Wednesday, April 27, 2016

(FOTO) SUATU SORE DI BONTANG KUALA

Liputan ke Bontang kali ini terus terang sempat bikin saya rada-rada spaneng. Dengan durasi video yang diminta sebanyak 45 menit dan 15 menit, saya cuma dikasih waktu 2 hari 1 malam untuk liputan. Bahkan hari terakhirnya cuma sampai jam 12 siang karena harus kembali ke Balikpapan untuk mengejar pesawat malam ke Jakarta. FYI. Bontang - Balikpapan sekitar 6-7 jam perjalanan. Namun, meski dengan manyun tingkat dewa, namun tugas tetap harus tetap dijalankan. *Singsingkan lengan baju*
Hari pertama begitu sampai langsung berkeliling di kota Bontang demi stock shot gambar sebanyak-banyaknya. Menjelang sore, saya meminta untuk mengambil stock shot gambar di suatu tempat yang bagus untuk matahari terbenam. Saya pun dibawa ke daerah Bontang Kuala. Bontang Kuala adalah pemukiman masyarakat nelayan di kota Bontang yang terkenal sebagai kampung di atas air. Bontang Kuala juga menjadi awal berdirinya kota Bontang.

Wednesday, April 20, 2016

MENGHAPUS SUNTUK DI KEHENINGAN SEBESI

Suntuk!! Itu selalu merupakan kata yang tepat untuk diucapkan ketika ada teman sekantor yang bertanya mau kemana dan ngapain traveling ke suatu tempat. Kata itu juga yang membuat saya terpacu untuk segera pulang kantor, packing dan langsung mencari bus ke Lampung tanpa berpikir panjang lagi. Teman di Lampung yang saya hubungi juga heran kenapa tiba-tiba saya mau ke tempatnya "Iseng aja, lagi suntuk" jawab saya singkat.
Hari itu bertepatan dengan weekend menjelang hari pertama bulan Ramadhan, tepatnya 28 juni 2014, hanya berselang 1 hari sebelum puasa di mulai. Saya sudah nongkrong di pagi buta di pelabuhan Merak, sambil menunggu kapal yang menuju ke Bakauheni. Dengan petunjuk dari teman, maka sampailah saya di pasar Kalianda, Lampung sekitar pukul 09.00.

Wednesday, April 13, 2016

(FOTO) MENDUNG TEDUH DANAU TOBA VIA TOBASA

Pertama kali menginjakkan kaki di provinsi Sumatera Utara, saya ditugaskan untuk meliput di daerah kabupaten Toba Samosir. Kabupaten yang memiliki luas lebih dari 2.000 kilometer persegi ini terletak 250 kilometer dari kota Medan, atau sekitar 6-7 jam perjalanan. Senang deh rasanya kalau bisa dapat liputan ke tempat-tempat yang non-mainstream, karena sudah dipastikan alamnya masih terjaga dengan baik.
Danau Toba dari bukit Tarabunga, Balige
Saya mengunjungi Tobasa di bulan November 2013, tepat saat musim hujan dimulai di Tanah Air. Akibatnya, mendung menggelayut berhari-hari, bahkan ada satu hari dimana selama setengah hari saya tidak bisa kemana-mana karena hujan turun dengan derasnya. Meski demikian, pemandangan danau terbesar di Indonesia ini tetap memukau.

Wednesday, April 6, 2016

PAPEDA DALAM KETENANGAN SENTANI

Meski banyak huru-hara menyambut tugas negara ke Jayapura, saya akhirnya bisa meluangkan waktu untuk sejenak berada di tepi danau Sentani, Kabupaten Jayapura untuk sekedar duduk dan menikmati indahnya pemandangan di salah satu danau terbesar di Indonesia ini. Dengan luas areal mencapai 9360 hektar, setiap sudut danau Sentani bisa dinikmati dengan cara yang berbeda. Kali ini saya memilih untuk menikmatinya dengan sambil mencicipi kembali makanan khas Papua, Papeda!
Pernah tinggal di kota Sorong, Papua Barat selama 15 tahun membuat saya sudah terbiasa menikmati Papeda karena kadangkala Ibu saya suka memasak Papeda sendiri di rumah, terutama jika ada tamu dari luar kota yang datang. Namun terakhir kali saya mencicipi makanan ini hampir 10 tahun yang lalu, sekitar tahun 2007. Makanya begitu sampai di Jayapura, saya langsung minta ditemani ke restoran Yougwa di tepi danau Sentani untuk mencicipi kembali kuliner khas Papua ini.

Wednesday, March 30, 2016

RANDOM FACE

Setiap saya ditanya oleh teman ataupun orang yang baru kenal, saya berasal dari mana, saya selalu jawab Indonesia. Mereka pun pada protes dan berkata “Yaiyalah, maksud saya tuh dari suku mana?” dan saya pun tetap menjawab Indonesia sambil cengar-cengir melihat wajah teman yang manyun. Akhirnya pun saya menjelaskan “Bapak saya Jawa Tengah, ibu Saya Maluku Sulawesi Tenggara, saya sendiri lahir di Pati, Jawa Tengah tapi besar di kota Sorong, Papua Barat. Jadi kalau menurut kamu, saya orang apa?!” Dan akhirnya mereka pun setuju kalau saya orang Indonesia. Hahaha.
Keluarga saya, minus Alm. adik, Adi Wiratomo
Lahir dari orang tua lintas suku membuat wajah saya memang agak random gimana gitu. Sewaktu saya tinggal di Sorong, saya sering disebut sebagai orang Jawa. Meski saya sering ngotot kalau saya lebih suka disebut orang Maluku atau Sulawesi. Maklum, sewaktu kecil Bapak adalah seorang pelaut yang jarang di rumah. Jadi, saya jadi lebih dekat sama ibu dan tante saya yang Maluku Sulawesi Tenggara ini. Tapi tiap kali saya bilang ada keturunan Maluku, mereka selalu nyeletuk “Kok muka kamu gak kayak orang Ambon ya?!” Yaiyalah, Ibu saya Malukunya bukan dari Ambon, tapi dari pulau Banda Neira yang memiliki gen sedikit berbeda dengan orang Ambon.

Wednesday, March 23, 2016

BALADA KEMPING DI SEMAK DAUN

Ajakan-ajakan kemping di pulau kembali berdatangan. Kali ini di pulau Air. Sayangnya 2 minggu sebelumnya saya juga sudah berkunjung ke pulau Air sehingga saya pun menolak untuk ikut. Namun mengamati pembicaraan beberapa teman yang akan kesana, saya mulai khawatir, list logisitik terutama peralatan masak kelewat sedikit, dengan 10 orang, mereka cuma bawa 1 kompor mini dan dan 1 tabung gas hi-cook. Meski saya sudah ingatkan beberapa kali untuk membawa ekstra, ketua regunya masih ngasih berbagai alasan kalau peralatan segitu cukup.
Akhirnya di malam hari sembari tetap menyimak obrolan di grup whatsapp, saya memutuskan untuk ikut tanpa memberitahukan mereka dengan berbekal 1 kompor mini dan 2 gas hi cook plus peralatan makan dan beberapa sendok. Kebetulan beberapa bulan terakhir, setiap 2 minggu sekali saya selalu pergi ke pulau, entah sebagai peserta atau bawa orang untuk tour ke pulau seribu sehingga saya tahu betul dimana biasanya mereka berkumpul. Dan sudah dipastikan, mereka semua kaget pas melihat kedatangan saya di meeting point Muara Angke. *sepertinya saya jago nih jadi penyelusup ala mata-mata* Hehehehe.

Wednesday, March 16, 2016

MELEPAS RINDU DI CIKURAY

Sejak awal 2014, saya tak lagi menapakkan kaki di dinginnya hutan dan tingginya gunung. Trauma akibat pendakian di gunung Salak yang membawa pergi salah satu teman membuat saya kini lebih banyak menghabiskan waktu di pantai, pulau dan laut. Terkadang ada rasa ingin kembali berpetualang ke ketinggian yang menjulang di kejauhan. Namun, rasa takut selalu menyurutkan langkah untuk kesana. Berkali-kali tawaran menapakkan kaki di ketinggian itu saya tolak. Kalaupun ada, hanya gunung-gunung standar yg bisa didaki dalam hitungan 2-3 jam. Lebih dari 5 jam?! Sudah pasti hanya.gelengan kepala lirih yang bisa saya berikan. Bahkan tawaran ke gunung Gede yang sudah berkali-kali saya sambangi pun tetap saya tolak.
view gunung Cikuray sebelum pos pemancar
Hingga suatu saat teman menawarkan untuk mendaki puncak Cikuray. Saya masih meragu, namun tak ada gelengan kepala kali ini. Hanya senyuman dan kalimat "masih tentatif tapi Insya Allah ya" yang bisa terucap dengan gemuruh di dada yang memburu. Masih sanggupkah saya?! Masih takutkah saya?! Bagaimana jika hal itu terulang kembali?! Ahh.. tak sadar bulir-bulir airmata menetes di sudut mata.

Popular Posts

Follow Me on