Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

TRAVELING TANPA ITINERARY

Buat para traveler yang akan traveling pertama kali keluar negeri, negara-negara di Asia Tenggara sudah barang tentu menjadi incaran pertama karena kemudahan bebas visa hingga 45 hari. Saya pun tergolong traveler yang sering melakukan short escape ketika sudah mulai bosan atau sekedar meramaikan isi halaman di paspor. Hehehe.
Beberapa kali teman yang tahu saya sering bepergian, baik ke dalam maupun luar negeri, sering menanyakan iitinerary traveling ke suatu tempat. Terus terang, setiap dengar pertanyaan ini saya cuma bisa senyum sambil garuk-garuk kepala. Kenapa? Karena selama ini setiap saya traveling saya tidak pernah membuat itinerary sama sekali! Serius pakai banget!

TERTIDUR DI BENTENG PHRA SUMEN

Karena sebelumnya saya sudah pernah ke Bangkok dan mengunjungi Wat Arun, Wat Pho, Dusit Zoo, Vimanmek Mansion dan Grand Palace, saat kunjungan ke dua kalinya ini saya bingung mau kemana. Pengen ke Ayuthaya, tapi saya baru saja dari Angkor Wat yang begitu mempesona dan membekas di hati sehingga saya takut njomplang dan kecewa saat mengunjungi Ayuthaya nantinya. Akhirnya saya memutuskan akan mengunjungi Ayuthaya di lain waktu.
Baca juga : Mengenal Kawasan Angkor di Siem Reap
Untungnya hostel tempat saya menginap punya beberapa peta objek wisata yang bisa dipinjam sehingga selama beberapa hari peta tersebut saya bawa kemana-mana. Secara saya orangnya memang suka wisata sejarah dan budaya, maka tentu saja incaranya ya objek-objek wisata tersebut lah ya. Setelah hampir 2 jam melihat peta dan menimbang-nimbang sambil ngunyah sarapan di hostel, akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi sebuah benteng di tepi sungai Chao Phraya. Benteng itu adalah Phra Sumen. Sebelum pergi kesini saya sempa…

(REVIEW) KOSMETIK HALAL AMALIA YANG NYAMAN DIPAKAI

Sewaktu di event Social Influencer Fest 2017, saya telah dipaksa oleh Tari untuk menggunakan lipstick merah ngejrengnya saat foto-foto di salah satu resort di Perak. Saya yang selama ini biasanya pakai lipstick warna netral atau nude, atau yang warna gelap, kaget juga pas lihat hasilnya. Ternyata bagus di kamera euy. Sejak saat itu jadi kepingin punya lipstick merah sendiri.
Alhamdulillah, semesta mendukung keinginan saya dan membuat saya mendapatkan sepaket kosmetik dari Amalia Halal Beauty dan ada lipstick merahnya dong. Hore!! *sorak-sorai bergembira*
Mungkin belum banyak yang tahu soal produk kosmetik Amalia. Brand ini pertama kali diluncurkan awal tahun 2017. Untuk saat ini Amalia hanya berfokus pada rangkaian lipstick, lipcream dan bedak two way cake saja.

5 THINGS TO DO IN BUKIT MERAH LAKETOWN RESORT, TAIPING

Selama rangkaian acara Social Influencer Fest 2017 di bulan Mei kemaren, jadwalnya padat luar biasa. Ada beberapa hari dimana tidur terasa kurang nyenyak karena padatnya kegiatan. Thanks GOD, salah satu akomodasi kita menginap di Bukit Merah Laketown Resort selama 2 hari 2 malam, karena hari pertama kita sampai disini tengah malam euy, yang bisa bikin istirahat jadi lebih panjang tanpa harus bangun pagi-pagi dan langsung packing.
Lalu ngapain saja selama 2  hari 2 malam di resort yang terletak di perbatasan Perak dan Penang ini?
1. Lomba Kayak
Kalau di Perak Agrotourism Resort kita dipersilakan melakukan kayak sebagai refreshing, di Bukit Merah kita ditantang buat lomba kayak dong! Gak tanggung-tanggung, lomba kayak harus dilakukan 2 kali putaran, oper estafet bendera dan ngiterin seperempat danau Bukit Merah! Adrenalin dan energi yang terpacu dan terkuras abis bikin sebagian peserta cewek tepar setelahnya. Hahahaha. Saya yang kadang-kadang suka mendayung saja baru kali ini kedua le…

KETIKA LUKA BUMI DIPANDANG INDAH

Ada beberapa tempat traveling yang sebenarnya bukan objek wisata yang layak dikunjungi. Contohnya saat saya berada di daerah Singkawang Kalimantan Barat. Saat saya bertemu Dinas Pariwisata daerahnya dan menyebutkan nama sebuah tempat yang berdasarkan hasil ‘wejangan mbah’ Google,  objek ini termasuk wisata yang harus dikunjungi jika sedang berada di daerah tersebut. Dan tahu tidak bagaimana reaksi orang Dinparnya? Saling pandang satu sama lain dan malah nanya balik, “itu ada di daerah sini sebelah mana ya???” Jiahhahahaa. *ngakak guling-guling sambil garuk-garuk kepala*. Ternyata setelah kita tunjukkan foto tempatnya, orang Dinparnya cuma ber’ohh’ ria sambil bilang “itu bukan objek wisata  selain karena itu cuma bekas tambang yang tergenang, daerah sekitar situ itu tempat pembuangan sampah akhir kota ini lho”. Gedubrak! Ternyata the power of social media yang bikin foto-foto terlihat ciamik membuat bekas galian tambang pun disulap terlihat indah di pigura kamera.
Ya! Bekas tambang. K…

(REVIEW) HIJAB FRESH FOR HIJABER TRAVELER

Namanya cewek jilbaber atau hijaber yang doyan traveling macam saya, berpanas-panas ria saat traveling bukanlah masalah besar. Kulit kering pun cuekin saja demi tercapainya hasrat traveling kemana saja di muka bumi ini. Pulang-pulang kulit kering dan dekil mah sudah biasa. Lalu kalau ada yang nyeletuk “Makin iteman, ndah” biasanya saya ngeles dengan menjawab “Ahh nggak kok, Cuma makin eksotis aja nih kulitnya. Maklum, mataharinya lagi sayang-sayangnya sama kulit saya”. Wkwkwkwk.
Namun sekarang problema itu sudah bukan masalah lagi karena sudah ada produk hand and body lotion yang dikhususkan untuk para hijaber traveler seperti saya dan kalian yang hobi traveling. Namanya Hijab Fresh. Hijab fresh adalah perawatan kulit atau skin care terbaru dari Unilever yang dirancang khusus bagi para hijaber.

SUSAH SENANG CARI MAKANAN HALAL DI KAMBOJA

Sewaktu memutuskan untuk traveling ke Siem Reap, Kamboja, itu dikarenakan khilaf lihat tiket pesawat 85 ringgit alias 260ribuan saja oleh Air Asia. Itupun karena jadwal berangkatnya yang cuma berselang 3 hari dari waktu beli tiket. Maklum saat itu waktu traveling di Malaysia sudah hampir habis jatah free visa sehingga harus segera keluar dan Kamboja lah jadi negara tujuan berikutnya karena harga tiket pesawatnya yang bikin saya tidak pakai mikir belinya. Hehehe.
Meski tinggal 2 hari lagi akan berangkat ke Siem Reap, saya masih menyempatkan diri untuk sekedar membaca-baca mengenai negara ini. Maklum, saya belum pernah kesana sebelumnya dan saya hanya tahu di Siem Reap ada Angkor Wat Archeological Park yang wajib dikunjungi. Sisanya saya buta sama sekali tentang negara ini.
Baca juga : Mengenal Kawasan Angkor di Siem Reap
Setelah baca-baca artikel soal kamboja, mendadak saya parno sendiri, bahkan sehari sebelum berangkat saya sempat nangis di kamar mandi karena ketakutan. Ini serius!…

ROADTRIP KAMBOJA – THAILAND : HURU-HARA DI PERBATASAN

Kalau lagi jalan ke negeri lain yang bahasa aslinya bukan Melayu atau Inggris itu rasanya roaming luar biasa deh. Rasanya ingin punya pendamping doraemon biar bisa minta jelly penerjemahnya. Begitu pula saat saya memutuskan untuk melakukan roadtrip dari Siem Reap, Kamboja menuju Bangkok, Thailand. Selama di tengah kota Siem Reap sih kebanyakan masih menggunakan bahasa Inggris karena merupakan kota wisata, booking bus menuju kota perbatasan Poi Pet, Kamboja  pun bisa lewat hostel yang saya inapi selama 3 malam tanpa kesulitan.

Bus yang saya tumpangi ke perbatasan Kamboja – Thailand seharga 8 USD itu sudah standby di depan hostel pukul 07.30 waktu setempat dan pukul 08.00 pun berangkat menuju ke Poi Pet. Oh ya, harga bus Siem Reap – Bangkok sebenarnya hanya 12 USD, cuma beda 4 USD saja. Namun karena saya ingin merasakan langsung suasana perbatasan dan naik kereta dari Aranyaprathet ke Bangkok, makanya saya memilih tiket bus cuma sampai Poi Pet saja.

MENJADI TRAVELER GEOSPASIAL

Bulan Maret tahun ini, saya berkesempatan untuk melintas wilayah perbatasan 3 negara yaitu Kamboja, Thailand dan Malaysia lewat jalur darat. Sejak kecil saya sudah dibiasakan oleh orangtua saya untuk menikmati dan mengamati semua hal di perjalanan terutama bentang alamnya. Itu sebabnya sejak kecil,  Geografi selalu menjadi pelajaran favorit saya. Senang rasanya bisa melihat dunia lain di selembar peta di tangan saya. Itu sebabnya meski berada di negara lain, seperti Kamboja, Thailand dan Malaysia, saya tetap memilih jalur darat untuk memuaskan hasrat melihat bentang geografisnya.  Menikmati panasnya udara persawahan dan kota serta megahnya situs Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja, menikmati semilir angin di bawah pepohonan benteng Fort Sumen Phra di tepi sungai Chao Phra Ya di Bangkok, Thailand, atau merasakan dinginnya aroma gua Tempurung di wilayah Perak, Malaysia menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Baca juga : Mengenal Kawasan Angkor di Siem Reap, Kamboja.

BUKU DI BULAN SEPTEMBER

September 2015

Sebuah email masuk ke inbox saya:

"Assalamualaikum Wr.Wb
Hai Mba Endah, selamat siang...

Perkenalkan saya Risa dari Redaksi Buku Traveling, Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.

Langsung saja ya, Mba…
Saya sangat tertarik dengan postingan Mba di instagram, yang pada akhirnya membawa saya mengunjungi blog Mba Endah dan langsung membayangkan apabila pengalaman traveling dan foto-foto hasil jepretan Mba dibukukan.. ..."

Ehhh serius itu emailnya?? Saya sampai baca setidaknya 3 kali lho itu email untuk memastikan saya beneran orang yang dituju. Perasaan sih blog saya masih belum punya banyak artikel deh.. *ehh sekarang juga masih belum banyak kok, masih di bawah 200 artikel di blog ini* Instagram aja juga masih di bawah 500 followernya saat itu.. Ahh mungkin cuma halusinasi. Dan email itu pun mengendap selama 24 jam di inbox. *lanjut kerja*

MENGENAL KAWASAN ANGKOR DI SIEM REAP

Kalau ditanya objek wisata di Kamboja yang paling terkenal, tentu saja Angkor Wat akan berada di list pertama. Kawasan kuil terbesar di Kamboja ini telah masuk sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1992. Angkor yang terletak sejauh 5,5 kilometer dari pusat kota Siem Reap ini menjadi agenda wajib yang harus dikunjungi oleh setiap traveler yang berkunjung ke Kamboja.
Tiket masuk menuju kawasan Angkor terbagi menjadi 3 jenis, tiket satu hari, 3 hari dan 7 hari. harganya pun berbeda-beda. Per bulan Maret 2017 (waktu saya mengunjungi Angkor Wat), tiket 1 hari seharga 37 USD, tiket terusan 3 hari seharga 62 USD, dan tiket untuk 7 hari seharga 72 USD. Secaranya keesokan harinya saya akan meneruskan perjalanan ke Thailand, maka tiket untuk 1 hari lah yang saya beli, dan setelahnya saya menyesal beli tiket ini. Kenapa? Baca saja sampai selesai ya. hehehe.

Dengan luas kawasan mencapai 400 kilometer persegi, Angkor Archeological Park sebenarnya adalah kawasan kerajaan kun…

SA TRA TAU, TRA PAKE SPASI

Jayapura, Papua

Meski saya sudah tinggal di kota Sorong, jauh sebelum Papua mekar jadi 2 Provinsi, bahkan dulu masih memakai nama provinsi Irian Jaya, namun saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di wilayah lain Papua selain kota Sorong. Yeah! 15 tahun saya cuma nangkring dan guling-guling di jalanan kota Sorong saja euy. *entah harus sedih atau senang*. Makanya saat diberi tugas untuk meliput di kota ini, saya cuma bisa cengar-cengir kesenangan sambil berusaha menahan hasrat pengen guling-guling di lantai kantor. Hehehehe.
Perjalanan Jakarta - Jayapura dengan total 5 jam perjalanan pun nyaris tidak berasa. Yaiyalah. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat saya tertidur pulas karena itu merupakan penerbangan malam. Wkwkwkwk. Sekitar jam 10 pagi waktu setempat di Jayapura, saya pun mendarat di bandara Sentani. Yoo Hoo.  Satu lagi provinsi yang telah saya pijaki di Nusantara ini. *coret daftar list provinsi yang harus didatangi*
Namanya jurnalis, begitu sampai di suatu kota itu buka…

BALADA FREELANCER

Sejak memutuskan resign dan jadi freelancer itu rasanya hidup luntang-lantung banget. Dengan modal hape dan laptop, lalu kehabisan kuota internet, alhasil menyambangi cafe atau coffee shop yang punya wifi kencang demi bisa berselancar manja di dunia maya. *fakir wifi* Padahal mah kalau dihitung-hitung uang yang keluar buat jajan di cafe demi wifi gratis ama beli kuota mah banyakan jajan nya lho.. *bilang aja mau nongkrong di cafe biar dikata anak kekinian* hahahaha.
Trus kalau nongkrong di cafe tuh ya bawaannya laperan dan baperan. Laperan  karena tidak mungkin kan ya situ nongkrong di cafe cuma mesan air mineral aja kan? Pasti mesan menu itu dan ini buat teman camilan. Lalu baper? Yaiyalah.. yang datang ke cafe mah biasanya kalau gak se geng ya sama pasangan dong. Jomblo macam saya mah cuma bisa gigit camilan kalau liat ada yang PDA di sekitarnya. *sambit pakai gelas kopi*

Cuma beberapa bulan terakhir ini aktivitas freelancer saya sangat terganggu dengan rusaknya separuh nyawa saya s…

SERU-SERUAN DI PATRO

Setelah menjajal Homestay, Hotel, dan Hostel, kali ini saya menjajal menginap di resort. Iyaa resort. Namanya Perak Agrotourism Resort yang terletak Tanjung Tualang, Perak, Malaysia, yang disingkat menjadi PATRO. Ini adalah salah satu akomodasi para peserta di Social Influencer Fest 2017 untuk melakukan rangkaian kunjungan #VisitPerak2017.
Begitu memasuki gerbang depan Patro, kami diharuskan turun dari bus dan berganti dengan kendaraan buggy. Bus besar tidak boleh memasuki wilayah Patro lebih dalam karena desain jalanan yang memang hanya dikhususkan untuk kendaraan kecil saja. Oh ya.. Dari gerbang depan, wilayah resortnya belum keliatan tuh. Cuma terlihat tanaman, semak dan pepohonan saja sejauh mata memandang.

Selama kurang lebih 10 menit memasuki Patro dengan buggy, baru lah terlihat sebuang bangunan yang ternyata restoran yang berada di pinggiran danau yang asri. Setelah mendapatkan kunci villa, saya dan Tari yang kebetulan satu kamar langsung naik buggy lagi menuju villa yang dima…

GEGAR BUDAYA INDONESIA - MALAYSIA

Sebagai negara tetangga terdekat, Malaysia memang paling sering dikunjungi wisatawan Indonesia, baik buat yang baru pertama kali ke luar negeri ataupun yang pengen sekedar short escape liburan ke negeri Jiran ini. Saya termasuk yang kadang-kadang main dan melakukan short escape dulu di kala masih kerja kantoran. Paling lama ke Malaysia kala itu hanya 5 hari di kota Kinabalu, Sabah.


Namun tepat di akhir tahun 2016, usai resign dari kantor di bilangan Palmerah, saya mendapatkan kesempatan untuk traveling lebih lama di Malaysia. Tidak tanggung-tanggung, selama 4 bulan kerjaan saya mondar-mandir Jakarta - Kuala Lumpur.  Lama tinggal di negera ini membuat saya merasakan sedikit gegar budaya antara Indonesia dan Malaysia, meskipun serumpun. Ini beberapa AHA Moment perbedaan yang sempat bikin saya shock

JADI ORANG LOKAL DI BAGAN DATOK

Kalau traveling itu memang paling enak tinggal di hostel karena bisa kenalan dengan berbagai traveler dari belahan dunia lainnya. Lalu bagaimana caranya biar bisa traveling dan merasakan cara hidup orang lokal di negara tersebut?? Homestay adalah jawabannya. Seperti saat saya diundang menghadiri acara Social Influencer Fest 2017 di Perak, Malaysia, saya berkesempatan untuk tinggal di homestay di daerah Bagan Datok.

Bagan Datok merupakan kota kecil yang terletak sejauh 130 kilometer dari ibukota Perak, Ipoh, tepatnya berada di bagian timur laut negeri Perak. Di kota seluas 166 kilometer persegi saya dan beberapa partisipan SIF 2017 dari 10 negara tinggal di homestay untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi orang lokal di Malaysia.

Homestay yang saya tinggali dimiliki oleh seorang suami istri yaitu makcik Minah dan pakcik Roslan. Rumah panggung ala Melayu yang kental, mungkin buat yang tinggal di daerah pedesaaan Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi pasti akan merasa home sweet home bang…

JURNALIS VS BLOGGER

"Suka nulis dari kapan?" "Oh jurnalis tohh.. pantes tulisannya bagus" "Gimana sih biar bisa nulis dengan baik?!" "Nyari ide atau inspirasinya dimana?"
Mungkin itu adalah beberapa deretan pertanyaan yang sering saya dapatkan ketika orang-orang mengetahui pekerjaan saya, sebagai jurnalis sekaligus blogger. Tapi, percayalah, meski pekerjaan saya dekat sama dunia tulis menulis tidak lantas membuat saya bisa menulis dengan baik. Bahkan hingga tulisan ini saya buat (22 maret 2016) saya masih sering ditegur sama produser soal menulis naskah.
"Endah, ini kenapa naskah macam press release?? Emangnya kamu humasnya tuh orang?!" "Ini tulisan kamu mau menjelaskan apa sih? Anglenya darimana?" "Jangan pakai angle yang ini, sudah terlalu biasa, cari angle lain sana trus tulis ulang naskahnya"  "Endah, abis liputan mana naskahnya?? Buruuuu.."

NGAJAR NEKAD DI SIEM REAP

Kalau lihat tiket promo itu memang sering bikin khilaf ya. Apalagi kalau di tabungan masih ada beberapa recehan, langsung booking deh. Begitu pula saat saya sedang di Kuala Lumpur dan melihat promo tiket KL - Siem Reap seharga 85 ringgit. Langsung sikat!! Hohohoho.. *Khilaf mode ON* Dan 2 hari kemudian saya langsung terbang menuju salah satu provinsi di Kamboja itu.

Lalu, mau ngapain saya di Siem Reap? Entah!! Hahahaha.

Hasil ngecek-ngecek beberapa teman di Couchsurfing lokal, saya menemukan komunitas bernama JB Foundation yang membuat sekolah gratis untuk anak-anak di sebuah pedesaan tak jauh dari kota Siem Reap. Sekolah ini mengajarkan bahasa inggris secara cuma-cuma kepada anak-anak desa dan mereka menerima sukarelawan yang mau mengajar disana.

WHAT WOULD I THINKING???

What would I thinking when assign myself to teach kids on rural area of Cambodia??

Honestly, I didn't think at all. At All!!  I just did. Because i know maybe it's a once in a lifetime experience and i have to take that opportunity. Beside that, i ever living in rural area as well so I know how difficult to get a proper education and/or experience something extraordinary from people outside your area.

Why would I do things that i never do before??

Why not! In my life and everyone life, there's always a chance to experience something for the first time. First time traveling, first time traveling alone, first time traveling alone to another country, first time teaching, first time teaching on another country and another first time experience. So this is my first time traveling to cambodia, alone and teaching in rural area on another country.


Do I scared??

Trust me, I'm scared myself to death. Hahaha. But I think you will remember and then smile about your scary lifetime …

BASAH KERING DI ROYAL BELUM

Dapat undangan blogger trip ke salah satu negara bagian di Malaysia, Perak tentu saja bikin saya kegirangan *norak-norak bergembira*. Hehehhehe.. Selama 10 hari perjalanan tersebut, saya dan 20 orang blogger, youtuber dan social influencer dari 10 negara mendapatkan kesempatan untuk ngubek-ngubek negara bagian di Malaysia yang mendapat predikat 9th best region to visit in the world oleh Lonely Planet ini.

Salah satu destinasi yang dituju adalah taman nasional Royal Belum yang terbentang di perbatasan Malaysia-Thailand ini. Hutan di taman nasional ini telah berusia 130 juta tahun, bahkan lebih tua dari hutan amazon lho. Kita berkesempatan berkeliling di danau Temenggor, danau buatan terbesar di Malaysia yang dibuat pada tahun 1975 dengan menggunakan house boat selama 2 hari 1 malam.

SENJA DI PUTRAJAYA

Saya menemani teman dari Lampung untuk menikmati sunset di Putrajaya, Selangor, Malaysia. Saat itu, kamera DSLR saya sedang hibernasi di service center karena kehabisan shutter count. Alhasil, semua foto-foto disini diambil menggunakan kamera smartphone saya yang kualitasnya mungkin tidak seberapa bagus. Namun, momen senja di Putrajaya yang terasa syahdu itu rasanya sayang bila hanya dibiarkan teronggok di folder harddisk.

Meski mendung pekat menggelayut di langit sore itu, namun senja di Putrajaya tetap syahdu dinikmati dari pinggiran danau buatan terbesar di Putrajaya ini. (EKW)

TEMAN SOLO TRAVELER

Jadi solo traveler itu suka-suka deh. Solo traveler itu intinya bebas! bebas mo kapan aja beli tiket, bebas mau ke destinasi mana aja, bebas mo tidur ampe siang apa mo begadang ampe 36 jam, bebas tidak mau mandi 3 hari apa mo mandi tiap 3 jam sekali. Pokoknya bebaskan dirimu. *bukan tagline iklan lho ya*


Tapi dibalik semua kebebasan itu, ada juga sih dukanya. Kalau lagi butuh teman diskusi buat itin ngomong sama siapa coba.. sama tembok?? apalagi yang masih jomblo, lengkap sudahlah penderitaan kamu jadi solo traveler *ngomong sama diri sendiri di cermin lalu nangis di pojokan kamar* hiks.. hiks.. hiks..

Baru-baru ini saya berkenalan sama bang Joni yang kocak dan bersedia jadi asisten pribadi saya. *Ciee, punya asisten pribadi* Si Bang Joni ini banyak ngasih info buat bikin itin jadi tidak berasa kesepian lagi deh. Ciee siapa tuh bang joni?? *cihh.. kepo aja deh kalian ini*. Secara saya orangnya baik *kibas jilbab* maka saya perkenalkan nih sama si Bang Joni.


(REVIEW) HOMMY-NYA HOME MALI HOSTEL, BANGKOK

Jalan jalan itu enak.. Kalau duit di tabungan masih banyak.. yaiyalah.. hahahaha.. Kalau udh mulai tiris tuh mulai deh nyari-nyari paket hemat dimana-mana, terutama penginapan murah.

Saya yang sehabis dari Kamboja dan sedikit shock dengan penggunaan uang dollar amerika di negara itu, saat memasuki wilayah negara Thailand, uang sudah tersisa 2690 baht. Beruntung di hari pertama ketemu teman CS Indonesia yg lagi di Bangkok jadi bisa nebeng di hotelnya di daerah Nothanburi. (padahal saya juga sudah menawarkan share cost hotel lho) hehehe.. Makasih Wiwin.

Hari kedua, saya pun berkeliaran di sekitar jalan Petchaburi karena seperti yang sudah pernah tuliskan di artikel Malas Riset, Sesat di Bangkok setahun yang lalu, jalan ini mudah ditemui makanan halal. Setelah beberapa kali melihat-lihat hostel/penginapan di jalan ini, maka pilihan saya pun jatuh pada Home Mali Hostel.
Alasannya? Simpel. Usai bertanya harga, mereka langsung mengajak saya melihat isi kamar bunkbednya dengan sukarela, se…

VISIT PERAK YUKSS!!

Perak. Salah satu negara bagian di Malaysia. Yup, negari jiran ini memang terbagi menjadi 13 negara bagian dan satu wilayah persekutuan. Kalian mungkin familiar dengan wilayah persekutuan Kuala Lumpur, negara bagian Sabah, Sarawak, Johor Bahru, Melaka dan Penang. Tahun ini saya mendapatkan kesempatan untuk sedikit ngubek-ngubek negara bagian Perak yang sebenarnya tidak jauh dari ibukota Malaysia, cuma sekitar 2 sampai 3 jam naik bis ataupun kereta.
Negara bagian Perak beribukota Ipoh dengan bendera putih kuning hitamnya. Makanya jangan heran kalau jalan-jalan di Malaysia pasti ada 2 bendera bertengger di halaman rumah atau kantor, yang satu bendera negara Malaysia, yang satunya lagi bendera negara bagian.

Setelah beberapa minggu hilir mudik di beberapa tempat di Perak, ini lah beberapa kota yang menurut saya rekomendasi untuk dikunjungi untuk bisa mengenal lebih jauh seperti apa negara bagian Perak, Malaysia ini.

DALAM DIAM DI BEBATUAN KOLBANO

Batu. Batu. Banyak batu di pantai ini. Batu-batu putih dan beberapa warna pastel lainya dengan berbagai ukuran. Saya tidak mengira jika pantai ini 80 persen pantainya tertutupi oleh bebatuan tersebut. Saya hanya tahu nama Kolbano cukup sering terdengar di antara para traveler dan dunia maya sebagai pantai yang eksotis. Kolbano, yang juga merupakan nama desa tempat pantai ini berada terletak di kabupaten Timur Tengah Selatan, provinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak dari pusat kota Kupang sekitar 4 jam perjalanan.

Hari itu masih pagi, pukul 08.00 waktu setempat. Hanya kami yang datang hari itu. Mendung yang menyelimuti hingga batas horizon masih menggelayut anggun di udara. Saya beranjak ke sebuah kedai kecil di tepi jalan. "Kopi susunya satu ya bu". Secangkir kopi susu panas pun menghampiriku 10 menit kemudian. "Silakan kalau mau dibawa ke pantai" ujar si ibu dengan guratan tua dan senyum di wajahnya.

SALAH SANGKA DI AIR TERJUN OEHALA

Jadi jurnalis itu meski sering dapat tugas negara yang jadwalnya luar biasa padatnya, tapi terkadang bisa juga tuh dapat waktu kosong seharian. Contohnya saat saya ditugaskan ke Kupang, setelah komunikasi dengan narasumber yang bersangkutan ternyata dia tidak bisa bertemu esok hari karena masih di kota lain. Otomatis jadwal satu hari langsung kosong karena seharusnya saya mengikuti jadwal narasumber tersebut seharian. Terus kalau dapat jadwal kosong ngapain dong?! Ya cari spot menarik untuk dikunjungi lahhh. Sayang-sayang mobil rental kalau nganggur seharian, apalagi kantor yang bayarin. Hahahaha.


Tanya-tanya sama supir yang orang lokal, dia pun menawarkan untuk melihat air terjun di daerah Soe. Hehh?! Nusa Tenggara punya air terjun? Bukannya ini daerah dataran rendah ya?! Hmm. Sebaiknya mari kita kunjungi air terjun yang katanya air terjun paling bagus di kabupaten Timur Tengah Selatan itu meski ekspektasi saya tidak terlalu yakin dengan kata "bagus" karena notabene pulau T…

(FOTO) LENGANG DI LENGGANG

Sungai Lenggang, Desa Lenggang, kecamatan Gantung, kabupaten Belitung Timur

DARI PANTAI KE PANTAI BELITUNG

Namanya provinsi dengan nama kepulauan mah sudah pasti Bangka Belitung dikelilingi dengan garis pantai yang panjangnya mencapai 1200 km. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ehh 3 hari 2 malam sih, saya dan teman menyambangi beberapa pantai di sepanjang 2 kabupaten di pulau Belitung. Siapa tahu bisa jadi rekomendasi buat yang mau main-main ke Belitung.
1. Pantai Tanjung Pendam
Pantai yang terletak di kabupaten Belitung Barat ini adalah pantai yang pertama kali saya kunjungi begitu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di provinsi Bangka Belitung. Pantai ini menjadi salah satu tujuan utama karena terletak di pusat kota Tanjung Pandan. Di pantai seluas 22  hektar ini merupakan salah tempat yang menghubungkan pulau Belitung dengan beberapa pulau kecil lainnya.