu setelah bekerja beberapa tahun pun
akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah blog. Lhoo kenapa?? Memangnya tidak capek menulis setiap saat? Sebegitu suka kah dengan dunia tulis menulis? Ahh tidak juga kok. Kadang kalau lagi suntuk atau mentok sih bisa aja tuh tidak menulis berhari-hari bahkan berminggu-minggu kok.

Tugas saya sebagai  seorang video jurnalis
Lalu kenapa jurnalis seperti saya ngeblog sih? Ini nih alasannya saya menulis blog.

1. Karena saya Textrovert
Beberapa teman dekat saya pasti paham terkadang saya kesulitan menyampaikan isi kepala saya kepada mereka. Terutama ketika ditanya pengalaman saat sedang traveling. Di otak mikirnya mangga, di mulutnya keluarnya Jambu. Kadang saya sudah menjelaskan panjang lebar tapi maksud yang tersampaikan berbeda. Hadeuhhh..

Wednesday, September 26, 2018

BERMAIN DI PERUT BUMI GOA TEMPURUNG, GOPENG

Meski saya pernah tergabung di organisasi pecinta alam kampus, namun ada beberapa kegiatan di alam yang justru belum pernah saya lakukan. Salah satunya adalah Caving atau penelusuran goa. Mungkin karena saya dulu lebih aktif di divisi Panjat Tebing dan Mounteneering daripada masuk-masuk goa. Lagipula sebenarnya saya rada claustrafobia, takut sama tempat sempit dan gelap.

Di Indonesia ada beberapa goa yang pernah saya masuki seperti goa Lawa di Purbalingga dan beberapa goa di daerah Sawarna. Karena goa-goa yang saya masuki ini memiliki areal yang cukup luas dan lebar maka rasa takut dengan perut bumi ini pun perlahan menghilang. Memang ya rasa takut itu harus dihadapi, bukan malah menghindari atau melarikan diri.

Baca Juga : Antara Lalay dan Langir

Saat bertandang ke negeri jiran Malaysia, saya sama sekali tidak kepikiran akan melakukan caving sama sekali. Secara biasanya cuma berkeliling di areal kota atau pinggiran kota sedikit deh. Namun tahun kemarin saya berkesempatan mengunjungi salah satu goa di daerah Gopeng, Perak, Malaysia. Kebetulan seorang teman punya klien yang akan membuat sebuah acara fun run di areal tersebut. Alhasil, saya yang saat itu memang sedang melakukan perjalanan birthday trip pun berkesempatan mengikuti tour atau survey di daerah tersebut. Anggaplah hadiah ulang tahun buat diri sendiri lah ya. hehehe..
Jalanan menuju ke perut bumi goa Tempurung, Gopeng, Perak, Malaysia

Wednesday, September 12, 2018

JANGAN SAMPAI BAPER DI BUKIT BAPER

Saat ini banyak bermunculan berbagai macam destinasi wisata di daerah, terutama yang mengusung tema tempat instagramable alias bagus buat foto-foto demi feed Instagram.

Saat diajak mengunjungi kota Tegal, Jawa Tengah, saya dan beberapa teman dari komunitas Couchsurfing Indonesia berkesempatan mengunjungi salah satu tempat di perbatasan Tegal - Brebes. Namanya bukit Baper. Kenapa dinamakan seperti itu? Katanya sih biar earcatching saja alias mudah dan enak didengar serta diingat orang. Hooh baiklah! 
Bukit Baper di Brebes, Jawa Tengah
Secara administrasi Bukit Baper ini sebenarnya terletak di desa Batursari, kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, provinsi Jawa Tengah. Dari Tegal perjalanan ke desa Batursari membutuhkan waktu sekitar hampir 2 jam. Lalu kenapa bukit ini lebih terkenal di Tegal? Ya karena orang lebih kenal dengan Tegal daripada Brebes. Buktinya? Kalau ditanya apa yang khas dari Tegal, pasti jawabannya banyak, mulai dari pantai, laut, pemandian air panas guci, gunung slamet, teh dan lain-lain. kalau Brebes? paling jawabannya bawang dan telor asin. Iya kan?! hehehe. 

Wednesday, September 5, 2018

MENCICIPI KULINER JAGUNG BOSE DI OELBITENO, NTT

Salah satu keuntungan menjadi jurnalis adalah saya punya beberapa kesempatan mengunjungi daerah atau desa yang bukan merupakan tujuan wisata. Beberapa desa yang letaknya jauh dari perkotaan dan memang tidak memiliki objek wisata, namun punya kesan tersendiri saat bertamu dan bercengkerama dengan penduduknya.

Saat berkunjung ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, saya berkesempatan mengunjungi sebuah desa bernama Oelbiteno. Apa yang menarik dari desa ini? Namanya unik euy. Hehehe. Terus terang kala itu saya butuh waktu agak lama untuk bisa melafalkan nama desa ini dengan benar.
Gerbang desa Oelbiteno, Nusa Tenggara Timur
Di desa ini saya bertemu dengan beberapa penduduk untuk melihat bagaimana mereka, terutama anak-anak belajar berkebun dan memanfaatkan air untuk pengairan dengan baik karena wilayah NTT termasuk daerah dengan iklim tropis hampir sepanjang tahun dan tekstur tanah yang kering dan tandus.

Wednesday, August 29, 2018

MANDI LUMPUR DI LABU KUBONG

Kapan terakhir kali kalian berlumuran lumpur?
Kalau saya sih mungkin waktu SD dulu saat main bola bersama teman-teman di Sorong, Papua Barat sambil hujan-hujanan. Seru sekali kenangan itu. Maklum, rumah saya di Sorong dikelilingi kebun dan rawa jadi kena air sedikit mah langsung lumpur dimana-mana.

Cuma sesi pemotretan di sawah Labu Kubong kok
Tahun lalu, saat menghadiri acara Social Influencer Fest 1.0 untuk campaign Visit Perak 2017, Malaysia, saya berkesempatan berkubang lumpur lagi. Kok bisa?

Salah satu agenda SIF 1.0 2017 adalah tinggal bersama penduduk setempat di beberapa daerah lewat program homestay. Selain homestay di Bagan Datok, saya dan seluruh peserta kembali ditempatkan di homestay di daerah Labu Kubong, Perak, Malaysia. Berbeda dengan daerah Bagan Datok yang dekat dengan wilayah muara sungai dan laut, Labu Kubong dikelilingi perbukitan dan sawah.

Baca Juga : Jadi Orang Lokal di Bagan Datok

Follow Me on