Showing posts with label backpacker. Show all posts
Showing posts with label backpacker. Show all posts

Sunday, April 19, 2020

TRAVELING DAN JALANI HIDUP APA ADANYA

Entah kenapa teman-teman saya sejak dulu selalu selalu memandang hidup saya tergolong bahagia. Sering jalan-jalan, makan enak, punya banyak teman di mana-mana, punya banyak uang (mari kita aminkan saja saudara-saudara! Aminn!!!) dan masih banyak lagi yang lainnya. Padahal mah saya cuma menjalani hidup apa adanya, tanpa syarat ketentuan lho.

Bahkan beberapa teman pernah bilang kepada saya, "Pengen deh seperti kamu, ndah. Hidupnya lempeng banget, bahagia terus,"
tanpa syarat ketentuan
Siap-siap traveling kemana nih??
pastikan Freedom Internet IM3 Ooredoo buat jalan-jalan
dengan santai dan tanpat syarat ketentuan
Padahal mah yang namanya hidup sebenarnya ada aja sih beberapa kesulitan yang pasti saya alami. Skripsi ditolak dosen, kena tipes karena mengurangi jatah makan dengan drastis demi menghemat uang, tidak bisa pulang kampung (anak rantau kangen sama orangtua woyyy!!), atau ketinggalan pesawat buat liburan padahal sudah pegang cuti 5 hari??? Sakitnya tuh di sini, kakak.... *tunjuk isi dompet*

Wednesday, September 13, 2017

MENGENAL KAWASAN ANGKOR DI SIEM REAP

Kalau ditanya objek wisata di Kamboja yang paling terkenal, tentu saja Angkor Wat akan berada di list pertama. Kawasan kuil terbesar di Kamboja ini telah masuk sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1992. Angkor yang terletak sejauh 5,5 kilometer dari pusat kota Siem Reap ini menjadi agenda wajib yang harus dikunjungi oleh setiap traveler yang berkunjung ke Kamboja.
Tiket masuk menuju kawasan Angkor terbagi menjadi 3 jenis, tiket satu hari, 3 hari dan 7 hari. harganya pun berbeda-beda. Per bulan Maret 2017 (waktu saya mengunjungi Angkor Wat), tiket 1 hari seharga 37 USD, tiket terusan 3 hari seharga 62 USD, dan tiket untuk 7 hari seharga 72 USD. Secaranya keesokan harinya saya akan meneruskan perjalanan ke Thailand, maka tiket untuk 1 hari lah yang saya beli, dan setelahnya saya menyesal beli tiket ini. Kenapa? Baca saja sampai selesai ya. hehehe.

Dengan luas kawasan mencapai 400 kilometer persegi, Angkor Archeological Park sebenarnya adalah kawasan kerajaan kuno Kamboja yang dibangun oleh raja Suryavarman II pada abad ke 12 Masehi, sekitar tahun 1113 - 1150. Raja dari kerajaan Khmer ini awalnya membangun kawasan ini sebagai penghormatan kepada salah satu dewa umat Hindu, dewa Wishnu. Namun pada abad ke 14 Masehi kawasan kuil ini pun beralih fungsi menjadi kuil umat Budha.

Wednesday, December 16, 2015

NYASAR DI MALL KUALA LUMPUR

Hampir semua teman dekat saya tahu bahwa kalau saya masuk mall pasti nyasar. Cuma beberapa mall yang bisa saya masuki tanpa kesasar seperti Margo City dan Cilandak Town Square karena cuma punya 2 atau 3 lantai dan area depan dan belakang. Mall sekelas ITC Cempaka Putih, Thamrin City, apalagi Mall of Indonesia pasti saya butuh waktu setidaknya 20 menit untuk menemukan pintu keluar yang sama ketika saya masuk.

Demikian juga saat pertama kali ke Kuala Lumpur. Tanpa bekal peta apapun, saya tidak tahu kalau yang namanya KL sentral itu terintegrasi dengan mall NU sentral. Akibatnya, buat keluar dari tempat turun bus menuju ke area hostel yang berada tepat depan mall saja saya berputar-putar sampai hampir 1 jam dan keluar di pintu yang salah beberapa kali. Tiap kali keluar pintu ketemunya gedung-gedung pencakar langit melulu. Ehh itu ruko-ruko yang banyak penginapan dan cafe dimana ya?! *garuk-garuk kepala sambil sok sibuk mainin hape padahal tidak ada sinyal wifi yang nyambung juga* *jedotin kepala ke tembok*

Wednesday, August 12, 2015

CAHAYA DARI LANGIT DI GOA LAWA

Iseng-iseng main-main ke kampung orang setelah momen Lebaran membawa saya dan beberapa orang teman mengunjungi kawasan wisata Goa Lawa di Purbalingga, Jawa Tengah. Goa yang terbentuk akibat endapan lava dari gunung Slamet ini berada di desa Siwarak, kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Goa ini memiliki panjang 1,5 kilometer dengan luas mencapai 5 kilometer. Goa ini sudah dibuka untuk umum oleh pemerintah daerah setempat sehingga akses masuknya sudah terdapat jalur jalan yang diterangi lampu dan beberapa guide yang ada di beberapa titik.

Langkah kaki dan candaan ringan menemani dan menggema di seluruh sudut goa ketika kami memasuki tiap bagian lekukan goa. Saya dan teman mendadak berhenti di depan sebuah cekungan, cekungan itu pendek, tingginya hanya 1 meter. saya mencoba berjongkok dan mengarahkan sinar lampu senter ke dalamnya. Gelap! Tak ada cahaya yang memantul di dindingnya. Sepertinya lubang itu terlalu dalam dan kecil. Tidak seperti ruangan lain yang diberikan lampu di beberapa sudutnya.

Wednesday, July 22, 2015

MELIHAT SISI LAIN TEBING KARATON


Mendapatkan tawaran megunjungi salah satu tempat yang lagi happening di Bandung ini tentu saja tidak saya sia-siakan. Tebing Karaton. Wilayahnya merupakan bagian dari Taman Hutan Raya Juanda, Dago Atas, Bandung, Jawa Barat. Jadi, tiket masuknya sudah sepaket dengan biaya masuk Taman Hutan Juanda, Goa Jepang dan Goa Belanda. 

Begitu memasuki wilayah Tebing Karaton ini saya sedikit terkejut dengan banyaknya orang yang telah berada disana, terlalu padat malah untuk ukuran tebing sekecil itu. Itu sebabnya setelah mengambil beberapa foto di sekitar Tebing Karaton, saya memilih untuk berjalan menuju areal lain yang tidak terlalu ramai. Disini saya bisa melihat sisi lain Tebing Karaton dari kejauhan dan memotret beberapa sudut.

Wednesday, June 24, 2015

NGERI-NGERI SEDAP MENDAKI GUNUNG BATU


Ajakan ke gunung Batu di daerah Jonggol ini sebenarnya datang hampir seminggu sebelumnya. Namun berhubung cara menuju kesana dengan touring menggunakan motor dan hingga h-1 tidak ada motor yang bisa ditebengin, saya sih sudah membuang jauh-jauh niat kesana, meski penasaran.

Namun, namanya rejeki mau traveling mah emang tidak akan kemana deh, jam 5 pagi, usai sholat subuh, sebuah pesan whatsapp muncul menawarkan apakah masih niat ikut ke gunung Batu dari seorang teman, Mas Adhie karena tebengannya batal ikut. Tentu saja jawabannya IYA! *loncat-loncat kegirangan* Janjian jam 8 pagi di daerah Tebet, meluncurlah 3 motor dan 6 orang menuju ke kawasan Jonggol, Jawa Barat.

3 jam berkendara melewati jalan-jalan, perumahan, pedesaan hingga persawahan, sampailah juga di kampung Gunung Batu 1, desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Bogor yang terletak persis di bawah Gunung Batu. Awalnya pas mendengar kata Gunung Batu, saya pikir cuma namanya saja begitu, ternyata gunung ini beneran terbuat dari batu, bahkan lebih mirip tebing daripada gunung. Saya sampai bingung bagaimana cara sampai di puncaknya, mendaki lewat mana? Manjat? Kagak bawa peralatan manjat!

Wednesday, June 10, 2015

NANJAK CANTIK DI KEBUN YANG MENINGGI

Saat diajak nanjak ke gunung Munara oleh teman saya, saya sih cuma mengiyakan saja dengan alasan terbesar karena penasaran, saya belum pernah dengar nama gunung ini. Lebih penasaran lagi saat dibilang trip nanjak ke gunung di wilayah Rumpin, Bogor ini bisa berangkat pagi pulang sore, dijamin magrib sudah bisa sampai di rumah. Bahkan saat saya tanya mesti bawa logistik apa saja, teman saya cuma bilang bawa camilan dan minuman secukupnya saja. Hah?? Serius nih?? Gunung seperti apa dan setinggi apa sih Munara ini?? *Penasaran mode ON*
Puncak gunung Munara
Janjian ketemuan sama beberapa orang yang baru saya kenal di stasiun Bojong Gede membawa saya dan teman-teman baru ini menuju ke Kampung Sawah, Rumpin dengan angkot sewaan. Usai beristirahat di warung terdekat mulailah perjalanan menuju ke puncak gunung Munara. Terus terang saya tidak berekspektasi macam-macam soal gunung ini. Yang penting bisa ikut dan mengetahui seperti apa gunung munara ini.

Jalan santai melewati sungai, hutan bambu dan hutan lain-lainnya, saya bertemu dengan para pendaki lainnya, atau lebih tepatnya penduduk sekitar daerah Bogor dan Depok yang ingin sekedar menikmati keasrian alam. Kalau kata salah satu teman saat saya bertanya bagaimana jalur pendakiannya, dia cuma menjawab, ini jalur setapak biasa kok, Munara ini bukan gunung, cuma sekedar kebun penduduk yang meninggi. Heh?? Istilah macam apa itu?? Jelas-jelas tadi di bawah saya melihat puncak gunung Munara, yang ditandai dengan batu besar, itu cukup tinggi dan jauh kok.. Wow, sepertinya ada pendaki profesional nih disini.

Wednesday, June 3, 2015

PECICILAN DI STONE GARDEN

Siang-siang dan panas-panas begini memang rasanya salah pakai coat tebal main-main ke wilayah Stone Garden yang merupakan padang terbuka ini. Stone Garden, ini merupakan wilayah di Bandung Barat yang sedang menanjak kepopulerannya. Tepatnya berada di kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit, kecamatan Cipatat, Padalarang, Bandung Barat. Disebut sebagai stone garden karena di padang ini terdapat batu-batu besar berbagai ukuran di ketinggian sekitar 900-an mdpl dengan luas wilayah mencapai 2 hektar.

Biaya masuk ke wilayah taman bebatuan ini cukup murah, hanya Rp. 5.500/orang, itu sudah termasuk paketan ke goa Pawon di bawahnya. Sedangkan biaya parkir berkisar Rp.2.000 - Rp.5.000 tergantung kendaraannya. Oh iya, memasuki wilayah Stone garden, akan ada tambahan biaya, Rp. 3.000,-yang katanya sih semacam biaya kebersihan begitu deh.

Wednesday, May 6, 2015

ROADTRIP BRUNEI - MALAYSIA : 2 NEGARA 8 CAP IMIGRASI

Perjalanan dari Bandar Sri Begawan, Brunei menuju ke Kota Kinabalu, Malaysia bisa ditempuh dengan 2 cara, jalur laut dan jalur darat. Untuk perjalanan jalur laut bisa naik ferry dari pelabuhan Pekan Muara. Jangan tanya berapa harga dan bagaimana rasanya karena saya tidak memilih jalur ini. Saya memilih jalur darat dengan alasan, saya sudah terlalu sering naik kapal lintas kota, pulau dan provinsi di Indonesia. Jadi bus lintas negara ini pun menjadi moda transportasi pilihan saya menuju kota Sipitang, tempat Pakde (dari keluarga Ibu) saya bermukim. Sipitang adalah kota kecil pinggiran sungai yang berjarak 2 jam dari Kota Kinabalu.

Bus ini bisa dicegat di pinggiran sungai Brunei (Waterfront) yang dekat dengan terminal pada jam 8 pagi setiap hari. Harga tiket menuju ke Sipitang 35 dollar Brunei dengan seat 2-2 dan AC. Sedangkan tiket Brunei ke Kota Kinabalu seharga 45 dollar Brunei. Setelah menunggu hampir 15 menit bus ini pun muncul, dan saya orang pertama yang naik ke bus ini. Jangan khawatir dibohongi, bus ini punya tiket resmi yang dikeluarkan oleh kondektur bus saat bus akan segera berangkat.

Wednesday, April 22, 2015

MENIKMATI SEPINYA BRUNEI

Pinggiran Waterfront
Salah satu alasan kenapa saya mau mengunjungi Brunei, selain karena dapat tiket promo, karena negara ini terkenal sepi bak kota mati, kalau menurut kata beberapa orang yang pernah kesana. Seperti biasa juga, saya tidak terlalu peduli dengan omongan orang tentang suatu daerah hingga saya benar-benar menjejakkan kaki dan melihat daerah itu dengan mata kepala saya sendiri. Dan, ketika saya benar-benar berada disana, negara ini benar-benar sepi.

Wednesday, April 15, 2015

NYARIS PINGSAN DI PANTAI SERASA, BRUNEI



Seperti yang sudah saya tuliskan di beberapa artikel tentang Brunei sebelumnya, trip kali ini, saya lebih banyak tidur daripada jalan-jalan karena kecapekan kerja. *Workaholic mode ON*. Begitu pula hari terakhir saya di Brunei, saya tidur sampai jam 11 siang dan bangun hanya untuk mondar-mandir di sekitar hostel dan nongkrong di café.

Setelah puas nongkrong sampe jam 1-an, saya pun memutuskan untuk mengeksplore lebih jauh wilayah di sekitar hostel. Kalau dari awal saya cuma mondar-mandir di sekitar blok tempat hostel berada, sekarang saya berjalan sedikit lebih jauh menuju ke blok yang berikutnya. Tidak disangka, 2 blok dari hostel saya melihat deretan bus kota yang sedang parkir dengan berbagai tujuan. Lahh itu terminal bus toh?? Kenapa juga saya baru tahu ada terminal bus utama yang letaknya Cuma 300 meter dari hostel?? Jadi ngeliatin apa saja saya kemarin selama 2 hari mondar-mandir di sekitar hostel?? *berasa bodoh*

Yasudahlah ya.. Daripada menyesali, saya pun segera beranjak menuju ke terminal bus ini. FYI. Saya belum memutuskan mau kemana. Saya pun mondar-mandir di dalam terminal bus yang lebih mirip parkiran ruko ketimbang terminal karena letaknya di basement. Mungkin karena Brunei adalah negara kaya sehingga hanya sedikit orang yang menggunakan transportasi umum. Makanya jangan heran kalau saya tidak ngeh sama terminal ini ya.. Mata saya pun tertuju pada peta rute bis ini yang terdiri dari 6 rute. Setelah menyimak peta rute ini, saya pun memutuskan mencari pantai dengan alasan Brunei adalah negara tepi pantai jadi saya harus ke pantainya. Hehehe..

Wednesday, March 18, 2015

MENGUNJUNGI KAMPUNG AYER BRUNEI DENGAN HARGA LOKAL

Seperti yang sudah tulis sebelumnya di artikel Hecticnya mau berlibur ke Brunei, saya tidak punya waktu untuk melakukan riset mengenai tempat-tempat wisata di Brunei. Namun beruntung saya memiliki teman baru di sini, Ahamed, yang menunjukkan beberapa tempat yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari hostel tempat saya menginap. Salah satunya adalah Kampong Ayer.
Kapal-kapal di sungai Brunei dan Kampong Ayer di kejauhan
Kampong Ayer adalah salah satu daerah di Brunei yang sebagian besar areanya terletak di tengah-tengah sungai Brunei. Di kampung ini terdapat lebih dari 39.000 warga yang berdiam di perkampungan yang terbuat dari kayu ini.

Saat memiliki waktu lebih untuk browsing dengan wifi gratis di sebuah cafe di tepi sungai Brunei *fakir wifi* saya sempat membaca beberapa review blog bahwa untuk menyeberang ke kampung ini akan ditarik bayaran antara 20 - 50 dollar Brunei per orang, tergantung kejelian dan keuletan nego harga pada pengemudi kapalnya.  Duhhh.. buat saya uang segitu mah besar sekali ya. Apalagi saya memang tidak jago nego harga euy.. Nongkrong di cafe bertaraf internasional saja, secangkir kopi "cuma" seharga 10 dollar Brunei. *garuk-garuk kepala*

Wednesday, March 4, 2015

ROADTRIP JAKARTA - LAMPUNG

Panik, takut, Deg-degan sekaligus senang memang bercampur jadi satu saat pukul 2 siang di kantor saya duduk di depan komputer dan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Lampung. Memang sih dari Jakarta ke Lampung itu dekat. Masalahnya saya belum pernah sekalipun ke Lampung dan ini solo traveling lho. Mana berangkatnya malam pula, bagaimana tidak panik???

Tapi seorang teman kantor yang saya beritahukan tentang niat mau ke Lampung ini cuma memberikan jawaban “Kamu solo traveling ke luar negeri saja bisa, masa ke Lampung sendirian tidak bisa sih?” Iya sih. Memang biasa kemana-mana sendirian, tapi baru kali ini memutuskan berangkat dengan waktu semepet ini.  Kalau trip-trip yang sebelumnya setidaknya saya sudah tau jalan atau sudah pesan tiket beberapa bulan sebelumnya. Jadi trip ke Lampung ini benar-benar saya tidak tahu jalan dan belum tahu transportasi secara sambung-menyambung menuju ke Lampung.

Namun, karena sudah diniatkan sejak sebulan yang lalu akan traveling ke Lampung, ya sudahlah.. mari kita berangkat!! Persiapannya? Kirim pesan ke teman yang tinggal di Lampung kalau saya akan datang, pulang kantor jam 5 sore, Ambil daypack yang sedang dipinjam sama Irma Siregar dan sampai di rumah jam 8 malam lewat, Isitrahat dan makan malam 30 menit, beres-beres kamar 30 menit (biar kalau pulang bisa langsung tidur di kamar yang masih rapi, hehehe) lalu packing 30 menit. Jam 10 malam kurang saya pun berangkat.


Wednesday, February 25, 2015

HECTICNYA MAU BERLIBUR KE BRUNEI

Tiket pesawat sekali jalan ke Brunei tertanggal 26 April 2014 sudah saya kantongi hampir setahun yang lalu. Tapi hingga 2 minggu menjelang keberangkatan saya masih memegang surat cuti yang belum ditandatangani oleh si boss. Dampaknya?! Saya belum bisa beli tiket pulang.. *manyun*
10 hari sebelum keberangkatan

Entah habis kejatuhan durian runtuh darimana, tiba-tiba team marketing di kantor saya memutuskan dalam tempo sesingkat-singkatnya bahwa akan diadakan talkshow di luar studio kantor dengan narasumber utama para gubernur/walikota/bupati se-Indonesia. Target untuk project ini adalah 50 episode yang akan dimulai pada tanggal 21 april 2014, setiap hari 2 episode dan seluruh crew wajib ada di tempat pukul 5 pagi.

Saya?? Santai saja mendengarnya karena 2 minggu yang lalu saya sudah memberikan pengumuman akan cuti selama 1 minggu, mulai tanggal 28 april. Lagipula setelah melihat susunan crew talkshow, nama saya tidak tercantum disana.. Jadi santai-santai di kantor sambil main game. *magabut mode ON*

Wednesday, February 11, 2015

SEBUAH CERITA DARI SEPENGGAL SURGA DI PESISIR BARAT


Perjalanan kali ini dimulai dengan sebuah percakapan antara saya dengan seorang nelayan di dermaga Kuala Stabas, Krui, Kabupaten Pesisir Barat, provinsi Lampung.
Kapal bercadik di sekitar dermaga Kuala Stabas, Krui
Saya : "Disini pelabuhan buat menyeberang ke pulau?"
Nelayan : "Iya, Mbak mau ke pulau?"
Saya: "Iya, Kapalnya ada?"
Nelayan : "Tuh kapalnya" (nunjuk kapal dengan nama Pulau Carita)
Saya : "Ohh.. Terima kasih" (terus nyamperin tukang kapal buat nanya jadwal berangkat dan booking tempat)

Nelayan: "Udahan Mbak?"
Saya : "Udah Pak"
Nelayan : Tahu darimana pulau itu? Kok baru sekarang mana? Angin dan ombaknya lagi gede banget nih"
Saya : Oh ya?! Lagi musim hujan sih ya"
Nelayan: "Iya, 2 hari yan lalu kapal saya baru terbalik di tengah laut pas mengangkut penumpang dari pulau itu kesini"
Saya : "Hah!! Serius???"
Nelayan : Iya, ada sekitar 30-an penumpangnya, tapi tidak ada yang meninggal kok. semuanya pada jago berenang. jadi mereka bisa mengapung di laut selama 2 jam sebelum dijemput kapal lainnya. Terus kapal saya bisa ditarik kembali kesini".
Saya :"Ohhhh!! Kayaknya saya butuh pelampung nih, secara saya tidak jago berenang. Paling cuma bisa mengapung sekitar 10-15 menit saja."
Nelayan: "Waktu itu sih kapal saya memang overload. Kalau sekarang mah tidak akan lebih dari 10 orang kok."
Saya: "Ohhh.." (Lagi) "Trus kapal bapak yang mana?"
Nelayan : "Itu, si Pulau Carita yang nanti Mbak tumpangin ke pulau. Saya pamit ke pasar dulu ya, mau ngambil barang. Permisi"
Saya : (Bengong dan diam seribu bahasa)

Sumpeehh lo kapal yang mau saya naikin baru kebalik di laut 2 hari yang lalu???? Tidakkk!!!! 

Wednesday, February 4, 2015

JALAN KAKI KE PULAU MAITEM



Pulau Maitem ini sebenarnya lebih dekat dengan desa Ketapang, Lampung Selatan daripada pulau Pahawang yang sudah terkenal duluan kemana-mana. Akses menuju ke pulau ini bisa ditempuh dengan dua cara yaitu sewa perahu seharga 400rb dan jalan kaki. Haah!!! Serius nih jalan kaki??? Iya saya serius pakai banget pulau ini bisa ditempuh dengan jalan kaki, dengan catatan, laut sedang surut.

Akses jalan menuju pulau ini berada di bagian yang berlawanan arah dari dermaga ketapang, di tempat penyemaian bibit mangrove. Bisa tanya ke penduduk setempat kalau tidak tahu.


Wednesday, November 5, 2014

BARANG BAWAAN WAJIB

Assalamualaikum Wr.Wb.

Sejak dahulu, sebelum dan sesudah memakai jilbab, saya memang selalu dikategorikan tomboy, metal, rock and roll dan sederet kelakuan lainnya yang seharusnya sih milik para lelaki. Sikap paling menonjol dari saya terutama ketika sedang traveling adalah cuek. Entah itu dari cara berpakaian atau cara menghadapi masalah.

Selama ini, saya banyak ditanya bagaimana tips traveling untuk para jilbaber karena pakaian untuk jilbaber memang notabene akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang tidak atau belum berjilbab. "Mesti bawa jilbab berapa?" "kalau mau ganti jilbab bagaimana?" "enaknya pakai bahan apa?" adalah beberapa pertanyaan paling sering ditanyakan apalagi kalau travelingnya pakai keluar masuk hutan dan gunung.

Thursday, September 18, 2014

CAMPING DI PULAU (YANG KATANYA) BULAT

Mari kita nge-camp
Pic by Bengs
Tawaran camping di pulau ini datang secara tiba-tiba dari mantan teman kantor yang punya hobi traveling, Tupono a.k.a Ponce, tentu saja tidak akan disia-siakan. Apalagi camping di salah satu pulau di kepulauan seribu yang belum pernah saya injak sebelumnya. Baiklah mari kita berangkat!

Wednesday, February 26, 2014

ROAD TRIP JAKARTA - BALI

Ini sebenarnya traveling yang tidak direncanakan. Saya baru memutuskan akan melakukan roadtrip alias perjalanan darat dari Jakarta ke Bali 3 hari sebelum libur di tanggal 9 Juni 2013. Tanggal merah yang jatuh di hari kamis itu artinya saya bisa mengambil cuti di hari Jumat. Makanya ketika cuti saya disetujui oleh HRD, baru deh kepikiran mau roadtrip ke Bali lewat jalur darat.

Terus kenapa saya memilih Bali??? Sebenarnya bukan saya memilih Bali tapi Bali yang memilih saya. Hehehe.. Kenapa bisa begitu? Sekitar sebulan sebelumnya saya pernah iseng mengisi formulir sukarelawan Kelas Inspirasi di Bali sebagai seorang fotografer. Ternyata saya diterima saudara-saudara. Jadilah saya harus ada di Bali saat acara itu berlangsung pada tanggal 11 Juni 2013. Pas melihat-lihat tanggal, ternyata tanggal 9 Juni itu tanggal merah. Hmmm.. Mulai deh kepikiran traveling dengan berbagai macam cara sampai akhirnya memutuskan memilih jalur darat melalui Pantura.

Tuesday, July 9, 2013

MENIKMATI PEKANBARU DI SORE HARI

Hari ini saya bangun lebih siang secara semalam sudah berkeliling Candi Muara Takus sampai gempor. Hari ini saya berencana untuk berkeliling kota Pekanbaru bersama kawan anggota Couchsurfing Pekanbaru, Azella. setelah beberapa kali sms-an dengan dia, akhirnya kita memutuskan untuk ketemuan di Mesjid An-Nur dan jalan-jalannya setelah pukul 15.00 waktu setempat.

Kenapa sore? FYI. Pekanbaru itu panasnya amint-amit cabang olahraga ya. Saya yang cuma berdiam diri dan tidur-tiduran di kamar aja keringatan mulu. Jadi ingin mandi terus, lagi dan lagi. Apalagi kalau keluarnya tengah hari bolong begitu. Bisa-bisa tiap 30 menit sekali saya terjun ke sungai karena kegerahan. Hehehehe..

Menjelang pukul 15.00, dan berhubung Indah sedang kuliah, maka saya pun diantarkan menuju ke Mesjid An-Nur oleh ibunya Indah dengan menggunakan motor. *Terima kasih banyak, Tante..:D* Sebelum menuju ke mesjid An-Nur, ternyata saya mau diajak jalan-jalan dulu keliling kota. Wahh.. senangnya!! Baiklah! Mari kita berangkat.. :)

Popular Posts

Follow Me on