Wednesday, August 17, 2022

Dua Sensasi Wisata Memukau di Jeneponto

Sulawesi Selatan masih memiliki banyak daerah yang belum atau jarang dijelajahi. Kali ini, saya berkesempatan menyambangi sebuah kabupaten tetangga Bulukumba, yaitu kabupaten Jeneponto. 

Hal yang masih saya ingat ketika terakhir kali melintasi kabupaten ini adalah deretan pedagang semangka di pinggir jalan utama Jeneponto. "Di sini memang terkenal sebagai penghasil semangka sih," ujar salah satu paman saya saat kami berkendara menuju ke Malakaji di tahun 2005 kala itu.

Meski cuma sekedar lewat dan melihat keindahan alamnya, saya berkesempatan mengunjungi dua area wisata di Jeneponto. Yang satunya wisata pemandangan alam, yang satunya lagi wisata kuliner Jenoponto.

Baling-Baling Jeneponto

Sebenarnya saat teman saya mengatakan akan membawa saya mengunjungi baling-baling di Jeneponto, saya sama sekali tidak kepikiran kalau yang dimaksud itu kincir angin raksasa ini. Karena Jeneponto adalah salah satu kabupaten pesisir pantai di Sulawesi Selatan, baling-baling yang saya pikirkan adalah baling-baling kapal. Ternyata baling-baling yang dimaksud adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Jeneponto. 

PLTB Jeneponto adalah PLTB terbesar kedua di Indonesia, setelah PLTB Sidrap yang sama-sama berada di provinsi Sulawesi Selatan. PLTB Jeneponto mulai beroperasi September 2019 dengan total 20 kincir angin setinggi 133 meter dan panjang baling-balingnya mencapai 63 meter. Setiap turbin anginnya diperkirakan bisa menghasilkan listrik sebesar 3,6 Megawatt.

balin-baling jeneponto

Saat berdiri di bawah salah satu turbin anginnya, saya benar-benar terpesona melihat seberapa tingginya pembangkit listrik tenaga angin ini. Rasanya saya menjadi seperti semut yang tak ada artinya di bawahnya. Maklum, biasanya saya hanya melihat kincir angin raksasa ini lewat foto atau video saja. 

Oh ya, karena namanya PLTB, seharusnya kepanjangan dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (angin). Tapi disana diplesetin jadi Pembangkit Listrik Tenaga Baling-Baling, secara kan itu baling-balingnya gede banget tuh kan. 

Jadi dari situlah kenapa PLTB ini lebih familiar disebut Baling-Baling ketimbang kincir angin atau PLTB.

Dengan potensi alam Indonesia yang berlimpah, saya berharap semoga semakin banyak pembangkit listrik hijau dan terbarukan seperti ini ya. Apalagi di tanah air tercinta ini banyak daerah, terutama daerah pinggir pantai yang punya potensi angin kencang, bukan?! Misalnya, Pantai Krui di Lampung, pantai Laguna Pari di Sawarna, Banten, atau Pantai Glagah di Yogyakarta.


Tak Penasaran Dengan Coto Kuda

Siapa yang tidak kenal dengan kuliner Coto Makassar, makanan khas Sulawesi Selatan yang paling tersohor itu. Dengan paduan rasa dari berbagai rempah dan potongan daging sapi, coto Makassar sangat nikmat jika disantap dengan ketupat atau pun buras. 

Tapi, tahukah kalian kalau di kabupaten Jeneponto ini, kuliner Coto Makassar disajikan dengan daging kuda??? 

Meski sebelumnya saya pernah berkali-kali mengunjungi Makassar, dan beberapa kali melewati Jeneponto, saya sama sekali belum berkesempatan mencicipi kuliner satu ini. Jadwal trip bersama keluarga soalnya tidak termasuk wisata kuliner unik euy. *Di situ saya merasa sedih* 

Alhamdulillah pas trip akhir maret lalu, akhirnya saya berkesempatan mencicipi Coto Kuda ini. Saya dibawa oleh teman saya menuju ke warung Coto Kuda Turatea Belokkalong yang terletak di jalan Lanto Dg Passewang.  Posisinya berada persis di pinggir jalan antar kabupaten Makassar - Jeneponto - Bulukumba. Jadi, posisinya sangat strategi dan mudah terlihat. 

Di sini, saya pun memesan semangkok coto kuda. Secara garis besar rasa dagingnya mirip sama daging sapi, namun lebih berserat dan sedikit kenyal. Namun saya tidak hanya mencicipi coto kudanya saja, tapi juga sop konro daging kuda. Sop konro itu sebenarnya pesanan teman saya yang tidak sanggup menghabiskannya, karena kami berdua juga berbagi 2 mangkok coto kuda teman lain yang juga tidak selesai. Untung saya sudah biasa menampung limpahan makanan teman yang tidak habis ya. Hehehe. 

kuliner khas jeneponto

Akhirnya, rasa penasaran saya selama 17 tahun pun bisa tertuntaskan juga. Sekarang, saya tak penasaran lagi dengan coto kuda Jeneponto. Ini kuliner khas yang wajib dicoba jika berkunjung atau sekedar melewati Jeneponto. Kapan lagi bisa merasakan sensasi daging kuda yang gurih dan nikmat ini, kan. 

Ngomong-ngomong, ada yang sudah pernah makan daging kuda?? (EKW)

10 comments:

  1. Belum pernah makan daging kuda. Apa enggak lebih mahal itu dari daging sapi?

    ReplyDelete
  2. Ternyata Janeponto kok Keren yak 👩‍💻💡
    Aku mah cuma Lewat doang,
    Mana Bersih banget lagi kotanya 👩‍💻

    ReplyDelete
  3. Wah jangankan makan dagingnya, naik aja belum pernah hahaha ...
    Paling naik delman yg ditarik kuda, pernah.
    Penasaran ya jadi pengen nyicip Coto dan soup konro kuda

    ReplyDelete
  4. Awalnya mikir kenapa PLTB bukan PLTA untuk angin. Oh ya ya supaya ga rancu karena A udah dipakai untuk air.

    Kalau coto kuda belum pernah makan. Agak gimana yak bayangin kuda gede kekar gitu dimakan. Heheh

    ReplyDelete
  5. Pernah dengar perihal Jeneponto, tapi belum berkesempatan kesana. Dan pernah dengar juga salah satu yg unik itu ya Coto kuda. Katanya dulu ini tuh hidangan ini disajikan untuk para raja dan bangsawan aja ya..

    ReplyDelete
  6. Selain di Sulawesi, rasanya aku belum pernah menemukan ada yang jualan daging kuda di Jawa, kak.
    Wah..beneran antara penasaran sama kasian juga yaa.. Kuda-kuda itu dimakan dagingnya. Huhu.. Hanya belum terbiasa dengan kuda djadikan menu utama sebuah masakan sih..

    Apa yang jualan coto kuda Jeneponto ini banyak di sepanjang jalan?

    ReplyDelete
  7. Belum pernah makan soto kuda. Rasanya bikin penasaran. Jadi pengen cobain ke jeneponto. Nama yg unik. Aku kira di jepang. Hehe

    ReplyDelete
  8. Aaaakkk, Coto Kuda ini emang legend ya Mba :) Sulawesi (secara umum) itu ngangenin sih, kalau saya sempat tinggal di SulTeng dan beneran jatuh cinta sama pantai-pantainya; Ampana, Luwuk, Morut, Buol, BangKep... :D

    ReplyDelete
  9. Aku belum pernah ke Jenepoto mbak.
    Tetapi punya tetangga yang asli sana, pernah kasih aku coto kuda
    Enak ya mbak

    ReplyDelete
  10. wah saya jadi penasaran sama PLTB-nya itu berarti bisa digunakan buat listrik ya? jujur nama jeneponto juga baru pertama kali nih saya dengar nama daerahnya ternyata ada di sulsel yaa

    ReplyDelete

Popular Posts