Wednesday, July 4, 2018

HARMONI ALAM DI PULAU PEUCANG, UJUNG KULON

Salah satu kawasan taman nasional yang membuat saya selalu penasaran adalah kawasan Ujung Kulon di bagian terbarat pulau Jawa. Kawasan taman nasional ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha, dimana 443 km² di antaranya adalah laut, yang terbentang mulai dari Semenanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia. Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas.  
Akhirnya bisa mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon

Selain luas, Taman Nasional Ujung Kulon memiliki tiga ekosistem sekaligus yakni perairan laut, rawa, serta daratan yang membuatnya memiliki ratusan bahkan ribuan jenis flora dan fauna yang terjaga dengan baik. Itu sebabnya keanekaragaman hayati di Ujung Kulon ini telah menarik begitu banyak peneliti, baik di dalam maupun dari luar negeri sejak tahun 1820.
Jenis dan jumlah flora dan fauna di Taman Nasional Ujung Kulon
No.
Jenis Potensi
Jumlah Jenis
1.
Flora
700 jenis
2.
Fauna

a. Mamalia
35 jenis
b. Primata
5 jenis
c. Burung
240 jenis
d. Reptilia
59 jenis
e. Amphibia
22 jenis
f. Insecta
72 jenis
g. Pisces
142 jenis
h. Terumbu Karang
33 jenis
Data: www.ujungkulon.org

Saking luasnya, rasanya tidak mungkin menjangkau semua wilayah taman nasional ini hanya dengan sekali atau 2 kali datang. Makanya setiap ada kesempatan bertandang mengunjungi taman nasional ini, saya pasti langsung mengiyakannya. Alhamdulillah saya berkesempatan 2 kali mengunjungi beberapa pulau di kawasan Ujung Kulon. Salah satu pulau yang saya datangi adalah Pulau Peucang.

Awalnya, saya tidak banyak berekspektasi tinggi dengan pulau ini. Saat itu saya cuma mendapat info bahwa pulau ini berpasir putih, punya tempat snorkling yang bagus tidak jauh dari pantai dan merupakan bagian kecil dari kawasan taman nasional Ujung Kulon.

Saat kapal yang membawa kami merapat di dermaga pulau Peucang, kami mendapat info tambahan larangan untuk memasak di dalam kawasan pulau. Kegiatan memasak hanya boleh dilakukan di atas kapal karena terdapat kawanan monyet di pulau ini. Ternyata, banyak hewan yang menjadi penghuni pulau Peucang yang bebas berkeliaran. Sekawanan rusa, monyet, beberapa biawak dan babi hutan dan tentu saja puluhan jenis burung banyak terdapat di pulau seluas kurang lebih 3 hektar ini.
ketika monyet dan babi hutan bertemu di pulau Peucang, Ujung Kulon
keluarga monyet di hutan pulau Peucang, Ujung Kulon
kawanan rusa di hutan pulau Peucang, Ujung Kulon
bertemu biawak di samping homestay pulau peucang, Ujung Kulon
Tidak hanya hutan hujan tropis yang menarik, Taman Nasional Ujung Kulon juga memiliki ekosistem laut yang beragam. Di perairan Taman Nasional Ujung Kulon terdapat beragam spesies ikan seperti ikan kupu-kupu, badut, godok dan sumpit. Saya berkesempatan melihat beberapa spesies ikan di terumbu karang kecil di sekitar pulau Peucang.
Ekosistem terumbu karang dan berbagai jenis ikannya di sekitar kawasan pulau Peucang, Ujung Kulon
Pic. by Ayi Hendriati
Tak dinyana, pagi itu sebuah kejadian sempat membuat heboh. Sekawanan monyet memasuki kamar kami dan membongkar beberapa kantong berisi makanan. Saya yang pertama kali menemukan kejadian itu saat kembali ke kamar untuk mengambil peralatan mandi. Entah siapa yang terakhir kali keluar dari kamar, namun tidak menutup rapat pintu sehingga kawanan monyet yang mencium bau makanan pun bisa memasuki kamar.

Saat itu saya cuma berdiri terdiam di teras homestay kami, lalu memanggil beberapa ranger di bangunan sebelah. Bagaimanapun, ini habitat mereka, ini kawasan mereka, saya tidak mau gegabah mengusirnya sendirian. Meski banyak kawanan monyet, namun begitu melihat kehadiran beberapa manusia, termasuk saya dan para ranger, mereka langsung berhamburan keluar dan kembali memasuki hutan dengan hasil ‘jarahan’nya. Setelah itu saya dan beberapa ranger cuma bisa tertawa lepas, sedangkan beberapa teman masih dalam mode panik.

“Mbak, tidak takut?” tanya seorang ranger kepada saya.
“Asalkan saya tidak diserang mah tidak masalah kok. Dulu pernah tinggal di Papua jadi sedikit tahu soal binatang liar. Belakang rumah saya aja ada biawak dan ular kok, kadang-kadang masuk rumah ya biarin aja,  balikin aja lagi ke habitatnya” Ujar saya lalu kembali ke homestay untuk membersihkan sisa-sisa kerusuhan tadi.

Ahh saya jadi mengingat kembali ketika tumbuh besar di belantara Papua Barat. Kala itu, rumah yang saya diami adalah rumah yang pertama berdiri dan berada di kawasan hutan dan rawa dengan berbagai jenis hewan dan tumbuhannya. Kangkung dan pisang yang sering saya makan pun itu tumbuh liar di rawa belakang rumah. Ada pula ikan gabus yang biasa saya pancing di selokan samping rumah atau rawa di belakang rumah. Bahkan terakhir saya pulang bulan Mei 2018 lalu, saya masih menemukan dan melihat burung raja udang (king fisher biru) bertengger di pagar belakang rumah saya di kota Sorong, Papua Barat.

Pulau Peucang memang kecil. Namun disini saya melihat beragam keanekaragaman hayati dan hewan hidup berdampingan dengan damai. Para ranger pun bisa tetap santai hidup dengan puluhan rusa, monyet, biawak, ular dan berbagai hewan lainnya.
Menjelang matahari terbenam di hutan pulau Peucang, Ujung Kulon
“Kalau buat hidup sehari-hari mah hutan itu sudah lebih dari cukup kok buat manusia”. Kata salah satu rangernya. Sayang waktu saya disini tak lama, cuma 2 hari 1 malam. Padahal masih banyak cerita yang tersembunyi di kawasan taman nasional Ujung Kulon yang bisa digali dan bermanfaat buat kehidupan manusia. Di sebuah pulau kecil di Taman Nasional Ujung Kulon ini menjadi salah satu tempat yang layak untuk dikunjungi untuk belajar mengenai keragaman hayati dan pesona alam yang berpadu harmoni di dalam hutan. (EKW)

20 comments:

  1. Dulu pernah diajak ke pulau peucang, tapi ternyata waktunya ga cocok. akhirnya gagal berangkat. Sampai sekarang juga masih penasaran dengan pulau peucang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pulau peucang bagus banget lho.. harus banget kesini biar gak penasaran mulu...

      Delete
  2. Hahaha seru seru merinding khawatir gitu kalo nginep di situ yaa. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau mau tidur wajib banget pintu dan jendela dicek apakah sudah terkunci rapat atau enggak. bahaya euy.

      Delete
  3. Oh disana tuh hewannya berkeliaran bebas yah..wah seru juga tuh. Cuma jinak ga tuh? Tar ada yang agresif serem juga.. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa.. makanya tidak boleh masak di pulaunya. makanan pun harus di taruh di ransel dan diikat rapat.
      rusanya sih lumayan jinak, biasa dikasih makan kok sama pengunjungnya. bisa tanya rangernya makanan seperti apa yang boleh diberikan ke rusanya.

      Delete
  4. Hewan2nya mirip di pulau komodo yaa,, bedanya biawak di pulau komodo berukuran raksasa hihi..

    Serem euy itu monyetnya sampai masuk2 ke homestay..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya belu pernah ke pulau komodo euy. hiks. hiks.. hiks.
      tapi pasti seru kalau bisa main kesana.
      Itu monyet masuk ke homestaynya karena teman yang lupa ngunci pintu sih, cuma dirapatin aja. yahh didorong sedikit kebuka deh pintunya.

      Delete
  5. Dulu saya juga menginap di Pulau Peucang. Tapi yang heboh waktu itu adalah, ada peserta tur yang hampir dikejar babi hutan. Soal kera, kebetulan waktu itu tidak ada masalah. Oh ya, dulu tinggalnya di Papua Barat? Wah, pasti sudah biasa dengan alam ya. Keren tuh Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau tim saya karena kebanyakan cewe pada takut sama babi hutan, jadi begitu melihat babi langsung pada menyingkir semua.. hehehe..

      Delete
  6. Masih asri ya mbak kayaknya.. semoga aja habitat mereka tetep pada sebagaimana semestinya, mungkin di taman nasional ujung kulon ini adalah salah satu tempat yang 'aman' untuk hewan-hewan tersebut :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa.. makanya ada beberapa lokasi yang tidak diizinkan untuk menginap, cuma boleh dikunjungi beberapa jam saja dengan pengawasan dari ranger dan guidenya..

      Delete
  7. Memang ya, monyet itu sensitif banget sama bau makanan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa.. itu padahal snack masih tersegel plus dimasukkan ke dalam kantong plastik yang diikat lho.. mungkin ada remah-remahan di dalam ruang homestay yang tercium kali ya..

      Delete
  8. Seru juga maen ke pulau Peucang. Tapi tertarik dengan kehidupannya pas tinggal di Papua Barat. Sepertinya banyak cerita seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. ssudah 2 kali ke pulau Peucang pun saya masih ingin kesana lagi tuh.
      cerita seru di Papua Barat sih banyak.. tapi sudah rada-rada lupa karena udah lebih dari 25 tahun kan.
      kalau yang ditulis di blog ini sih ada beberapa.. coba aja cari di tag Papua Barat ya.. :)

      Delete
  9. Hhhmmm... senenegnya ya mbak berkesempatan datang ke Taman Nasional Ujung Kulon ini. Wah jangankan di hutan. di rumah pun aku sering kemasukan ular duluuu sih ada kali 30 ekor. Biawak ada juga. Boleh nih jadi referensi liburan berikutnya ke Ujung Kulon ah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh rumahnya dimana tuh? bisa gitu kemasukan ular sampai 30 ekor? serem euy.
      pulau peucang di ujung kulon ini memang bagus buat belajar dan penelitian tentang alam dan habitat alami para penghuninya.

      Delete
  10. Kalau disana harus exstra hati-hati ya, Teh. Terutama sama barang yang kita punya. Itu jinak-jinak gak sih, Teh? Kok ngabayangin kira-kira kalau kesitu langsung foto dari deket takut gak yah..hehe

    Melihat beberapa fotonya kok terlihat banyak yang masih asri ya, Teh tempat disitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya bukan jinak sih, ada beberapa hewan yang bisa didekati, ada pula yang sebaiknya tidak didekati. kebetulan kamera saya punya lensa sapu jagad jadi bisa ambil foto dari jarak jauh deh. hehehe..

      namanya juga taman nasional, habitat asli alaminya harus tetap dipertahankan. makanya pas masuk hutan pun tidak boleh keluar dari jalur, dan harus ditemani ranger biar aman.

      Delete

Follow Me on