Lewat Tarian, Trisno Tumbuhkan Semangat Transformasi Hidup Dusun Tanon, Semarang

Dari dalam jantung sebuah bangunan pendopo desa, terdengarlah alunan lembut suara gamelan yang mengalun. Derap nadanya membelah udara, meresap ke dalam hati para pendengar. Di tengah ruangan ini, sekelompok anak tampak bergembira, tenggelam dalam rangkaian alat gamelan yang terhampar dengan rapi di depan mereka. Dalam harmoni suara dan pergerakan, terhiasi dinding dengan tulisan yang berbicara tentang identitas dan semangat yang ada di tempat ini: 'Desa Menari'.

Desa-menari-dusun-tanon
Beberapa anak kecil berlatih menari di pendopo Dusun Tanon, Kabupaten Semarang
(Pic. Genpi.co)

Namun, di sisi lain ruangan, adegan yang lebih menawan terbentang. Tiga sosok anak yang memancarkan semangat, mengisi lantai dengan langkah-langkah lemah gemulai. Tarian mereka seakan menjadi puisi yang disusun oleh nada-nada gamelan yang memukau. Gerakan mereka tunduk pada irama yang menggema, kadang tergelincir dalam senyum penuh candaan saat ritme mereka berusaha seirama. 

Namun, tak semua anak berpartisipasi dalam gerak tari. Beberapa memilih berdiam diri, mata mereka terpaku pada pertunjukan yang sedang berlangsung. Mungkin mereka adalah para pemirsa yang tengah menikmati pesona tarian dari jarak pandang yang berbeda.

Seketika itu, Dusun Tanon membuka jendela menuju dunia di mana pesona seni lokal berpadu dengan semangat generasi muda. Tanah yang dulunya kering, kini bersemi menjadi ladang subur bagi perubahan. Dalam arena ini, tak hanya tarian dan gamelan yang bergema, tetapi juga semangat bermetamorfosis yang menyentuh setiap sudut jiwa muda.

Momentum Transformasi Desa Menari

Dahulu, cobaan yang dihadapi oleh para remaja di sini tak berlainan dari kisah yang ditemui di banyak tempat lain - kecenderungan mereka untuk melangkah meninggalkan jejak desa dan merantau mencari peluang baru. Namun, semuanya telah berubah seiring waktu, menggiring kita ke dalam panggung penceritaan yang sarat akan pengorbanan, semangat, dan pembangunan budaya.

"Dulu remaja di Dusun Tanon lebih memilih bekerja di luar desa daripada bertahan di daerahnya karena enggan meneruskan profesi orang tuanya sebagai petani dan peternak," ungkap Wiwik Setyowati, yang berperan di Environment & Social Responsibility Division PT Astra International Tbk. 

Perkembangan yang terjadi di Dusun Tanon tak terlepas dari peranan utama Kang Trisno, seorang pemuda yang telah membangun momentum baru. Dengan keberanian dan tekad yang kokoh, ia berhasil merangkul hati para remaja yang terperangkap dalam dunia gadget, membimbing mereka menuju jalur tari dan bunyi gamelan. Kegiatan ini membentuk transformasi wajah baru Dusun Tanon, menciptakan arus yang menghidupkan.

Trisno, Sang Kreator Desa Menari

Di tengah lautan kisah hidup dusun Tanon, sosok Trisno muncul sebagai cahaya yang membimbing jalan menuju perubahan. Lahir di Dusun Tanon, Semarang pada 12 Oktober 1981, Trisno menjadi tonggak pertama dari kampungnya yang berhasil menuntaskan pendidikan sarjana. Gelar sarjana dalam jurusan Sosiologi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta merupakan langkah awal dari perjalanan inspiratifnya.

trisno-dusun-tanon
Trisno, Sang kreator Desa Menari
(Pic. Kabareminggir.com)

Pada titik ini, banyak yang memilih untuk mengembangkan karir mereka di lingkungan yang lebih maju dan dinamis, tetapi Trisno memutuskan untuk kembali ke akar-akarnya yang sederhana di kampung yang kalah pamor. Terlahir dari tekad yang kuat, ia memutuskan untuk membagikan ilmu dan semangatnya dengan masyarakat Dusun Tanon.

Dalam Dusun Tanon, mayoritas penduduknya adalah peternak sapi perah dan petani. Namun, Trisno memiliki pandangan yang lebih jauh. Daripada mengikuti jejak umum, ia melihat potensi besar dalam mengembangkan pariwisata di dusunnya yang miskin. Inilah semangat inovatif yang memimpin langkah-langkah pertama transformasi.

Trisno membawa perubahan dengan membujuk dan mengajak masyarakat untuk memandang wisata sebagai pintu menuju masa depan yang lebih cerah. Dusun Tanon diubah menjadi "Desa Menari", sebuah merek yang tak hanya mewakili identitasnya, tetapi juga membawa misi untuk menghidupkan seni dan budaya lokal.

Para pengunjung yang datang ke "Desa Menari" akan disuguhi dengan kekayaan seni yang meliputi penampilan tarian seperti Topeng Ayu, Kuda Debog, Kuda Kiprah, dan Warok Kreasi. Tak hanya merangkum kesenian dalam satu wadah, Trisno juga menjembatani generasi dalam memeriahkan pertunjukan ini, mengajak baik orang tua maupun anak-anak dari Dusun Tanon untuk berpartisipasi.

Namun, ambisi Trisno tak berhenti di situ. Dia yakin bahwa potensi wisata di Desa Menari masih memiliki banyak lapisan yang belum diungkap. Saat ini, dia tengah merancang perluasan kegiatan dengan mengeksplorasi sektor peternakan sebagai daya tarik wisata baru. Lewat inovasi ini, ia tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk masyarakatnya, tetapi juga berharap agar para pemuda tidak lagi merantau ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan, melainkan dapat berkontribusi di kampung halaman mereka sendiri.

Trisno adalah cermin dari kemauan dan tekad yang kuat untuk menciptakan perubahan. Dari seorang pemuda yang mendapatkan pendidikan hingga menjadi pionir perubahan di lingkungan yang dulu diabaikan, Trisno telah memicu proses transformasi yang melekat dalam kisah hidup dan perjalanan inspiratifnya untuk memajukan desa tempatnya dilahirkan.

Menghidupkan Kembali Warisan Kesenian

Tarian bukanlah milik remaja semata. Gimin, seorang warga Dusun Tanon berusia 64 tahun, juga memegang api kesenian dalam dirinya. Meski usia telah mengurangi keaktifannya, Gimin, bersama keluarga besarnya, masih memelihara potensi seni dalam bentuk menabuh gamelan dan tarian.

Namun, Dusun Tanon tak sekadar merawat budaya. Ia membangun ruang khusus di tengah-tengahnya, tempat dimana tarian mengalun dan gamelan berdentum. Teras rumah Trisno telah bertransformasi menjadi panggung raksasa yang tidak hanya menyajikan pelatihan dan latihan, tetapi juga menjadi ruang di mana karya-karya para warga dapat bercahaya dalam kemegahannya.

gamelan-alat-musik-tradisional
Belajar instrumen musik tradisional, gamelan
(Pic. Jatengprov.go.id)

Setidaknya, enam kelompok seni tari telah tumbuh di dalam ruang desa. Menyatukan tiga variasi tarian untuk setiap kelompok, kita memiliki 18 jenis tarian yang hidup dan bernyawa. Dari Tarian Geculan Bocah yang memancarkan semangat anak-anak hingga Tari Lembu Tanon yang merangkul identitas peternak lokal, setiap tarian membawa pesan dan cerita sendiri.

Percakapan dengan Fahril Kukuh Yunianto, seorang remaja yang telah membiarkan langit-langit digital untuk menari dalam alunan tarian, mengungkapkan transformasi menakjubkan ini. Ia menggambarkan perubahan dalam dirinya, dari pemegang ponsel yang enggan lepas, menjadi penari berbakat yang dikembangkan oleh mahasiswa dan dosen yang berdedikasi.

Edukasi Tarian Tradisional Untuk Generasi Muda

Karya yang tumbuh di Dusun Tanon tak hanya menyentuh jiwa para remaja desa itu sendiri. Keindahan yang diciptakan oleh para penari muda ini telah menjadi "magnet" yang tak terelakkan bagi anak-anak di sekitar daerah. Viona Dwi Anandira, Shifa Uljian, dan Wardah, tiga anak dengan usia belasan tahun, datang dengan semangat untuk memelajari tarian dan menyerap keajaiban seni dari Dusun Tanon.

Bukan hanya tarian, tetapi perubahan yang mereka ciptakan dalam diri mereka. Dalam rangkaian pelajaran menari dan pertunjukan lokal, ketiganya telah mengukir kisah sukses mereka sendiri. Di tengah pengaruh gadget yang merajalela, mereka telah membuktikan bahwa ketertarikan akan seni dan budaya lokal masih memiliki daya tarik yang kuat.

anak-anak-menari-di-desa-menari-dusun-tanon
pertunjukan tarian oleh anak-anak di Dusun Tanon
(Pic. Jateng.tribunnews.com)

Oase Keselarasan

Di tengah riuhnya kehidupan perkotaan yang kian menguras energi, Dusun Tanon menjadi oase yang menawarkan perspektif lain. Dengan kearifan lokal yang menyatu dengan aktivitas spiritual dan budaya, tempat ini menawarkan keselarasan yang berharga.

Dalam cerita yang berlarut-larut, Trisno mengatakan bahwa mengubah pandangan remaja tentang tari dan mengalihkan mereka dari gadget membutuhkan waktu. Namun, hasil dari upaya ini adalah pesona yang luar biasa. Dusun Tanon tidak lagi hanya sekadar destinasi wisata; ia adalah tempat di mana masyarakat tumbuh, berkembang, dan menjadi lebih kuat.

Akhirnya, kita diingatkan bahwa Dusun Tanon bukan hanya cerita tentang sebuah desa, tetapi tentang transformasi, dedikasi, dan pengorbanan yang melekat dalam usaha melestarikan kekayaan budaya kita sendiri yang dimulai hari ini untuk masa depan pelesatarian budaya Indonesia. Dalam panggung ini, seni tari dan budaya lokal bukan lagi sekadar penghibur, melainkan pilar kebanggaan yang merajut generasi dengan akar mereka sendiri. (EKW)


Sumber:

https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/finalis/kreator-desa-wisata-tanon/ 

https://jateng.antaranews.com/berita/271383/menari-pesona-hidup-dusun-tanon

https://travelingyuk.com/desa-wisata-tanon/133447/

https://jatengprov.go.id/publik/ramai-kkn-di-desa-penari-jateng-pun-punya-desa-menari-di-lereng-gunung-telomoyo/

https://www.kabareminggir.com/2019/12/mendamba-jutaan-semangat-kang-tris.html


Comments

  1. seneng liatnya kalau masih ada warga yang peduli dengan kemajuan desanya, apalagi untuk membangun sebuah kegiatan baru misalnya, agak sulit diterima juga oleh masyarakat, perlu pendekatan yang baik dari pihak pengelola
    anak-anak di desa menari juga antusias untuk belajar budaya, keren nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, padahal penari laki-laki itu keren lho, apalagi yang bisa menarikan tarian tradisional. Sayangnya masyarakat kita masih punya pandangan miring soal ini. Mudah-mudahan stereotipe itu bisa perlahan hilang ya, biar penari laki-laki bisa terus ada

      Delete
  2. Kemarin di sekolah anakku, di jakarta, di buka ekskul tarian. Dan tak ada satu murid pun yg mau :(. Aku bilang ke anakku yg cowo untuk ikut, dia malah Mandang aku kayak aneh banget, 'masa cowo nari sih mi'

    Kalo di sini rasanya anak2 masih menganggab tarian itu hanya untuk cewe.

    Seneeng baca tulisan ttg desa tanon ini. Bersyukur mereka masih peduli akan kesenian daerah indonesia. ❤️

    Kliatan dari foto anak2 ini semangat, untuk menari . Semoga saja potensi wisata di desanya akan berkembang dan banyak kedatangan turis untuk melihat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahhh sedih ya.. padahal kalau anaknya mbak bisa ikut latihan menari pasti keren tuh. Sudah langka anak laki-laki yang mau belajar menari soale.

      Mudah-mudahan semakin banyak ya orang-orang yang mau bertekad untuk melestarikan tarian tradisional Indonesia, terutama laki-laki biar bisa lestari terus kebudayaan kita.

      Delete

Post a Comment