HUNTING DI BENTENG MARLBOROUGH

"30 menit saja ya disini"
Demikian pesan Team Leader saya saat menurunkan kami bertiga di depan benteng Marlborough. Kami bertiga cuma lirik-lirikan sambil bilang "Diusahakan secepatnya" sambil berhamburan keluar mobil. Kalau saya pribadi mah tidak akan cukup lah 30 menit. Secepat-cepatnya saya berada di museum atau tempat bersejarah itu 60 menit lho. Standar saya menghabiskan waktu di tempat bersejarah biasanya 1,5 jam hingga 3 jam, tergantung berapa orang yang ikut dengan saya. Apalagi dengan benteng semegah ini? Yaa kita lihat saja nanti.


Saat saya melangkahkan kaki memasuki wilayah benteng ini, saya sangat antusias. apalagi setelah sempat zonk di Fort De Kock, Bukittinggi. Hehehehe.. 

Benteng Marlborough adalah benteng peninggalan Inggris di kota Bengkulu. Benteng ini merupakan benteng terbesar yang pernah dibangun oleh Bangsa Inggris semasa kolonialismenya di Asia Tenggara. Konstruksi bangunan benteng Benteng Marlborough ini memang sangat kental dengan corak arsitektur Inggris Abad ke-20 yang ‘megah’ dan ‘mapan’. Bentuk keseluruhan komplek bangunan benteng yang menyerupai penampang tubuh ‘kura-kura' sangat mengesankan kekuatan dan kemegahan.

Benteng ini didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris. Konon, benteng ini merupakan benteng terkuat Inggris di wilayah Timur setelah benteng St. George di Madras, India. Benteng ini didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi samudera Hindia. Benteng ini pernah dibakar oleh rakyat Bengkulu; sehingga penghuninya terpaksa mengungsi ke Madras, India. Mereka kemudian kembali tahun 1724 setelah diadakan perjanjian.
Suka gak ngerti, kenapa liputan selalu ditarik bayaran lebih ya? 

Tahun 1793, serangan kembali dilancarkan. Pada insiden ini seorang opsir Inggris, Robert Hamilton, tewas. Dan kemudian pada tahun 1807, residen Thomas Parr juga tewas. Keduanya diperingati dengan pendirian monumen-monumen di kota Bengkulu oleh pemerintah Inggris. Tugu Thomas Parr berada tidak jauh dari Benteng Marlborough, bisa dicapai dengan 5 menit jalan kaki.


Marlborough masih berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia-Belanda tahun 1825-1942, Jepang tahun 1942-1945, dan pada perang kemerdekaan Indonesia. Sejak Jepang kalah hingga tahun 1948, benteng itu sempat manjadi markas Kepolisian Republik Indonesia. Namun, pada tahun 1949-1950, benteng Marlborough kembali diduduki oleh Belanda. Setelah Belanda pergi tahun 1950, benteng Marlborough pun bealih fungsi menjadi markas TNI-Angkatan Darat. Hingga pada tahun 1977, benteng ini pun diserahkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya.

Dengan luas mencapai 44.100 meter persegi, rasanya tidak mungkin mengelilingi benteng dalam waktu 30 menit. Saya mengengok berbagai ruangan, atas bawah, depan belakang, kiri dan kanan, itu saja saya merasa masih ada ruangan lain yang mungkin belum saya lihat. Berjalan-jalan di areal benteng ini sambil memikirkan berbagai angle foto ternyata menghabiskan waktu hingga 3 jam! Saya bahkan belum sempat mendengarkan cerita para penjaga benteng! Ahh masih kurang, rasanya.
Bisa piknik juga di dalam benteng, asal sampah dibawa pulang atau langsung masakin tong sampah terdekat
Perhatian!!! Contoh Jelek!!
Jangan biasakan anak melanggar peraturan sejak kecil!!! 
Namun, panggilan telepon dari team leader yang telah berkali-kali dicuekin akhirnya membawa saya dan kedua teman lainnya menyudahi perburuan foto di benteng ini. Dan sekali lagi, team leader saya cuma geleng-geleng kepala saat menjemput kami di pintu masuk. "Kalian ini.. " dan kami cuma senyum-senyum senang karena sukses menghabiskan 3 jam di benteng ini. (EKW)


Comments

  1. sudah lumayan bagus ya tamannya. dulu meriam-meriam itu digeletakin begitu saja di rerumputan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu itu jaman tahun berapa ya???
      *mendadak curiga ama umur sampean, om.*
      hahahahaha..

      Delete
  2. Btw Nama benteng Marlborough ada hubungannya dengan rokok merk marlboro ga sih? oh iya kadang saya juga heran untuk kegiatan liputan di tempat wisata selalu di tarif lebih tinggi padahal kan ini bisa jadi semacam promosi untuk mereka juga. semoga suatu hari nanti saya bisa berkunjung ke bengkulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada hubungan mas Budi.
      Nama benteng ini menggunakan nama seorang bangsawan dan pahlawan Inggris, yaitu John Churchil, Duke of Marlborough I. Gituuu..
      Semoga bisa segera mengunjungi Bengkulu yaaa.. :)

      Delete

Post a Comment