Kabupaten Nunukan dikenal sebagai salah satu wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Makanya saat traveling ke Nunukan tuh menjadi kesempatan yang tidak boleh saya lewatkan. Apalagi saya memang pernah melakuan roadtrip lintas negara Brunei-Malaysia, Kamboja-Thailand dan Thailand-Malaysia.
Saat tiba di Nunukan, saya baru tahu kalau ternyata kabupaten ini memiliki beberapa kampung budidaya rumput laut. Hamparan laut yang luas, perairan yang relatif tenang, serta kondisi alamnya yang mendukung membuat Kabupaten Nunukan sebagai salah satu sentra produksi rumput laut terbesar di Indonesia.
Menelusuri Kampung Mamolo, Kampung Budidaya Rumput Laut di Nunukan
Salah satu kawasan budidaya rumput laut yang terkenal berada di Kampung Mamolo, Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan. Kampung yang terletak di tepian laut ini hampir tidak pernah sepi dari aktivitas para petani rumput laut.
Sejak pagi hari, sebagian masyarakat sudah mulai menuju ke lokasi
budidaya menggunakan perahu kecil untuk memeriksa tali-tali tempat rumput laut
tumbuh. Sebagian masyarakat lainnya menuju ke area penjemuran dan area persiapan pembibitan rumput laut.
Rumput laut telah menjadi sumber penghidupan utama bagi
sebagian besar warga Kampung Mamolo. Hasil panen yang diperoleh setiap tahun
mencapai sekitar 36 ribu ton. Jumlah tersebut menjadikan kampung ini sebagai
salah satu kontributor penting dalam produksi rumput laut Kabupaten Nunukan.
Angka tersebut bahkan belum mencakup hasil budidaya dari kampung-kampung lain
yang tersebar di berbagai wilayah pesisir Nunukan.
Saat pertama kali menjejakkan kaki di kampung Mamolo, saya mencium aroma khas rumput laut yang bercampur dengan angin
laut menciptakan suasana yang begitu lekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.
Aktivitas ini melibatkan seluruh anggota keluarga, mulai dari orang tua hingga
anak-anak yang membantu proses pembibitan, pengeringan hingga pengemasan hasil panen.
Meski memiliki potensi produksi yang besar, para petani rumput laut masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu persoalan utama adalah menjaga kualitas hasil panen agar tetap seragam. Perbedaan kadar air dan tingkat kekeringan rumput laut sering kali memengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Kondisi ini membuat hasil panen sulit memenuhi standar yang sama sehingga nilai jualnya belum dapat mencapai harga yang optimal.
Menurut Kamarudin, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mamolo
Indah Lestari, keseragaman kualitas panen masih menjadi pekerjaan rumah bagi
para petani. Perbedaan teknik pengeringan, kondisi cuaca, serta fasilitas yang
terbatas menyebabkan kualitas rumput laut yang dihasilkan belum sepenuhnya
merata. Akibatnya, sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk
bahan mentah.
Karena masih dijual sebagai bahan baku, nilai tambah yang
diterima masyarakat pun belum maksimal. Padahal, rumput laut dapat diolah menjadi
berbagai produk bernilai ekonomi tinggi seperti agar-agar, kosmetik, bahan
pangan, hingga bahan baku industri farmasi.
Masalah Lingkungan di Kampung Budidaya Rumput Laut
Di balik keberhasilan sektor budidaya rumput laut, terdapat
persoalan lingkungan yang juga perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah
limbah botol air kemasan yang digunakan sebagai alat apung pada instalasi
budidaya rumput laut. Selama bertahun-tahun, botol plastik bekas menjadi
pilihan karena mudah diperoleh dan biaya penggunaannya relatif murah.
Namun, penggunaan botol plastik sekali pakai menimbulkan
masalah baru setelah masa panen berakhir. Banyak botol yang rusak atau tidak
lagi digunakan kemudian dibuang begitu saja. Seiring waktu, limbah tersebut
dapat menumpuk di kawasan pesisir maupun terbawa arus laut. Jika tidak dikelola
dengan baik, sampah plastik berpotensi merusak keindahan lingkungan, mencemari
perairan, dan mengganggu ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan
masyarakat.
Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan mendorong beberapa masyarakat Kampung Mamolo segera mencari solusi yang lebih berkelanjutan. Salah
satu upaya yang dilakukan adalah mengolah sampah plastik menjadi alat apung dan
rak penjemur rumput laut yang lebih kuat dan tahan lama. Inisiatif ini
dikembangkan oleh kelompok pengelola Bank Sampah “Karya Bersama” yang juga
berada di Kampung Mamolo.
![]() |
| Alat jemur rumput laut hasil daur ulang |
![]() |
| alat apung rumput laut hasil daur ulang |
Menurut Jalu, pengelola Bank Sampah “Karya Bersama”, alat apung dan alat jemur hasil daur ulang memiliki keunggulan karena dapat digunakan berulang kali sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan botol plastik baru. Selain membantu mengurangi jumlah sampah, inovasi ini juga memberikan manfaat ekonomi karena biaya operasional budidaya dapat ditekan.
Langkah kecil ini mungkin belum dapat terlaksana secara masif karena tingginya biaya produksi alat apung dan alat jemur ini. Namun hal ini sudah bisa menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Mamolo
tidak hanya berupaya meningkatkan hasil produksi rumput laut, tetapi juga
berusaha menjaga lingkungan tempat mereka hidup dan bekerja.
Di tengah hamparan laut yang menjadi sumber penghidupan, tumbuh kesadaran bahwa keberlanjutan ekonomi dan kelestarian alam harus berjalan beriringan. Dengan semangat gotong royong dan inovasi yang terus berkembang, Kampung Mamolo menjadi contoh bagaimana potensi sumber daya pesisir dapat dikelola untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga lingkungan bagi generasi mendatang. (EKW)

.webp)









MasyaAllah. Masalah sampah ini nyata, dekat, tapi bisa menghadirkan solusi yang efektif, ya. Moga lancar terus buat para warga Nunukan.
ReplyDeleteUsaha yang sangat bagus. Saya setuju dengan kegiatan yang dilakukan agar lingkungan gak sm rusak. Btw, kapan ya saya bisa datang ke Nunukan?. Do'akan saya secepatnya bisa kesana. Amin
ReplyDeleteSalut dengan kesadaran yang dimiliki masyarakat Kampung Mamolo ini. Mereka tau ya akan pentingnya menjaga lingkungan sehingga beberapa masyarakat segera mencari solusi yang lebih berkelanjutan.
ReplyDeleteUpaya yang dilakukan mengolah sampah plastik menjadi alat apung dan rak penjemur rumput laut yang lebih kuat dan tahan lama ini inspiratif banget
Salut untuk kelompok pengelola Bank Sampah “Karya Bersama” yang juga berada di Kampung Mamolo otu
Sepertinya semua hasil alam kita memiliki PR yang kurang lebih sama, ya. Tentang mengolah hasil alam menjadi sesuatu yang bisa lebih tinggi nilai jualnya. Makanya, sampai saat ini, langkah terbesarnya masih sebatas mengirim bahan mentah. Semoga tantangan ini bisa segera ada solusinya.
ReplyDeleteAsli rasanya geram banget liat tumpukan sampah yang keangkut warga saat budidaya rumput laut. Tapi keren sih masyarakat setempat tuh udah aware banget perihal pelestarian lingkungan sampai bisa buat alat apung rumput laut hingga jemurnya bisa di modif lebih bermanfaat dari dari daur ulang
ReplyDeleteSeru sekali bisa mengenal Kampung Mamolo lewat tulisan ini. Selain indah, ternyata banyak cerita tentang kehidupan masyarakat dan budidaya rumput laut yang menarik untuk diketahui. Jadi makin ingin mengeksplorasi Kalimantan Utara.
ReplyDeleteAmazing, terkesima dan salut banget sama warga di Kampung Mamolo. Mereka tuh memikirkan kelestarian alam, bahkan membuat inovasi dan gebrakan supaya alam dan lingkungan terjaga.
ReplyDeleteRumput laut yang dihasilkan tidak sedikit ya. Sangat menarik bahkan informatif sekali mbak Endah. Saya membacanya beneran serasa diajak eksplor langsung.
Amazing, terkesima dan salut banget sama warga di Kampung Mamolo. Mereka tuh memikirkan kelestarian alam, bahkan membuat inovasi dan gebrakan supaya alam dan lingkungan terjaga.
ReplyDeleteRumput laut yang dihasilkan tidak sedikit ya. Sangat menarik bahkan informatif sekali mbak Endah. Saya membacanya beneran serasa diajak eksplor langsung.
Karena memang masyarakat umumnya berupaya pakai cara-cara yang termudah dulu ya, sebab untuk peralatan yang lebih canggih mungkin juga belum terjangkau, meski ternyata ada risiko dampak ke lingkungan. Jadinya bagus kalau ada inovasi seperti ini, dan semoga bisa makin meluas pemakaiannya untuk membantu perekonomian setempat sekaligus melindungi kelestarian lingkungna hidup.
ReplyDeletekagum banget dengan cara masyarakat dalam merespon kondisinya.
ReplyDeletesetelah mendapat berkah dari alam memang sudah sepantasnya mengusahakan yang terbaik juga untuk menjaga alam agar tetap lestari
Wah keren banget warga kampung mamolo ini yang turut memikirkan juga terkait limbah plastik proses pengumpulan rumput laut. Dengan begini selain bisa panen rumput laut masalah limbah plastiknya bisa diatasi ya
ReplyDeleteMelihat aktivitas budidaya rumput laut di Kampung Mamolo dari dekat bikin saya semakin kagum pada semangat masyarakat pesisir Nunukan yang begitu akrab dengan alam dan terus berinovasi menjaganya. Dan nilai yang bisa dipetik bahwa laut bukan sekadar pemandangan, tapi ruang hidup yang penuh cerita
ReplyDeleteMasyarakat disana bagus sudah ada kesadaran mendaur ulang sampah plastik sehingga llingkungan tidak tercemari dengan limbah plastik. Sayang masih terkendala modal yaa, semoga ada mendapat bantuan dari pemerintah. Agar denyut ekonomi meningkat dan kebersihan lingkungan terjaga
ReplyDeleteManfaat lingkungan dapat, cuan juga dapat. Keren
ReplyDeleteAku baru tahu kalo pakai botol minum buat cari rumput laut ini loh. Aku kira ya tinggal pake jaring/motong di karang gitu utk rumput lautnya.
ReplyDeleteTernyata ga semudah itu ya utk mencari rumput laut. Butuh alat lain utk memanen. Dan ini masalah baru tuh kalo botol minumnya hanya sekali pakai.
Smg masalah ini lekas selesai ya kak. Dan hrs diselesaikan pula industri hilir rumput laut. Jadi ga cuman ekspor rumput laut mentahnya aja.