Wednesday, July 26, 2017

JADI ORANG LOKAL DI BAGAN DATOK

Kalau traveling itu memang paling enak tinggal di hostel karena bisa kenalan dengan berbagai traveler dari belahan dunia lainnya. Lalu bagaimana caranya biar bisa traveling dan merasakan cara hidup orang lokal di negara tersebut?? Homestay adalah jawabannya. Seperti saat saya diundang menghadiri acara Social Influencer Fest 2017 di Perak, Malaysia, saya berkesempatan untuk tinggal di homestay di daerah Bagan Datok.

Bagan Datok merupakan kota kecil yang terletak sejauh 130 kilometer dari ibukota Perak, Ipoh, tepatnya berada di bagian timur laut negeri Perak. Di kota seluas 166 kilometer persegi saya dan beberapa partisipan SIF 2017 dari 10 negara tinggal di homestay untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi orang lokal di Malaysia.

Homestay yang saya tinggali dimiliki oleh seorang suami istri yaitu makcik Minah dan pakcik Roslan. Rumah panggung ala Melayu yang kental, mungkin buat yang tinggal di daerah pedesaaan Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi pasti akan merasa home sweet home banget deh disini. Kebetulan ibu saya orang Sulawesi sehingga rumah panggung seperti ini ibarat saya pulang ke rumah saudara di Sulawesi sana deh.

Interior rumah mak Minah yang didominasi dengan warna biru dan hijau yang adem itu tentu saja sangat cozy buat saya. Bisa guling-guling di ruang tengah sambil menyimak berita lokal Malaysia dan ngutak-atik blog di laptop *minjem sama tari. Hehehe* tentu saja jadi berasa banget di rumah sendiri kan.


Suguhan makanannya pun khas daerah Bagan Datok yang berupa seafood. Salah satu hidangannya, kari udang galah yang nikmat sekali itu pun jadi rebutan kita berempat! Wkwkwkwk. *lapar apa doyan?" 

Selain menginap di Homestay, kami juga diundang untuk bermain dan berkenalan dengan penduduk setempat di Pekan, semacam lapangan untuk tempat berkumpul warga. Tidak mau tanggung-tanggung, komunitas Homestay di Bagan Datuk sampai bikin pasar kaget yang isinya makanan dan camilan khas serta souvenir unik lainnya.

Mereka bahkan bikin beberapa permainan tradisional yang bisa kita mainkan bersama anak-anak dan penduduk setempat lainnya seperti bowling dari buah kelapa, joget balon berpasangan dan lomba mengisi air dalam botol dengan menggunakan selembar kain. Yahh buat kami para partisipan dari Indonesia mah memang berasa pulang kampung banget deh.

Makanya saat harus menyudahi trip 2 hari 2 malam di Bagan Datok ini rasanya jadi sedih, serasa mau meninggalkan keluarga untuk merantau jauh demi segenggam berlian dan seember tiket promo. Hehehehe.
 Tinggal di Bagan Datok membuat saya jadi merasa orang lokal disana. Apalagi memang Indonesia Malaysia serumpun. Kalau tidak pakai kaos biru langit itu rasanya mereka juga tidak bakalan tahu kalau saya bukan orang lokal tuh. Hehhehhe. (EKW)

Special thanks to:
Organizer: 
Empayar AwanBiru http://empayarawanbiru.com/en/
Sponsors:
Malaysia Inbound Tourism Association (MITA), Homestay Malaysia, Homestay Bagan Datok, Homestay Labu Kubong, Destination Perak, Tourism Malaysia, MB Inc., MK Land Inc., Koridor Utara, GetFi, Swiss Garden Hotel, Perak Agrotourism Resort, Bukit Merah Laketown Resort, Royal Belum Rainforest Resort, Casuarina Meru Hotel Ipoh 

8 comments:

  1. Pas aku ke Kepri, rumah-rumah warga juga banyak yang tipenya rumah panggung gitu Mbak. Mereka juga ngomongnya pakai bahasa Melayu (yang masih murni Melayu belum ada serapan kosakata bahasa Inggris). Jadi bener-bener serasa di Malaysia. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya?! saya belum pernah ke Kepri sih jadi belum tau.. tapi wilayah sumatera kan memang melayu juga sih yaa

      Delete
  2. Aku lebih suka "surfing" dengan jejaring Couchsurfing daripada homestay sih. Selain gratis (hehehe, penting banget nih), kita juga bisa dapet host yang seumuran. Jadi bisa nemenin main dan nemenin tidur #eh.

    Rumah panggung nggak cuma ada di Indonesia sama Malaysia, sampai Thailand dan Kamboja pun aku masih melihat rumah panggung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya jugs suka surfing dengan CS sih. paling seru memang buat berbaur dengan warga lokal. dikasih kesempatan yang mana saja selalu saya ambil dan syukuri.

      iyaa.. rumah panggung di negara bekas Nusantara mah yah pasti bisa ditemui di beberapa negara tersebut. paling bentuk dan dekorasi yang sedikit berbeda sesuai dengan kebiasaan setempat.

      Delete
  3. Balik kesini lagi yuk sist. kangen masakan makcik minah.

    ReplyDelete

Translate

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...