Wednesday, December 23, 2015

IRONI DI BATAS SENJA

Entah berapa folder foto yang saat ini saya miliki pasti hampir semuanya berisi foto berwarna jingga dari turun atau terbitnya sang surya. Entah berapa puluh angle yang saya gunakan demi hasil foto sunset dan sunrise yang lain dari biasanya, bukan hanya sekedar bulatan berwarna jingga di batas horison.

Hingga suatu ketika, saya terduduk diam di sudut pantai pulau Air, Kepulauan Seribu. Menggenggam kamera di pangkauan sambil menatap mentari yang perlahan turun ke peraduan. Saya benar-benar tidak mempedulikan teriakan teman-teman saya saat itu yang berkata "Endah, foto! Sunsetnya lagi keren tuh". Entah mengapa, Saat itu saya sedang berada di titik jenuh. Saya tak mau lagi merekam gambar lewat mata kamera. Saya hanya ingin merekam warna sang senja kali ini lewat mata dan hati saya.

Wednesday, December 16, 2015

NYASAR DI MALL KUALA LUMPUR

Hampir semua teman dekat saya tahu bahwa kalau saya masuk mall pasti nyasar. Cuma beberapa mall yang bisa saya masuki tanpa kesasar seperti Margo City dan Cilandak Town Square karena cuma punya 2 atau 3 lantai dan area depan dan belakang. Mall sekelas ITC Cempaka Putih, Thamrin City, apalagi Mall of Indonesia pasti saya butuh waktu setidaknya 20 menit untuk menemukan pintu keluar yang sama ketika saya masuk.

Demikian juga saat pertama kali ke Kuala Lumpur. Tanpa bekal peta apapun, saya tidak tahu kalau yang namanya KL sentral itu terintegrasi dengan mall NU sentral. Akibatnya, buat keluar dari tempat turun bus menuju ke area hostel yang berada tepat depan mall saja saya berputar-putar sampai hampir 1 jam dan keluar di pintu yang salah beberapa kali. Tiap kali keluar pintu ketemunya gedung-gedung pencakar langit melulu. Ehh itu ruko-ruko yang banyak penginapan dan cafe dimana ya?! *garuk-garuk kepala sambil sok sibuk mainin hape padahal tidak ada sinyal wifi yang nyambung juga* *jedotin kepala ke tembok*

Wednesday, November 18, 2015

SEDAP GURIH KAPAU UNI LIS

Main-main ke Sumatera Barat, terutama kota Bukittinggi rasanya kurang sempurna kalau tidak mencicipi nasi kapau. Namun mencari nasi kapau yang benar-benar enak, enak di lidah dan enak di kantong memang tidak mudah. "Saya pernah makan di nasi kapau Bukittingi dan pas bayar kena 'tembak' 60 ribu dong ndah. Mana rasanya biasa aja lagi. Hadeuhh" keluh seorang teman saat menceritakan pengalamannya di Bukittinggi. Makanya saat supir mengajak makan nasi kapau, saya bersikap 'antara mau dan tidak mau tapi terserah deh soalnya saya lapar' Wkwkwkwk..

Wednesday, November 4, 2015

ZONK DI FORT DE COCK

Mendengar ada bangunan bersejarah di Bukittinggi berupa benteng, saya langsung antusias. Apalagi supir sempat bilang kita sudah melewati wilayah benteng itu beberapa kali dalam sehari bikin saya tambah penasaran. "Letaknya diatas bukit itu tuh, ketutupan sama pepohonan" jelas pak sopir saat kami melewatinya untuk kesekian kalinya hari itu. *mana.. mana.. mana bentengnya* *kemal = kepo maksimal*.


"Ngapain kesana? emang harus ada gambar benteng?" tanya team leader saat saya bilang mau kesana. "Iya, kan butuh gambar icon kota. Bukittinggi selain Jam Gadang, benteng itu termasuk dalam icon kota ini kan?!" nyari-nyari alasan sambil melemparkan senyuman penuh arti ke sopir dan disambut dengan anggukan. "Ohh.. yaudah, kamu sama fotografer kesana, saya dan penulis ketemu kepala dinas kebersihan kota dulu ya, nanti kita nyusul kesana" Yes! Kita ke benteng *sorak-sorai bergembira*

Wednesday, October 14, 2015

JEJAK PROKLAMATOR DI BENCOOLEN

Saya memang cuma numpang transit di Bengkulu. Namun meski sekilas menapakkan kaki disini, saya baru mengetahui bahwa sang proklamator pernah diasingkan disini. *belajar sejarah lagi yuks*

Ir Soekarno atau akrab disapa Bung Karno pernah diasingkan di Bengkulu pada tahun 1938 hingga 1942. Jejak Sang Proklamator ini masih bisa terlihat dengan jelas di berbagai sudut kota yang pada masa penjajahan Inggris, disebut sebagai kota Bencoolen.

Langkah awal saya mengetahui keberadaan Bung Karno di Bengkulu adalah lewat Masjid Jamik, di pusat kota Bengkulu. Masjid yang dimanfaatkan warga untuk beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan ini merupakan hasil karya arsitektur Bung Karno. Masjid yang berlokasi di Kelurahan Pengantunan ini dibangun pada tahun 1938 serta dirancang bahkan dibangun oleh beliau sendiri. Karena bernilai sejarah tinggi, Masjid Jamik pun dijadikan salah satu cagar budaya di Bengkulu.

Wednesday, October 7, 2015

DUDUK DIAM DI JAM GADANG, BUKITTINGGI

Saya: Wahh.. kita dinas ke Sumatera Barat. Wajib ambil gambar ikon Sumbar nih. yuks ke Jam Gadang..
Teman : Jauh Endah.. itu letaknya 4 jam dari Padang..
Saya: ohh kalau begitu Istana Pagaruyung aja yukss...
Teman : itu juga jauh Endah.. dua-duanya adanya di Bukittinggi sanaaaa..
Saya : ohhh hahahhaha.. gak tau saya.. *ketawa garing*
Sekelumit obrolan itu menjadi awal perjalanan saya ke wilayah Sumatera Barat. Buat yang mengira seorang jurnalis seperti saya akan tahu segalanya, itu tidak berlaku bagi saya, terutama kalau saya belum pernah mengunjungi daerah tersebut. Sampai saya menjejakkan kaki di Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat, saya tidak tahu kalau ikon Sumatera Barat, Jam Gadang dan Istana Pagaruyung ternyata bukan di ibukota Sumatera Barat, Padang, tapi terletak di Bukittinggi, kabupaten yang letaknya 4 jam dari Padang. *toyor-toyorin kepala sendiri*

Wednesday, September 30, 2015

NUMPANG TRANSIT DI BENGKULU

"Bandara Jambi masih tutup (karena kabut asap), kita harus lewat kota lain, Bagaimana kalau kita lewat Bengkulu saja?"
"Bengkulu lagi" Serempak saya, fotografer dan penulis berucap demikian. Harap maklum, 2 hari yang lalu usai menuntaskan dinas luar kota di Sumatera Barat, narasumber terakhir di Bengkulu mendadak membatalkan janji saat kendaraan kami baru memasuki perbatasan Sumatera Barat - Bengkulu. Alhasil, sore itu juga kami langsung pulang ke Jakarta. Hari ini, kami menuju Bengkulu kembali dengan gerutuan "Kenapa waktu itu kita harus balik ke Jakarta sih kalau bakal balik lagi ke Bengkulu?"

Bengkulu, kota sekaligus nama salah satu dari 10 provinsi yang ada di Sumatera. Saya tak banyak menggali info tentang kota ini karena hanya sekedar numpang lewat di kota ini. Saya hanya tahu di kota ini ada Benteng Marlborough, lewat hasil postingan teman di laman facebooknya. Saat beberapa kawan mengetahui bahwa saya akan menuju ke Bengkulu, mereka hanya saling pandang, "Di Bengkulu ada apa ya?". Saya cuma menaikkan bahu tanda ketidak tahuan. "Saya cuma tahu ada benteng dan pantai disana".

Wednesday, September 23, 2015

TERPESONA AIR TERJUN LEMBAH ANAI

Pertama kali menginjakkan kaki di Sumatera Barat, saya tidak berpikir akan bisa kemana-mana karena ini merupakan dinas kantor yang (seperti biasa) waktunya mepet. Saat sedang dalam perjalanan dari Padang menuju ke Bukittinggi dan bermaksud mencari tempat makan siang, supir mobil rental menyarankan untuk makan di daerah Tanah Datar dengan alasan "Bisa sekalian refreshing karena pemandangannya bagus". Saya sih mengiyakan saja. Ikut kata akamsi (anak kampung sini) aja lah.. hehehe..

Beberapa saat sebelum sampai di rumah makan, saya melihat di kejauhan ada air terjun di antara pepohonan. Dan, ternyata rumah makan yang kita tuju cuma 100 meter dari air terjun tersebut. Ohh.. ini pemandangan bagusnya tohh.. *angkat dua jempol*. Itu air terjun Lembah Anai namanya.

Wednesday, September 16, 2015

SELIMUT KABUT JAMBI

Sudah hampir 2 bulan lebih bencana kabut asap menerpa pulau Sumatera dan Kalimatan. Sudah berbagai upaya sedang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya. Namun, sepertinya memang butuh waktu lebih lama untuk mengatasi kabut asap tahun ini.

Awal September ini, saya berkesempatan menembus pekatnya kabut asap di kota Jambi. Untuk sampai di kota ini, saya harus menempuh jalur darat selama 12 jam dari Bengkulu karena pesawat tidak ada yang bisa mendarat di bandara Sultan Thaha, Jambi. Pilihan lain, 7 jam dari Palembang dimana saat itu status penerbangan masih 50% bisa berangkat atau cancel, 12 jam dari kota Padang dengan status 100% aman dan Batam 5 jam dengan status 50% bisa berangkat atau cancel pula.

Satu-satunya pesawat yang berhasil mendarat hari itu (tanggal 10 September 2015) hanyalah 3 pesawat Hercules tipe C-130 milik TNI-AU. Padahal hari itu jarak pandang di Jambi hanya 300 meter. Aturan penerbangan sipil mengharuskan jarak pandang 1200 meter untuk bisa melakukan pendaratan dan take off dengan aman.

Saya memang cuma 24 jam berada di kota ini. Namun saya merasakan betapa perih dan sakitnya menghirup kabut asap ini. Hanya 10 menit di luar ruangan atau di luar mobil sudah membuat saya terbatuk-batuk, padahal saya sedang memakai buff/masker. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang di kota ini, dan kota-kota lainnya yang tertutup asap bisa beraktifitas sehari-hari dengan nyaman. Hanya bisa berdoa, semoga hujan bisa segera turun dan menghapus selimut kabut asap disini dan di kota-kota lainnya yang sedang tertutup kabut asap. Amin!!! (EKW)

Wednesday, September 9, 2015

SINGKARAK TERKEPUNG ASAP!

Suatu hari saya pernah menerima telepon dari teman dengan nada yang terdengar panik dan khawatir

Teman: Halo, endah, apa kabar orang tua kamu disana??? *terdengar panik*
Saya : baik-baik saja *dengan nada datar*
Teman : Serius nih orang tua kamu baik-baik saja disana?? Kapan kamu terakhir kali telepon mereka??
Saya : iya, mereka baik-baik saja. Saya ngobrol sama mereka 2 hari yang lalu. *mulai bingung sama teman yang terdengar seriusan panik*
Teman : Kok kamu bisa tenang-tenang saja sih?? Tuh di berita baru saja ada kabar Solok lagi gempa tuh.. *nada ngomel2*
Saya: Ohh.. Trus, emangnya kenapa?? *kembali datar*
Teman : *terdiam sejenak beberapa detik* Eh Solok itu di Sumatera ya?! Orang tua kamu tinggalnya di Papua kan ya?! Apa nama kotanya?!
Saya : Sorong! *mulai ngakak*
Teman : *ikutan ketawa* pantesan kamu tenang-tenang saja jawabannya.. ternyata, saya salah tohh..

Bwahhahahhahaha.. jadi ketawa ngakak berdua di telepon.

Sekelumit pembicaraan beberapa tahun silam itu kembali teringat saat saya sedang dalam perjalanan melewati danau Singkarak dan memasuki wilayah kabupaten Solok.

Hari ini tanggal 6 september 2015, wabah kabut asap yang berasal dari provinsi Riau dan Sumatera Selatan sudah merambah ke provinsi bahkan negara lain, termasuk danau kedua terbesar di Sumatera setelah danau Toba, yaitu danau Singkarak. Secara teritori, danau seluas 107,8 kilometer persegi ini masuk dalam wilayah kabupaten Solok dan kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Danau Singkarak terletak di ketinggian 363,5 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman mencapai 268 meter. *Dalam juga ya danau ini*

Wednesday, September 2, 2015

PLAYLIST MELINTASI JALUR LINTAS SUMATERA

I just wanna feel real love, feel the home that i live in. 
Not sure I understand, this roads I've been giving. 
(Robbie William - Feel)

Lagunya feel dari robbie williams adalah salah satu lagu di playlist yang mengiringi perjalanan dinas kali ini. Sejak mendarat di bandara Minangkabau, kemudian menuju ke Bukittinggi dan saat ini kendaraan baru saja keluar dari wilayah Muaro Bungo, Jambi.
Danau Singkarak yang diselimuti kabut asap
September 2015
Perjalanan dinas luar kota kali ini sebenarnya saya ingin memilih kota di Sulawesi atau Maluku. Tapi takdir Yang Mahakuasa menggariskan saya harus dinas ke Sumatera. Tidak tanggung-tanggung, 3 provinsi yang belum pernah saya datangi menjadi agenda dalam dinas kali ini yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Jambi. Maka, nikmat Allah manalagi yang kau dustakan?! ;)

Wednesday, August 26, 2015

MENAPAK ATAP JAWA TENGAH, GUNUNG SLAMET

Warna hijau daun yang diselimuti cahaya keperakan dari sinar matahari berpadu mesra dengan birunya sang langit. Selingan kicauan burung menjadi nyanyian alam yang serasi. Semilir angin menyejukkan hawa panas tubuh yang mulai naik di batas normal.

Begitulah pendakian Slamet ini dimulai pada pukul 10.00 wib dengan 9 orang teman lainnya. Ngomong-ngomong di pendakian ini saya kembali menjadi yang paling cantik karena teman-teman se team cowok semua. *cewek di sarang penyamun, hohohoho..*. Awalnya ada seorang cewek lagi yang dikabarkan ikut saat saya masih berada di Pekalongan. Namun karena satu dan lain hal yang tidak saya ketahui, maka si cewek itu pun batal ikut.

Sepertinya yang sudah saya rencanakan di awal, karena batuk pilek dan radang tenggorokan yang sudah menyerang sejak beberapa hari yang lalu, saya tidak berencana untuk menjejakkan kaki di puncaknya. Hanya sekedar ingin camping dan melihat hutan di kawasan Gunung Slamet. Puncak bisa lain waktu lah. Toh, tak lari gunung dikejar kan. Dan berdasarkan rembugan team, kita akan ngecamp di pos 7 dan paginya baru akan nanjak untuk summit attack.

Wednesday, August 19, 2015

RENCANANYA SIH....

Niatnya sih lebaran ini di kosan saaja menikmati liburan Jakarta yang sepi..

Kenyataannya..

Tanggal 16 Agustus pagi diajak naik ke gunung Slamet yang rencananya berangkat dari Jakarta tanggal 19 dan nanjak tanggal 20.

Kenyataannya..

Diajakin temen main ke Pekalongan dulu buat hunting curug dan langsung beli tiket berangkat tanggal 17 malam dan tanggal 19 subuh berangkat dari Pekalongan menuju ke Basecamp pendakian dan jam 10 pagi langsung nanjak..

Wednesday, August 12, 2015

CAHAYA DARI LANGIT DI GOA LAWA

Iseng-iseng main-main ke kampung orang setelah momen Lebaran membawa saya dan beberapa orang teman mengunjungi kawasan wisata Goa Lawa di Purbalingga, Jawa Tengah. Goa yang terbentuk akibat endapan lava dari gunung Slamet ini berada di desa Siwarak, kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Goa ini memiliki panjang 1,5 kilometer dengan luas mencapai 5 kilometer. Goa ini sudah dibuka untuk umum oleh pemerintah daerah setempat sehingga akses masuknya sudah terdapat jalur jalan yang diterangi lampu dan beberapa guide yang ada di beberapa titik.

Langkah kaki dan candaan ringan menemani dan menggema di seluruh sudut goa ketika kami memasuki tiap bagian lekukan goa. Saya dan teman mendadak berhenti di depan sebuah cekungan, cekungan itu pendek, tingginya hanya 1 meter. saya mencoba berjongkok dan mengarahkan sinar lampu senter ke dalamnya. Gelap! Tak ada cahaya yang memantul di dindingnya. Sepertinya lubang itu terlalu dalam dan kecil. Tidak seperti ruangan lain yang diberikan lampu di beberapa sudutnya.

Wednesday, July 29, 2015

3 PULAU DI UJUNG BARAT PULAU JAWA

Taman Nasional Ujung Kulon di provinsi Banten. Sesuai namanya, daerah ini terletak di ujung paling barat pulau Jawa. Kawasan taman nasional ini memiliki luas 122.000 hektar lebih, dimana 443 kilometer perseginya adalah wilayah laut. Ujung Kulon merupakan taman nasional pertama yang diresmikan oleh pemerintah Indonesia dan juga merupakan warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991.

Pada awalnya Ujung Kulon merupakan tanah pertanian dan pedesaan. Namun meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883 membuat daerah pedesaan dan pertanian itu hancur lebur dan berubah kembali menjadi hutan beberapa tahun setelah letusannya.

Selain hutannya yang masih alami, Ujung kulon memiliki beberapa pulau yang bisa dikunjungi untuk melihat sekelumit flora dan fauna yang ada di taman nasional ini. Berikut ini adalah 3 pulau yang saya kunjungi saat mengunjungi taman nasional Ujung Kulon.

Wednesday, July 22, 2015

MELIHAT SISI LAIN TEBING KARATON


Mendapatkan tawaran megunjungi salah satu tempat yang lagi happening di Bandung ini tentu saja tidak saya sia-siakan. Tebing Karaton. Wilayahnya merupakan bagian dari Taman Hutan Raya Juanda, Dago Atas, Bandung, Jawa Barat. Jadi, tiket masuknya sudah sepaket dengan biaya masuk Taman Hutan Juanda, Goa Jepang dan Goa Belanda. 

Begitu memasuki wilayah Tebing Karaton ini saya sedikit terkejut dengan banyaknya orang yang telah berada disana, terlalu padat malah untuk ukuran tebing sekecil itu. Itu sebabnya setelah mengambil beberapa foto di sekitar Tebing Karaton, saya memilih untuk berjalan menuju areal lain yang tidak terlalu ramai. Disini saya bisa melihat sisi lain Tebing Karaton dari kejauhan dan memotret beberapa sudut.

Wednesday, July 15, 2015

BERBURU CURUG DI PETUNGKRIYONO


Ajakan jalan ke Pekalongan sebenarnya sudah cukup lama terdengar. Namun rencana demi rencana hanya selalu jadi wacana yang teronggok di pembicaraan grup whatsapp. Seperti biasa, sesuatu yang direncanakan jauh-jauh hari belum tentu terlaksana namun rencana dadakan di menit terakhir justru tercapai dengan sukses. Dan seperti itulah yang terjadi dengan perjalanan saya ke Pekalongan. Diberi tawaran berangkat pada tanggal 16 juli siang, dan 17 juli hampir tengah malam saya sudah duduk manis dalam kereta menuju ke Pekalongan bersama seorang teman, Adhie Firmansyah.

Sekilas tentang Pekalongan adalah salah satu wilayah di Jawa Tengah, yang berada di jalur Pantura (Pantai Utara Jawa). Selain terkenal sebagai kota pesisir (pantai), Pekalongan juga terkenal sebagai kota Batik dimana motif-motif batik sangat khas dan variatif. Kota Pekalongan juga telah masuk dalam jaringan kota kreatif UNESCO dalam kategori crafts and folk arts (Kerajinan tangan dan kesenian rakyat). Keren kan. Namun, kali ini saya berada di Pekalongan bukan untuk wisata budaya dan seninya, namun untuk berburu curug atau air terjun. Ya, meski terkenal sebagai kota pesisir dan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di pulau Jawa, Pekalongan juga memiliki wilayah dataran tinggi dan perbukitan. Wilayah wisata di dataran tinggi yang terkenal adalah wilayah Petungkriyono.

Wednesday, July 8, 2015

PEMENANG TURNAMEN FOTO PERJALANAN RONDE KE 62: HIJAU

Assalamualaikum Wr. Wb.

Akhirnya sampai juga di pengumuman pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke 62 dengan tema Hijau. Untuk TFP ini memang cuma sedikit, entah mungkin karena memasuki awal bulan Ramadhan, atau memang salah saya yang kurang banyak publikasi. Tapi, terima kasih banyak yang sudah ikutan TFP kali ini.

Untuk TFP ronde ke 62 ini saya memutuskan bahwa pemenang TFP ini adalah mbak Adriani Zulivan dengan fotonya yang berjudul Color Block. Foto 2 penari balet ini menurut saya menarik karena terdapat tulisan Exit yang juga berwarna hijau, dan mereka seolah diharuskan keluar namun tidak peduli dan tetap melakukan apa yang menjadi kecintaan mereka, yaitu menari. :)
Yeay!! Selamat ya mbak Andriani. Silakan melanjutkan Turnamen Foto Perjalanan ronde berikutnya. Jika ada yang ingin ditanyakan berkaitan dengan turnamen ini silakan menghubungi saya di email endahkurniawira@gmail.com atau twitter @endahkwira.

Have fun with the tournament! :) 

Wednesday, July 1, 2015

JURNALIS DAN LIBURAN

Profesi Jurnalis saat ini termasuk salah satu profesi incaran banyak orang karena iming-iming traveling gratis atau dibayarin kantor yang selalu menjadi motivasi utama. Saya sendiri meski saat ini bekerja sebagai Video Jurnalis  di salah satu media nasional, sebenarnya pada awalnya tidak pernah membayangkan akan benar-benar menjadi jurnalis, meski saya lulusan Jurnalistik. Maklum, sejak awal saya melihat profesi jurnalis adalah profesi orang cerdas nan serius bin susah, yang notabene bukan saya banget yang pelupa tingkat dewa, suka becanda dan malas melakukan hal-hal susah. Namun, suratan takdir Allah SWT ternyata menggariskan bahwa saya harus jadi jurnalis dan kini, ini adalah profesi yang telah saya geluti sejak tahun 2009.  *lama juga yaa.. *

Awal jadi jurnalis, saya tidak membayangkan akan bisa pergi keluar kota. Betapa tidak, mengerjakan liputan dalam kota saja bisa kelar jam 2 atau jam 3 pagi setiap hari,plus pakai acara deraian air mata dan keringat plus emosi tingkat dewa kalau harus ngotot-ngototan sama editor dan redaktur,  mana sempat mau kepikiran keluar kota. Mau ngambil cuti?? Minta pengganti libur saja mesti pakai acara debat dulu sama boss yang hasilnya lebih banyak kalah debat.

Wednesday, June 24, 2015

NGERI-NGERI SEDAP MENDAKI GUNUNG BATU


Ajakan ke gunung Batu di daerah Jonggol ini sebenarnya datang hampir seminggu sebelumnya. Namun berhubung cara menuju kesana dengan touring menggunakan motor dan hingga h-1 tidak ada motor yang bisa ditebengin, saya sih sudah membuang jauh-jauh niat kesana, meski penasaran.

Namun, namanya rejeki mau traveling mah emang tidak akan kemana deh, jam 5 pagi, usai sholat subuh, sebuah pesan whatsapp muncul menawarkan apakah masih niat ikut ke gunung Batu dari seorang teman, Mas Adhie karena tebengannya batal ikut. Tentu saja jawabannya IYA! *loncat-loncat kegirangan* Janjian jam 8 pagi di daerah Tebet, meluncurlah 3 motor dan 6 orang menuju ke kawasan Jonggol, Jawa Barat.

3 jam berkendara melewati jalan-jalan, perumahan, pedesaan hingga persawahan, sampailah juga di kampung Gunung Batu 1, desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Bogor yang terletak persis di bawah Gunung Batu. Awalnya pas mendengar kata Gunung Batu, saya pikir cuma namanya saja begitu, ternyata gunung ini beneran terbuat dari batu, bahkan lebih mirip tebing daripada gunung. Saya sampai bingung bagaimana cara sampai di puncaknya, mendaki lewat mana? Manjat? Kagak bawa peralatan manjat!

Wednesday, June 17, 2015

TURNAMEN FOTO PERJALANAN RONDE KE 62: HIJAU

Perahiu di laut pantai Kuta, Bali
Akhirnya, Turnamen Foto Perjalanan (TFP) kembali bergulir ke tangan saya, sebagai runner up karena pemenang utamanya mas Baktiar Sontani tidak bisa menjadi host karena harus keluar kota tanpa jaringan internet sama sekali selama kurang lebih 30 hari. Terima kasih buat mas Agung Gidion yang sudah memilih foto saya sebagai runner up nya yaa.. 

Setelah ditimbang dan diamati dengan seksama, untuk tema TFP ronde ke 62 ini adalah HIJAU. Tema ini bisa diartikan secara bebas, pokoknya yang penting ada hijaunya, soalnya lagi pengen lihat yang hijau segar-segar begitu deh.. hehehehe.. 

Wednesday, June 10, 2015

NANJAK CANTIK DI KEBUN YANG MENINGGI

Saat diajak nanjak ke gunung Munara oleh teman saya, saya sih cuma mengiyakan saja dengan alasan terbesar karena penasaran, saya belum pernah dengar nama gunung ini. Lebih penasaran lagi saat dibilang trip nanjak ke gunung di wilayah Rumpin, Bogor ini bisa berangkat pagi pulang sore, dijamin magrib sudah bisa sampai di rumah. Bahkan saat saya tanya mesti bawa logistik apa saja, teman saya cuma bilang bawa camilan dan minuman secukupnya saja. Hah?? Serius nih?? Gunung seperti apa dan setinggi apa sih Munara ini?? *Penasaran mode ON*
Puncak gunung Munara
Janjian ketemuan sama beberapa orang yang baru saya kenal di stasiun Bojong Gede membawa saya dan teman-teman baru ini menuju ke Kampung Sawah, Rumpin dengan angkot sewaan. Usai beristirahat di warung terdekat mulailah perjalanan menuju ke puncak gunung Munara. Terus terang saya tidak berekspektasi macam-macam soal gunung ini. Yang penting bisa ikut dan mengetahui seperti apa gunung munara ini.

Jalan santai melewati sungai, hutan bambu dan hutan lain-lainnya, saya bertemu dengan para pendaki lainnya, atau lebih tepatnya penduduk sekitar daerah Bogor dan Depok yang ingin sekedar menikmati keasrian alam. Kalau kata salah satu teman saat saya bertanya bagaimana jalur pendakiannya, dia cuma menjawab, ini jalur setapak biasa kok, Munara ini bukan gunung, cuma sekedar kebun penduduk yang meninggi. Heh?? Istilah macam apa itu?? Jelas-jelas tadi di bawah saya melihat puncak gunung Munara, yang ditandai dengan batu besar, itu cukup tinggi dan jauh kok.. Wow, sepertinya ada pendaki profesional nih disini.

Wednesday, June 3, 2015

PECICILAN DI STONE GARDEN

Siang-siang dan panas-panas begini memang rasanya salah pakai coat tebal main-main ke wilayah Stone Garden yang merupakan padang terbuka ini. Stone Garden, ini merupakan wilayah di Bandung Barat yang sedang menanjak kepopulerannya. Tepatnya berada di kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit, kecamatan Cipatat, Padalarang, Bandung Barat. Disebut sebagai stone garden karena di padang ini terdapat batu-batu besar berbagai ukuran di ketinggian sekitar 900-an mdpl dengan luas wilayah mencapai 2 hektar.

Biaya masuk ke wilayah taman bebatuan ini cukup murah, hanya Rp. 5.500/orang, itu sudah termasuk paketan ke goa Pawon di bawahnya. Sedangkan biaya parkir berkisar Rp.2.000 - Rp.5.000 tergantung kendaraannya. Oh iya, memasuki wilayah Stone garden, akan ada tambahan biaya, Rp. 3.000,-yang katanya sih semacam biaya kebersihan begitu deh.

Wednesday, May 27, 2015

MENYESAP NIKMATNYA PINDANG RUPIT KHAS LUBUK LINGGAU

Berkunjung ke suatu daerah untuk pertama kalinya seperti biasanya kuliner lokal selalu menjadi incaran utama. Begitu pula saat mendatangi kota Lubuk Linggau di Sumatera Selatan untuk dinas kantor. Di kota seluas 400an kilometer persegi ini sebenarnya saya mencicipi beberapa makanan, Beberapa teman biasanya menyebut pempek juga merupakan salah satu makanan khas kota ini. Hmm.. Kalau pempek sih di Jakarta juga ada. Masakan khas lainnya ada tidak?!
Pindang 
Tentu saja ada. Saya pun kemudian diperkenalkan dengan hidangan bernama Pindang Rupit. Hmm Seperti apa sih hidangan pindang khas daerah ini? Saya pun dibawa ke rumah makan di Jalan Lintas Tengah Linggau Bengkulu, tepatnya di samping kantor Bupati Lubuk Linggau. "Sebenernya hidangan ini khas daerah Musi Rawas, tapi saat ini daerah Musi Rawas sudah dilebur masuk ke dalam administratif kotamadya Lubuk Linggau" cerita Yosie Lukie Novita, pemilik Warung Nasi Yosi Pindang Rupit.

Wednesday, May 20, 2015

BERSYUKUR ITU WAJIB

26 Januari 2011, Hotel Fortuna, Surabaya, Jawa Timur

Tadi pagi bangun jam 04.30. males-malesan bangun dan langsung mandi. Dingin !!! Setelah bersiap-siap dan beres-beres (tentunya setelah sholat subuh), jam 05.30 berangkat menuju Pasar Minggu. Rencananya mau naik damri menuju bandara. Memang sih pesawat saya boarding jam 08.40, tapi namanya bandara jauh, mendingan kecepatan datang daripada telat. Memangnya pesawat mau menunggu saya, begitu?! hehehe..

Lagipula kalau masih banyak waktu saya bisa melanjutkan tidur lagi di ruang tunggu bandara. Hahay. Pas nyampe di Pasar Minggu kebetulan sudah ada damri yang mau jalan jadi tidak perlu menunggu lama deh. Berangkat menuju bandara.. Ongkosnya Rp.20.000. Perasaan terakhir kali ke bandara September 2010 kemaren ongkos damri Rp. 30.000 deh.. Ya sudahlah, Tidak apa-apa. Itu artinya jatah makan saya bisa bertambah. Hahaha... *tertawa senang*

Wednesday, May 13, 2015

RINDU SUMBA


BERI DAKU SUMBA
Puisi oleh Taufik Ismail

di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Wednesday, May 6, 2015

ROADTRIP BRUNEI - MALAYSIA : 2 NEGARA 8 CAP IMIGRASI

Perjalanan dari Bandar Sri Begawan, Brunei menuju ke Kota Kinabalu, Malaysia bisa ditempuh dengan 2 cara, jalur laut dan jalur darat. Untuk perjalanan jalur laut bisa naik ferry dari pelabuhan Pekan Muara. Jangan tanya berapa harga dan bagaimana rasanya karena saya tidak memilih jalur ini. Saya memilih jalur darat dengan alasan, saya sudah terlalu sering naik kapal lintas kota, pulau dan provinsi di Indonesia. Jadi bus lintas negara ini pun menjadi moda transportasi pilihan saya menuju kota Sipitang, tempat Pakde (dari keluarga Ibu) saya bermukim. Sipitang adalah kota kecil pinggiran sungai yang berjarak 2 jam dari Kota Kinabalu.

Bus ini bisa dicegat di pinggiran sungai Brunei (Waterfront) yang dekat dengan terminal pada jam 8 pagi setiap hari. Harga tiket menuju ke Sipitang 35 dollar Brunei dengan seat 2-2 dan AC. Sedangkan tiket Brunei ke Kota Kinabalu seharga 45 dollar Brunei. Setelah menunggu hampir 15 menit bus ini pun muncul, dan saya orang pertama yang naik ke bus ini. Jangan khawatir dibohongi, bus ini punya tiket resmi yang dikeluarkan oleh kondektur bus saat bus akan segera berangkat.

Wednesday, April 29, 2015

TRAVEL AGENT SPESIAL BUAT ORANG TERSAYANG

Hari ini saya pulang ke rumah di Pati, Jawa Tengah setelah sekian bulan lamanya saya tidak pulang ke rumah. Sudah lama tidak bersua dengan kedua orangtua khususnya ibu membuat saya jadi sering ngobrol dengan ibu di dapur sambil memasak atau sambil membersihkan kebun di samping rumah.

Berbagai cerita pun meluncur keluar dari mulut kecilku saat ibu bertanya bagaimana perjalananku saat ke Bandar Sri Begawan, Brunei dan Kota Kinabalu, Malaysia tahun lalu. Usai bercerita tanpa disangka ibu pun berkomentar "Asyik yah bisa jalan-jalan ke luar negeri. Paspornya jadi banyak capnya, ibu juga pengen punya banyak cap di paspor, paspornya ibu baru satu nih capnya, pas naik haji kemaren". Jlebbb!!! Mendengar kalimat itu rasanya sakitnya tuh disini *nunjuk dada*. Berasa ada pisau yang tiba-tiba menusuk.
Usai wisuda tahun 2005, langsung terbang ke Pare-Pare buat traveling bersama.

Wednesday, April 22, 2015

MENIKMATI SEPINYA BRUNEI

Pinggiran Waterfront
Salah satu alasan kenapa saya mau mengunjungi Brunei, selain karena dapat tiket promo, karena negara ini terkenal sepi bak kota mati, kalau menurut kata beberapa orang yang pernah kesana. Seperti biasa juga, saya tidak terlalu peduli dengan omongan orang tentang suatu daerah hingga saya benar-benar menjejakkan kaki dan melihat daerah itu dengan mata kepala saya sendiri. Dan, ketika saya benar-benar berada disana, negara ini benar-benar sepi.

Wednesday, April 15, 2015

NYARIS PINGSAN DI PANTAI SERASA, BRUNEI



Seperti yang sudah saya tuliskan di beberapa artikel tentang Brunei sebelumnya, trip kali ini, saya lebih banyak tidur daripada jalan-jalan karena kecapekan kerja. *Workaholic mode ON*. Begitu pula hari terakhir saya di Brunei, saya tidur sampai jam 11 siang dan bangun hanya untuk mondar-mandir di sekitar hostel dan nongkrong di café.

Setelah puas nongkrong sampe jam 1-an, saya pun memutuskan untuk mengeksplore lebih jauh wilayah di sekitar hostel. Kalau dari awal saya cuma mondar-mandir di sekitar blok tempat hostel berada, sekarang saya berjalan sedikit lebih jauh menuju ke blok yang berikutnya. Tidak disangka, 2 blok dari hostel saya melihat deretan bus kota yang sedang parkir dengan berbagai tujuan. Lahh itu terminal bus toh?? Kenapa juga saya baru tahu ada terminal bus utama yang letaknya Cuma 300 meter dari hostel?? Jadi ngeliatin apa saja saya kemarin selama 2 hari mondar-mandir di sekitar hostel?? *berasa bodoh*

Yasudahlah ya.. Daripada menyesali, saya pun segera beranjak menuju ke terminal bus ini. FYI. Saya belum memutuskan mau kemana. Saya pun mondar-mandir di dalam terminal bus yang lebih mirip parkiran ruko ketimbang terminal karena letaknya di basement. Mungkin karena Brunei adalah negara kaya sehingga hanya sedikit orang yang menggunakan transportasi umum. Makanya jangan heran kalau saya tidak ngeh sama terminal ini ya.. Mata saya pun tertuju pada peta rute bis ini yang terdiri dari 6 rute. Setelah menyimak peta rute ini, saya pun memutuskan mencari pantai dengan alasan Brunei adalah negara tepi pantai jadi saya harus ke pantainya. Hehehe..

Wednesday, April 8, 2015

AKU RINDU

Aku rindu,
Pada jejak kaki yang belum aku tapakkan
Pada tempat yang belum kudatangi
Pada dedaunan yang belum aku sentuh

Aku merindu,
Pada buaian angin yang belum sempat membelaiku
Pada kecupan hujan yang tak sempat menyentuh keningku
Pada tarian pelangi yang tak sempat mengajakku bermain

Aku hanya sendiri disini
Merindukanmu yang belum sempat kumiliki

Jakarta, April 2015
Ika Wirawati

Wednesday, April 1, 2015

MENCICIPI KULINER PASAR SANTA, JAKARTA

Pasar Santa. Saya rasa hampir semua warga Jakarta pasti kenal dengan pasar yang satu ini. Dulunya ini adalah kawasan pasar tradisional pada umumnya yang bisa ditemukan di mana saja. Awalnya lantai 1 difungsikan bagi para penjahit, namun karena sepi pembeli, para penjahit pun turun dan menempati lantai dasar pasar Santa. Lantai 1 pun sempat terbengkalai dan kosong melompom. Namun sejak Agustus 2014, Lantai 1 pasar ini mulai difungsikan sebagai areal foodcourt dan mulailah geliat pasar ini kembali muncul.

Beberapa waktu yang lalu saya dan beberapa orang teman menyempatkan diri untuk sekedar berkunjung, melihat-lihat dan mencicipi beberapa jenis makanan yang ada di pasar ini. Dari puluhan bahkan mungkin ratusan jenis makanan yang dijual di sini, ini adalah beberapa makanan yang mampu saya cicipi dalam waktu 3 jam kunjungan ke sana.

Wednesday, March 25, 2015

MENANTANG MAUT DEMI SEBUAH FOTO???

Pengunjung di Tebing Keraton, Bandung 
Saya baru saja sampai dan sedang mencari spot foto yang menarik di areal Tebing Keraton. Saat itu pinggiran tebing yang sudah dipagari itu sudah dipadati oleh banyak orang. Beberapa diantara mulai melangkah keluar dari pagar dan menuruni tebing. Saya pun tergelitik untuk ikut melakukannya saat mendengar sebuah celetukan dari samping kanan saya yang berkata : "look, people are risking their life just to get that stupid picture"

Sesaat saya diam termangu mendengar perempuan asing itu berkata demikian saat melihat beberapa orang yang menuruni tebing tanpa alat dan asyik berpose. Saya sedikit tersentak dengan kalimat itu karena terus terang saya mungkin termasuk salah satu yang terkadang melakukan hal demikian, membahayakan diri demi sebuah foto dramatis.

Wednesday, March 18, 2015

MENGUNJUNGI KAMPUNG AYER BRUNEI DENGAN HARGA LOKAL

Seperti yang sudah tulis sebelumnya di artikel Hecticnya mau berlibur ke Brunei, saya tidak punya waktu untuk melakukan riset mengenai tempat-tempat wisata di Brunei. Namun beruntung saya memiliki teman baru di sini, Ahamed, yang menunjukkan beberapa tempat yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari hostel tempat saya menginap. Salah satunya adalah Kampong Ayer.
Kapal-kapal di sungai Brunei dan Kampong Ayer di kejauhan
Kampong Ayer adalah salah satu daerah di Brunei yang sebagian besar areanya terletak di tengah-tengah sungai Brunei. Di kampung ini terdapat lebih dari 39.000 warga yang berdiam di perkampungan yang terbuat dari kayu ini.

Saat memiliki waktu lebih untuk browsing dengan wifi gratis di sebuah cafe di tepi sungai Brunei *fakir wifi* saya sempat membaca beberapa review blog bahwa untuk menyeberang ke kampung ini akan ditarik bayaran antara 20 - 50 dollar Brunei per orang, tergantung kejelian dan keuletan nego harga pada pengemudi kapalnya.  Duhhh.. buat saya uang segitu mah besar sekali ya. Apalagi saya memang tidak jago nego harga euy.. Nongkrong di cafe bertaraf internasional saja, secangkir kopi "cuma" seharga 10 dollar Brunei. *garuk-garuk kepala*

Wednesday, March 11, 2015

(FOTO) TAHUN BARU CINA DI 3 KLENTENG KOTA TANGERANG

Awalnya pas hunting foto saat perayaan tahun baru Cina, 19 Februari lalu, saya berniat untuk membuat photostory dalam bentuk hitam putih. Bahkan judulnya pun sudah terpikirkan "Hitam Putih di Kemeriahan Imlek". Namun saat mulai mengedit menjadi hitam putih dan melihat bolak-balik hasil hitam putih dan warna asli, saya mulai ragu. Beberapa foto terlihat bagus dalam bentuk hitam putih, dan beberapa lainnya terlihat bagus dengan warna-warninya.

Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membuat photostory dengan foto hitam putih dan warna saling berdampingan. Jadi, kalian lebih suka yang mana? Team #HitamPutih atau team #WarnaWarni??? (EKW)

KLENTENG BOEN TEK BIO
Pasar lama, Tangerang

Wednesday, March 4, 2015

ROADTRIP JAKARTA - LAMPUNG

Panik, takut, Deg-degan sekaligus senang memang bercampur jadi satu saat pukul 2 siang di kantor saya duduk di depan komputer dan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Lampung. Memang sih dari Jakarta ke Lampung itu dekat. Masalahnya saya belum pernah sekalipun ke Lampung dan ini solo traveling lho. Mana berangkatnya malam pula, bagaimana tidak panik???

Tapi seorang teman kantor yang saya beritahukan tentang niat mau ke Lampung ini cuma memberikan jawaban “Kamu solo traveling ke luar negeri saja bisa, masa ke Lampung sendirian tidak bisa sih?” Iya sih. Memang biasa kemana-mana sendirian, tapi baru kali ini memutuskan berangkat dengan waktu semepet ini.  Kalau trip-trip yang sebelumnya setidaknya saya sudah tau jalan atau sudah pesan tiket beberapa bulan sebelumnya. Jadi trip ke Lampung ini benar-benar saya tidak tahu jalan dan belum tahu transportasi secara sambung-menyambung menuju ke Lampung.

Namun, karena sudah diniatkan sejak sebulan yang lalu akan traveling ke Lampung, ya sudahlah.. mari kita berangkat!! Persiapannya? Kirim pesan ke teman yang tinggal di Lampung kalau saya akan datang, pulang kantor jam 5 sore, Ambil daypack yang sedang dipinjam sama Irma Siregar dan sampai di rumah jam 8 malam lewat, Isitrahat dan makan malam 30 menit, beres-beres kamar 30 menit (biar kalau pulang bisa langsung tidur di kamar yang masih rapi, hehehe) lalu packing 30 menit. Jam 10 malam kurang saya pun berangkat.


Wednesday, February 25, 2015

HECTICNYA MAU BERLIBUR KE BRUNEI

Tiket pesawat sekali jalan ke Brunei tertanggal 26 April 2014 sudah saya kantongi hampir setahun yang lalu. Tapi hingga 2 minggu menjelang keberangkatan saya masih memegang surat cuti yang belum ditandatangani oleh si boss. Dampaknya?! Saya belum bisa beli tiket pulang.. *manyun*
10 hari sebelum keberangkatan

Entah habis kejatuhan durian runtuh darimana, tiba-tiba team marketing di kantor saya memutuskan dalam tempo sesingkat-singkatnya bahwa akan diadakan talkshow di luar studio kantor dengan narasumber utama para gubernur/walikota/bupati se-Indonesia. Target untuk project ini adalah 50 episode yang akan dimulai pada tanggal 21 april 2014, setiap hari 2 episode dan seluruh crew wajib ada di tempat pukul 5 pagi.

Saya?? Santai saja mendengarnya karena 2 minggu yang lalu saya sudah memberikan pengumuman akan cuti selama 1 minggu, mulai tanggal 28 april. Lagipula setelah melihat susunan crew talkshow, nama saya tidak tercantum disana.. jadi santai-santai di kantor sambil main game. *magabut mode ON*

Wednesday, February 18, 2015

ADA CENGKEH LAUT DI PISANG

Para pembaca yang budiman, judul artikel kali ini tidak ada sangkut pautnya dengan kuliner ya.
Salah satu kebun cengkeh di pulau Pisang
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu pulau di wilayah provinsi Lampung, yaitu pulau Pisang. Pulau pisang masuk dalam wilayah kabupaten hasil pemekaran yaitu Pesisir Barat.

Di pulau ini, saya berkesempatan untuk tinggal dan mendengarkan cerita dari salah satu penduduk disana. Pak Tuzakki adalah salah satu petani cengkeh di pulau ini, dengan luas kebun setengah hektar, Ia memiliki 400 batang cengkeh berumur antara 5 hingga 10 tahun.
Mendengarkan cerita Pak Tuzakki sambil memetik cengkeh
Ia berkisah, tanaman cengkeh di pulau ini mulai dibudidayakan sejak 15 tahun silam. Namun saat itu jumlahnya belum seberapa. Bibit tanaman di pulau ini kemungkinan berasal dari bengkulu atau padang "karena dulu penduduk sini banyak yang berasal dari padang sepertinya" ujar pak Tuzakki sambil memisahkan tangkai  dan cengkeh di halaman belakang kiosnya bersama seorang temannya.

Sore ini pak Tuzakki membawa hampir 2 kilo cengkeh yang berasal dari satu pohon. "Hari ini tidak bisa memetik banyak karena hujan terus dari tadi pagi. Saya hanya sempat panen dari beberapa pohon saja, sudah terlanjur basah kuyup dan kedinginan karena kehujanan ya saya pulang saja" sambil tersenyum.

Wednesday, February 11, 2015

SEBUAH CERITA DARI SEPENGGAL SURGA DI PESISIR BARAT


Perjalanan kali ini dimulai dengan sebuah percakapan antara saya dengan seorang nelayan di dermaga Kuala Stabas, Krui, Kabupaten Pesisir Barat, provinsi Lampung.
Kapal bercadik di sekitar dermaga Kuala Stabas, Krui
Saya : "Disini pelabuhan buat menyeberang ke pulau?"
Nelayan : "Iya, Mbak mau ke pulau?"
Saya: "Iya, Kapalnya ada?"
Nelayan : "Tuh kapalnya" (nunjuk kapal dengan nama Pulau Carita)
Saya : "Ohh.. Terima kasih" (terus nyamperin tukang kapal buat nanya jadwal berangkat dan booking tempat)

Nelayan: "Udahan Mbak?"
Saya : "Udah Pak"
Nelayan : Tahu darimana pulau itu? Kok baru sekarang mana? Angin dan ombaknya lagi gede banget nih"
Saya : Oh ya?! Lagi musim hujan sih ya"
Nelayan: "Iya, 2 hari yan lalu kapal saya baru terbalik di tengah laut pas mengangkut penumpang dari pulau itu kesini"
Saya : "Hah!! Serius???"
Nelayan : Iya, ada sekitar 30-an penumpangnya, tapi tidak ada yang meninggal kok. semuanya pada jago berenang. jadi mereka bisa mengapung di laut selama 2 jam sebelum dijemput kapal lainnya. Terus kapal saya bisa ditarik kembali kesini".
Saya :"Ohhhh!! Kayaknya saya butuh pelampung nih, secara saya tidak jago berenang. Paling cuma bisa mengapung sekitar 10-15 menit saja."
Nelayan: "Waktu itu sih kapal saya memang overload. Kalau sekarang mah tidak akan lebih dari 10 orang kok."
Saya: "Ohhh.." (Lagi) "Trus kapal bapak yang mana?"
Nelayan : "Itu, si Pulau Carita yang nanti Mbak tumpangin ke pulau. Saya pamit ke pasar dulu ya, mau ngambil barang. Permisi"
Saya : (Bengong dan diam seribu bahasa)

Sumpeehh lo kapal yang mau saya naikin baru kebalik di laut 2 hari yang lalu???? Tidakkk!!!! 

Wednesday, February 4, 2015

JALAN KAKI KE PULAU MAITEM



Pulau Maitem ini sebenarnya lebih dekat dengan desa Ketapang, Lampung Selatan daripada pulau Pahawang yang sudah terkenal duluan kemana-mana. Akses menuju ke pulau ini bisa ditempuh dengan dua cara yaitu sewa perahu seharga 400rb dan jalan kaki. Haah!!! Serius nih jalan kaki??? Iya saya serius pakai banget pulau ini bisa ditempuh dengan jalan kaki, dengan catatan, laut sedang surut.

Akses jalan menuju pulau ini berada di bagian yang berlawanan arah dari dermaga ketapang, di tempat penyemaian bibit mangrove. Bisa tanya ke penduduk setempat kalau tidak tahu.


Wednesday, January 28, 2015

MENIKMATI SENJA DAN PAGI DI KRUI


Pagi-pagi saya dibangunkan oleh ketukan di pintu kamar. Travelmate saya, Arif W sudah berdiri di depan pintu saat saya membuka pintu dalam keadaan setengah sadar.

Saya : ada apa??
Arif : Mau ikut ke krui gak?
Saya : boleh, kapan?!
Arif : sekarang! Packing gih..

Whoaaa..
Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, saya mulai membenahi barang-barang saya. Sumpah ini nyawa belum terkumpul sepenuhnya!!!! Akhirnya saya memutuskan untuk cuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu sebelum melanjutkan packing dengan harapan air dingin bisa bikin saya lebih melek!

Sekitar 60 menit kemudian kita pun segera menuju terminal Rajabasa, Lampung untuk mengejar bus terakhir ke Krui pagi ini yang akan berangkat pukul 10 pagi. Kalau telat bus berikutnya akan berangkat jam 5 sore. Alhamdulillah, kita masih bisa mengejar bus terakhir yang sudah siap akan berangkat itu. Dengan merogoh kocek 60ribu/orang, bus mini atau elf ini pun berangkat menuju ke Krui.


Wednesday, January 21, 2015

MENJAJAKI KETINGGIAN MENARA MAITEM

Takut tapi penasaran dengan pemandangan dari atas menara suar lah yang bisa membuat langkah kaki saya terus mendaki meski tangan mencengkeram plang tangga dengan erat. Rasa menggelitik di hati dan sekujur tubuh saat secara perlahan tapi pasti saya mulai menyadari betapa tingginya jejak langkah kaki saat memandang ke bawah.


Monday, January 12, 2015

BERMAIN AIR DI LUBUK LINGGAU


Kota Lubuk Linggau sebenarnya terletak di Sumatera Selatan. Namun akses menuju ke kota ini ternyata lebih cepat jika melalui Bengkulu daripada Palembang. Dari Palembang, kota Lubuk Linggau berjarak 314 kilometer dan jalan darat menuju kota ini mencapai 8 jam, sedangkan dari Bengkulu jalan darat ‘hanya’ menempuh sekitar 5 – 6 jam perjalanan.

Kota Lubuk Linggau ini dilewati oleh 2 sungai besar yaitu Sungai Kelingi dan sungai Musi. Oleh karena itu kota ini memiliki beberapa wisata air. Saya berkesempatan mengunjungi dua wisata air yaitu air terjun Temam dan bendungan Watervang.

Monday, January 5, 2015

(FOTO) PEMENANG TURNAMEN FOTO PERJALANAN RONDE KE 53: LET"S JUMP!

Assalamualaikum...

Tepat pukul 00.00 waktu Indonesia bagian barat, Turnamen Foto Perjalanan ronde ke 53 dengan tema Le'ts Jump! resmi ditutup. Sebanyak 11 blogger ikut berpartisipasi dalam TFP kali ini. Terima kasih buat semua yang sudah mengirimkan foto-fotonya. Semuanya keren-keren! sampai-sampai saya jadi galau di malam tahun baru untuk menentukan pemenangnya. 

Setelah bolak-balik melihat Galeri Turnamen Foto Perjalanan ronde ke 53 dengan seksama, akhirnya saya memutuskan bahwa pemenang TFP kali ini adalah mas Rinaldhi Maulana dengan judul Pertapa Ganteng di Gili Nanggu. 

Saya memilih foto ini selain karena pose nya yang ciamik, keindahan alam Gili Nanggu juga terlihat dengan jelas sehingga bikin foto ini lebih segar dan hidup. Selamat ya!!!! *tepuk tangan*
Silakan mas Rinaldhi Maulana untuk menjadi host dan seru-seruan denga Turnamen Foto Perjalanan ronde berikutnya! Sekali lagi Selamat ya... (EKW) 

Translate

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...