Wednesday, December 7, 2022

Mahariah, Menggapai Asa Pulauku Nol Sampah di KBA Pulau Pramuka

Sapuan ombak perlahan menerpa pasir pantai di Pulau Pramuka, Kabupatan Kepulauan Seribu. Sesekali ada beberapa langkah kaki terlihat sedang berjalan menyusuri pantai. Tapi wanita itu tidak berada di sana untuk menikmati keindahan pulau tempat ia tinggal. Bersama dengan beberapa kawan-kawannya, ia memunguti sampah yang terdampar di pantai bersama dengan sapuan ombak laut.

Menciptakan lingkungan tempat tinggal yang bebas sampah bukanlah hal yang mustahil. Di tangan Mahariah dan segenap masyarakat penggiat Kampung Berseri Astra (KBA) Pulau Pramuka, kepeduliannya pun muncul karena keinginannya untuk mewujudkan lingkungan hijau yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Selain itu, ia juga ingin pulau tempatnya tinggal dan mencari nafkah bisa terbebas dari sampah.

Mahariah, penggiat Kampung Berseri Astra di Pulau Pramuka
Source: Swa.co.id

Kampung Berseri Astra adalah program kontribusi sosial serkelanjutan Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pengembangan yang mengintegrasikan 4 pilar program yaitu Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan. Melalui program ini masyarakat dan perusahaan dapat berkolaborasi mewujudkan wilayah tempat tinggalnya yang bersih, sehat, cerdas dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup di sekitarnya.

"Pulauku Nol Sampah', adalah semangat yang digalakkan oleh Mahariah dan masyarakat di KBA Pulau Pramuka. Wanita yang lahir di Pulau Panggang dan kini tinggal di Pulau Pramuka itu mengungkapkan bahwa krisis lingkungan di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu sebagian besar disebabkan oleh sampah. Secara berkala, sampah-sampah yang berasal dari daratan akan terdampar di pantai-pantai wilayah kepulauan Seribu, termasuk Pulau Pramuka. 

Keteguhan untuk memperjuangkan lingkungan juga ada pada diri Mahariah. Wanita yang berprofesi sebagai guru agama itu pun berniat untuk mengedukasi masyarakat agar bisa menjaga lingkungan hidup tempat tinggal mereka di Kepulauan Seribu.

Namun jalannya tak serta merta mulus. Dalam aksinya menumbuhkan kesadaran masyarakat, dia sempat mendapatkan penolakan dari warga. Mahariah kerap ditolak saat mendatangi dari rumah ke rumah menawarkan edukasi memilah sampah. Ia juga kerap diprotes para orangtua murid ketika siswa-siswa pengajiannya diajarkan cara memilah-milah sampah. 

Setelah melihat penolakan dari orang-orang tersebut, Mahariah mulai berpikir untuk mengedukasi para orangtua dengan masuk ke majelis taklim dan membahas pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, ia juga menjalankan program ekowisata. Kini kegiatannya itu telah berjalan lebih dari 15 tahun.

“Baru setelah itu 2007 ada penanaman mangrove. Dari situlah mulai tumbuh kecintaan. Oh, menanam mangrove ini ternyata menarik, ya" ujar wanita kelahiran 30 Desember 1969 itu. Namun sayangnya, pada tahun 2007/2008 ketika Jakarta mengalami banjir bandang, Pulau Pramuka pun menderita banjir sampah. Akibatnya, mangrove yang telah ditanam kala itu pun habis tersapu banjir sampah dari daratan Jakarta. 

Dalam penanaman mangrove, Mahariah menggunakan metode rumpun berjarak. Satu rumpun mangrove akan ditanam sekitar 550 batang. Hal itu dilakukan lantaran apabila ditanam secara terpisah, bibit-bibit mangrove akan terseret ombak, terlebih jika adanya sampah kiriman dari daratan yang terbawa oleh ombak.

Kini, jerih payah dan keteguhan tekad Mahariah pun telah memetik hasil yang indah. kegiatan pemilahan dan pengolahan sampah anorganik menjadi barang bernilai guna, hingga pengolahan sampah organik limbah rumah tangga menjadi sumber energi mandiri ramah lingkungan telah diterapkan masyarakat KBA Pulau Pramuka. 

Hingga kini, telah ada komunitas Rumah Literasi Hijau dengan 36 relawan aktif. Selai itu komunitas ini juga melakukan pendauran ulang sampah, pemanfaatan plastik yang bisa diubah menjadi bahan bakar, wisata mangrove, dan memiliki beberapa homestay untuk para pengunjung yang bertandang ke Pulau Pramuka.

Mahariah berpesan kepada orang-orang yang tinggal di daratan, seperti kota Jakarta dan sekitarnya, untuk menyadari dampak kegiatan sehari-hari mereka pada warga kepulauan. "Efek terbesarnya selalu dirasakan oleh orang-orang di kepulauan. Pemanasan global yang akan tenggelam ya kita duluan. Itu sebabnya penting bagi teman-teman di daratan untuk bersama-sama kami melakukan hal-hal yang bisa dilakukan karena kita berada di bumi yang sama," pungkasnya.



No comments:

Post a Comment

Popular Posts