BALI: JALAN-JALAN KESASAR

Menginjakkan kaki di Denpasar ini sering membawa saya tersenyum atau ketawa sendiri. Bukan karena ada pemandangan lucu di hadapan saya, namun teringat percakapan saya dengan seorang teman dari Eropa tentang pulau Dewata ini beberapa tahun lalu.

Saat itu dia bilang ingin berkunjung ke Bali dan ingin mencari tempat yang less touristy atau bukan tempat wisata terkenal gitu deh. Saat itu saya menyarankan sebaiknya mencari penginapan di luar kota Denpasar karena selain tempatnya lebih sepi, harganya pun enak di kantong. 

Dengan polos dia menjawab saran saya dengan kalimat: "Endah, but I wanna go to Bali, I don't wanna go to Denpasar" dan saya cuma menjawab "I know, but Denpasar is the capital of Bali". Dan dia pun bengong. Huahahaha.. Rasanya kalau yang ngomong di hadapan saya saat itu adalah teman dekat, mungkin sudah saya ketawain. Sebegitu terkenalnya pulau Bali dan sebegitu asingnya Denpasar di mata orang asing ya. Hahahahaha..

Meski banyak objek wisata yang bisa dilihat di kota ini, namun saya sendiri belum menentukan mau kemana hari ini. Dengan berbekal motor pinjaman teman saya, Indah Kusumarini, saya pun berkeliling kota Denpasar meski tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM) *Perhatian! contoh jelek.. jangan ditiru!*
Dari kawasan Universitas Udayana, saya pun meluncur dengan sepeda motor menyusuri jalanan kota. Patokan jalan saya adalah plang penunjuk jalan. 

Pertama kali keluar dari kawasan Udayana, saya berinsiatif menuju Kuta. Namun setelah melewati beberapa perempatan dan plang penunjuk jalan, saya memutuskan untuk mengubah tujuan saya menuju ke Tanjung Benoa. Saat itu saya cuma mikir, saya sudah pernah ke pantai Kuta tapi saya belum pernah ke pantai di Tanjung Benoa. Dalam pikiran saya, kalau tidak salah Tanjung Benoa itu pantai pasir putih gitu deh. Jadi meluncurlah saya kesana dengan tetap berpatokan pada plang penunjuk jalan.

Sebelum memasuki areal Tanjung Benoa, saya sempat berhenti di pinggir jalan karena tertarik dengan bangunan klenteng di pinggir jalanan entah dimana itu. Setelah mengambil beberapa foto dari luar, saya pun melanjutkan perjalanan.
Klenteng di jalanan menuju Tanjung Benoa
Semakin menuju ke wilayah Tanjung Benoa, saya semakin bingung. Jalan yang saya lalui semakin lebar dan sepi, mirip jalan tol yang masih baru! Kanan kiri jalan adalah hutan bakau. Sempat ada kepikiran mau berputar balik, tapi seperti tadi saya bilang, ini jalan mirip jalan tol, tidak ada putaran baliknya. Ragu, tapi tetap jalan terus! *ini saya lagi dimana ya?* *tanya kenapa*
Beberapa ratus meter didepan saya tiba-tiba terlihat bangunan seperti gerbang tol. Haduh! Seriusan itu gerbang tol??? Saya naik motor ini, mana tidak punya SIM pula, bisa kena pidana berlapis ini!!! *Panik mode ON*

Tiba-tiba dari belakang saya ada dua motor yang melaju dan memasuki gerbang apapun itu dan mereka terlihat membayar sesuatu. Hmm, baiklah! Sok percaya diri dan tenang. Begitu memasuk gerbang itu, saya pun mengeluarkan selembar lima ribuan, menyerahkan kepada orang yang ruangan kecil itu, dan dia pun memberikan kembalian selembar dua ribuan dan seribuan dan secarik kertas kecil. Saya pun segera melaju meninggalkan gerbang itu.

Setelah agak jauh, saya berhenti di pinggir jalan yang teduh, memasukkan uang ke dalam saku dan memperhatikan secarik kertas tadi yang ternyata bertuliskan TARIF MASUK MOTOR KE PELABUHAN BENOA RP. 2.000,- !!

Hah!! Apa!! Ngapain saya di Pelabuhan??? Kok pelabuhan sih?? Tanjung Benoa itu bukannya pantai ya??? Pantai macam Kuta begitu bukan ya?! *bego tingkat dewa* *pantai pasir putih.. mana pantai pasir putihnya???* *garuk-garuk trotoar jalanan*

Setelah bengong beberapa saat di pinggiran jalan, saya pun memutuskan kembali jalan dan mencari arah putar balik untuk keluar dari pelabuhan. Hadeuhh.. Mimpi apa saya semalam bisa nyasar di pelabuhan?!
Setelah keluar dari wilayah pelabuhan, saya pun berinsiatif, lagi, untuk pergi ke areal Nusa Dua.  Ada apaan disana? Tidak tahu, makanya saya mau kesana, mau lihat ada apa disana. *Ngeles.com* Saat sedang dalam perjalanan itu saya melihat ada plang museum Pasifika yang berada di Nusa Dua. Hmm.. Baiklah! Mari kita ke museum saja.
Museum Pasifika di areal Nusa Dua
Nusa Dua itu ternyata sebuah resort yang cukup ketat penjagaannya. Saat masuk di pintu gerbangnya, saya sudah dicegat sama security dan ditanyai mau kemana, bahkan sempat mau diminta KTP. Hadeuuh.. Ketika saya bilang mau ke museum Pasifika mereka pun baru mengizinkan saya masuk. Kira-kira kalau saya jawabnya mau jalan-jalan dan melihat-lihat pemandangan dizinkan masuk tidak ya?! Hehehe..

Setelah selesai menikmati museum, saya pun sempat berkeliling di sekitar Nusa Dua resort sebelum akhirnya memutuskan keluar dari tempat ini. Resortnya terlalu mewah, bingung mau kemana *Dasar norak, kampungan* Hahaha...

Saya pun kembali berada di jalanan Denpasar, keliling-keliling tidak jelas begitu mau kemana. Setelah beberapa saat, saya kembali melihat plang penunjuk jalan yang menunjukkan jalan menuju Uluwatu. Hmm.. Sepertinya boleh juga itu daerah saya sambangi. Ada apa disana? Entah! *Bego kok dipelihara sih?*

Saat berkendara menuju kesana, tanpa sengaja saya melihat plang nama Garuda Wisnu Kencana (GWK). Wahh.. Ternyata searah sama Uluwatu toh. Baiklah, segera nenyusun rencana akan mengunjungi GWK setelah pulang dari Uluwatu.

Saat melewati daerah Pecatu, saya sempat melihat ke sebelah kiri saya dan menyadari bahwa sebenarnya di sebelah kiri saya kemungkinan adalah area pantai. Hal itu bikin saya mulai mengatur strategi lagi untuk mencari tahu apakah benar di sekitar daerah itu adalah pantai. Saya pun mencoba mencari belokan ke arah kiri yang bisa dilalui. Sumpah! Ini murni pakai feeling saja mencarinya.

Setelah mendapatkan belokan ke arah kiri, saya pun terus mengikuti jalan sambil celingak-celinguk kanan kiri. Mau bertanya sama orang, tapi bingung, itu jalanan meskipun beraspal tapi sepi aja. Ini perkampungan apaan sih?? *tanyakan pada rumput yang bergoyang dan bunga di tepi jalan* Saking sepinya, saya sampai tidak berani mengeluarkan kamera DSLR saya untuk memotret, takut dari balik semak-semak tiba-tiba muncul perampok. *Parno mode ON* Beberapa saat kemudian saya memasuki areal perumahan elit dan private. Hmm.. saya masih di Bali kan?! Kenapa saya bisa nyasar di dunia antah berantah begini deh? 

Dari wilayah perumahan itu, saya melihat ada gang kecil yang menuju ke kebun atau areal padang rumput dan semak-semak. Saya pun kemudian berhenti, mematikan mesin motor dan berjalan mengikuti jalanan setapak itu. Beberapa puluh meter di depan ternyata ada jalanan cukup besar yang bisa dilewati. Baiklah! Mari kita menjelajah. Segera balik, menyalakan motor dan kembali melanjutkan perjalanan.
Pura di daerah antah berantah.
hehehe.. 
Beberapa ratus meter kemudian saya melihat ada sebuah pura kecil di areal tersebut. Hmm.. Kembali celingak-celinguk sebelum akhirnya memarkir motor disamping pura tersebut. Saat sedang orientasi medan *maksudnya berkeliling sambil  melihat-lihat* di sekitar kawasan tersebut, tiba-tiba saya melihat pantai. Ia saudara-saudara, pantai!! Berarti dari tadi feeling saya benar dong. Sayangnya, saya baru tahu kalau posisi saya saat ini berada diatas tebing yang tingginya bisa lebih dari 20 meter. Jadi pantai itu ada dibawah!! Arghh!! Pantai.. saya mau ke pantai!! *ngacak semak-semak*
pantainya dibawah sana!! 
Pantai pasir putih oh.. pantai pasir putih.. 
Tebing yang tinggi.. 
Mondar-mandir di sekitar pura itu saya pun melihat sebuah pintu gerbang dan tangga yang sepertinya menuju kebawah. Namun pintu gerbang itu dikunci.. Huah!! *nangis bombay* Kalau tidak ingat saya sedang bawa motor teman nih, bisa saya panjatin tuh pagar. Argh! padahal dibawah itu pantai pasir putih tuh.. *ngacak-ngacak semak lagi* Sudahlah. Belum rezeki main-main di pantai sepertinya.

Pintu gerbang menuju ke bawah yang terkunci

Setelah manyun sekian menit karena tidak bisa ke pantai, saya pun kembali menyusuri jalanan yang tadi saya lewati dan kembali  menyusuri jalan raya Denpasar - Uluwatu. Sambil menikmati perjalanan, saya baru sadar kalau di Uluwatu itu juga ada pura setelah melihat papan penunjuk jalan.

Belasan menit kemudian, saya pun sampai di tempat parkir pura Uluwatu, jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Setelah memastikan bahwa saya masih bisa masuk dan berkeliling, barulah tiket seharga Rp.15.000 itu saya beli.

Saat memasuki kawasan Pura Uluwatu, salah seorang penjaga menyarankan saya untuk berhati-hati dan menyimpan kacamata saya. Saya cuma tersenyum mendengarnya sambil berjalan masuk. Pas baru melangkah beberapa meter, saya melihat ada seekor monyet di tengah jalan. Waduh.. Pantesan tadi disarankan untuk menyimpan kacamata. Tapi tidak mungkin juga saya jalan-jalan tanpa kacamata secara mata saya minus 6 dan minus 5. Itu artinya saya baru bisa melihat tulisan dengan jarak sejengkal dari wajah saya.
Pura Uluwatu 
Areal pura Uluwatu di tebing yang tinggi
Pagoda utama Pura Uluwatu
Untungnya dibelakang sayaada segerombolan orang yang juga baru datang dan si monyet itu ketika melihat gerombolan orang ini pun segara menjauh. Fiuh! Lega. Sekitar 30 menit lebih saya mengitari pura Uluwatu, dari Timur ke Barat, Selatan ke Utara. Setiap mau berjalan, saya memastikan terlebih dahulu bahwa setidaknya 50 meter di depan saya tidak ada monyet yang berkeliaran. Jika ada, saya langsung balik arah. Hehehe..

Saat akan mengakhiri masa berkunjung di Pura Uluwatu, saya sempat melihat berjalan ke arah Barat Daya kawasan pura. Saat tiba disebuah saung, sedang duduk dan berbincang dengan seorang penjual aksesoris, entah darimana datangnya, tiba-tiba saya sudah berada di tengah gerombolan monyet. Saat saya sedang baru menyadari bahwa saya harus segera pergi, tiba-tiba ada seekor monyet dari belakang saya yang tiba-tiba mengambil kacamata saya dan langsung berlari entah kemana.

Arghh!! Kacamata saya!! Balikin woy.. Balikin!!! Parahnya lagi di sekitar saya tidak ada seorang pun dalam jarak 50 meter selain si ibu penjual aksesoris tadi. Sedangkan tuh monyet sudah berkeliaran menjauh dan bergabung bersama kawanannya. Saya sama sekali tidak bisa melihat monyet mana yang sedang  memegang kacamata saya. Huahh!! *nangis bombay banget!!*
Sekitar 10 menit sebelum "perampokan" 
Jangan percaya sama muka memelasnya
Ini monyet garong!
Saat salah satu guide di pura Uluwatu datang untuk membantu mengambilkan kacamata saya, saya hampir histeris. Ehh.. itu  guide malah ngomong "Mbak, kok tidak dilihatin sih mana monyet yang mengambil kacamatanya? Kalau tahu mana monyet yang ambil kacamatanya baru saya bisa bantu tukar dengan pisang" Woy.. bagaimana caranya saya bisa lihat??? Mata saya minus 6 woy... Minta diajakin berantem nih guide. *manyun mode ON*

Yasudahlah.. Dengan wajah masih ditekuk, manyun dan hampir nangis, saya pun keluar dari kawasan pura Uluwatu. Saat itu hari sudah mulai gelap. Hadooh.. Ini bagaimana caranya saya balik ke Denpasar tanpa kacamata dengan mengendarai motor?? Apalagi ini mulai gelap. Mata minus disebut sebagai rabun senja ada sebabnya, karena saat mulai gelap, itu kondisi mata rabun paling parah.

Akhirnya saya pun mengendarai motor pelan-pelan sambil menyipitkan mata beberapa kali. FYI, meski saya pandangan mata ngeblur abis.. tapi saya masih bisa melihat siluet benda atau orang di kejauhan. Jadi jika jalanan sepi saya bisa ngebut, tapi saat jalanan ramai saya harus berjalan pelan-pelan. Setiap melihat siluet orang dikejauhan, saya pun menghampirinya dan bertanya dimana toko optik atau toko kacamata terdekat. Saking putus asanya karena kehilangan kacamata, saya bahkan bertanya dimana toko optik sama orang Bule yang ada di pinggir jalan. Yaelah!! Mana dia tahu, Ndah?? Ditanya mana jalanan ke arah Denpasar saja dia tidak tahu, apalagi toko kacamata. *Bego tingkat dewa*

Setelah bertanya pada puluhan orang di jalanan, baru sekitar pukul 20.00 saya ketemu dengan toko optik di pinggiran jalan. Pas nanya butuh berapa lama untuk buat kacamata dengan minus 6, jawabannya, 3 hari!!! itu sudah paling cepat. Oke, langsung cabut cari toko optik lainnya. Kembali bertanya sama belasan orang di jalanan. Setelah berkeliling-keliling sambil tetap menyipitkan mata untuk membaca setiap plang nama yang ada dijalan, akhirnya ketemu juga sebuah toko optik di sebuah jalan entah apa nama jalannya. Begitu masuk, langsung bertanya: "bisa bikin kacamata minus 6 malam ini juga jadi?" Penjualnya pun langsung masuk kedalam mengecek stok dan saya pun menunggu sambil harap-harap cemas.

Begitu penjualnya keluar dan berkata: "ada stock dan bisa malam ini" itu rasanya pengen naik keatas meja sambil joget-joget. Alhamdulillah!! Senangnya!!! Langsung pesan 1 paket kacamata minus 6 dan minus 5. Sayangnya, saya lupa bilang kalau saya punya silinder 1/2. Pas saya bilang, penjualnya pun ternyata tidak punya stock minus 6 dengan silinder 1/2. Mereka cuma punya stock minus 6 dan minus 5 tanpa silinder. Minus setinggi itu dengan silinder harus dipesan dulu seminggu.

Yasudahlah.. Beli yang itu saja dulu, meski bakalan pusing karena tidak ada silindernya, setidaknya saya masih bisa melihat dengan baik. Harga? Rp.675.000,- Huahh.. Mahal!! Minggu lalu saya beli 2 kacamata + 1 sunglasses dengan minus 6 di Mangga Dua total cuma Rp.750.000. Namun apa daya, saya butuh kacamata itu sekarang, jadilah melayang lembaran ratusan ribu rupiah dari dompet saya.  Hiks..hiks..hiks.. Selanjutnya telepon Irma Siregar untuk minta bantuan cadangan dana.

Sekitar sejam kemudian kacamata pun selesai. Ahh leganya, bisa melihat lagi. Saatnya pulang ke rumah. Sayangnya karena dari tadi sibuk mencari toko optik, sekarang saya tidak tahu sedang ada di wilayah Denpasar sebelah mana. Kembali lagi bertanya sama orang di jalanan arah ke Universitas Udayana dan saya baru sampai di rumah teman saya pukul 23.00. Hadeuh.. Maaf ya! Saya sampai mengganggu jadwal tidurnya.

Hari ini traveling benar-benar deh banyak banget kejadiannya. Dari yang bikin senang, bingung, sampai bikin marah dan nangis. Pokoknya paket lengkap traveling pakai beragam emosi deh! Dan dengan kejadian hari ini, saya resmi TIDAK SUKA MONYET! Sekian dan terima kasih.  (EKW)



Comments

  1. hwaghaghaghag.. untung wae yg dicuri kacamata, bukan hatimu yo, mbak :D :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. idih.. gak rela juga hati gw dicuri sama monyet..

      Amit-amit cabang olahraga dewh.. :D

      Delete
  2. Waduh, saya pernah ke Uluwatu juga, motret laut. Saya jalan kaki sendirian sampai ujung tebing ngikutin jalan. Alhamdulillah nggak ada serbuan monyet, padahal ya saya juga pakai kacamata. Itu berarti monyetnya ngambil diam-diam dari belakang gitu ya mbak? Manjat badanmu dong?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. monyetnya ngambil diam-diam dari belakang..
      monyetnya tidak manjat di badan kok karena posisi saya lg duduk di saung..

      Delete
  3. hhahahhaa, seru seru... nyasar, diserbu monyet. pengalaman yang tidak mengenakkan tapi bisa jadi, tak terlupakan...

    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Kalau diingat kembali sih emang seru dan bikin ketawa2 sih..

      Salam

      Delete
  4. sama mbak, saya juga takut banget sama monyet...
    mereka lucunya kalau dikartun aja..

    ReplyDelete

Post a Comment