Tuesday, February 25, 2014

KULINER SINGKAWANG RASA TIONGHOA

Singkawang, Kalimantan Barat

Kota ini terkenal sebagai kota 1000 Kelenteng dan juga kota amoy karena banyaknya etnis china yang bermukim disini. Selain sibuk keliling-keliling di kota ini, saya dan kawan-kawan juga berkesempatan mencicipi berbagai menu khas kota Singkawang.


Menu yang pertama kali kami cicipi adalah Mie Kering. Tujuan pertama sebenarnya di warung makan Bakso Sapi 68 yang berada di jalan Diponegoro, Singkawang. Namun mengingat yang punya toko adalah keturunan china, rasa kuatir makanan terkontaminasi dengan daging babi membuat saya tidak makan disini, meski pemilik warung sudah menegaskan bahwa semua bakso dan makanan disana tidak menggunakan daging babi sama sekali. Akhirnya hanya seorang teman saya yang makan disini karena dia hanya dia yang bisa mentolerir daging babi. Lagipula masa' kita liputan disini tapi tidak mencicipi sih?! Hehehe.. 

Untuk menghilangkan rasa penasaran saya dan teman-teman lain yang tidak makan disini, teman saya dari Singkawang, Ibu Lia dan Mbak Azizah pun membawa kami ke warung makan Mie Kering Haji Aman. Pemilik warung makan ini adalah seorang keturunan cina yang menjadi mualaf. Jadi semua makanan sudah pasti halal lah.. 

Mie kering sebenarnya hampir sama dengan mie ayam. Saya yang dari dulu tidak menyukai mie ayam, sebenarnya menjadi agak ogah-ogahan sewaktu memesannya. Namun berhubung pemiliknya sudah kita wawancarai, ya sudahlah, mari kita mencicipinya. 

Ternyata, saudara-saudara, Mie kering ini enak sekali. Meminjam kata Bondan Winarno, Maknyuss lah rasanya. Perpaduan mie kuning buatan tangan pak haji dengan topping bakso, daging ayam, telur dadar, lumpia yang berpadu dengan kuah daging sapi itu rasanya nikmat tiada duanya. Saya yang tidak suka mie ayam saja, sampai nambah 2 porsi. Rekor makan mie ayam terbanyak. Huah! Enak pake banget!! *Slurp.. ngeces*

Keesokan harinya saya dibawa untuk sarapan di luar hotel. Kali ini kita akan mencoba Bubur Pekong. Nama Pekong diambil dari karena posisi jualan bubur ini berada dibelakang kelenteng Tri Dharma Bumi Raya. Kelenteng itu biasa juga disebut sebagai Pekong dalam bahasa tionghoa.

Sebenarnya sih ini sama seperti bubur ayam yang ada di Jakarta. Bedanya ada di kaldunya dan topingnya. Kaldu menggunakan tulang sapi yang direbus sedangkan toppingnya menggunakan potongan daging sapi, kacang, teri, lobak manis dan daun bawang, lalu disajikan dengan tambahan emping melinjo diatasnya.
Bubur pekong
Rasa bubur pekong ini sedap sekali karena kuah atau kaldunya yang menggunakan kaldu sapi asli, tidak pakai MSG. Sarapan yang cukup berat menurut ukuran saya yang sangat jarang sarapan. Tapi seporsi bubur pekong habis dilahap tuh.. hehehehe.. *lapar apa doyan???*

Kalau masih ingin makan lagi, disini tersedia juga sate ayam. Sebagai penutupnya? Tentu saja segelas kopi susu atau teh manis panas dong.
Sate ayam dengan lontong dan bihun
Usai sarapan, selanjutnya mari kita kerja! Jadwal siang ini adalah wawancara dengan walikota dan dinas pariwisata. Ternyata tanpa disangka-sangka, di kantor walikota saya dan teman-teman disuguhi berbagai jenis makanan. Kita berlima yang dua jam sebelumnya sudah sarapan hanya bisa lirik-lirikan.

Berhubung demi menghormati sang empunya rumah, saya cuma mengangguk saat ditawari kwetiaw goreng. "Emm.. setengah porsi saja ya, soalnya disini kan banyak makanan nanti saya tidak bisa mencicipi semuanya kalau terlalu kenyang" saya cuma bisa memberi alasan seperti itu.
Kwetiaw Goreng
Rasa kwetiaw ini menurut saya sih standar saja sih, tidak ada yang terlalu istimewa. Entah karena memang perut saya sudah setengah penuh, atau memang rasanya yang biasa saja.

Setelahnya saya kembali disodori ketupat dan serundeng. Saat melihat makanan yang disebut sebagai serundeng itu saya sedikit mengernyitkan dahi. Dilihat dari jauh juga itu bukan kelapa parut karena teksturnya yg lebih tebal dan berat. Ternyata serundeng di Singkawang ini terbuat dari biji padi muda yang ditumbuk dan dibumbui dengan gula. Entah bagaimana cara masaknya, tapi serundeng ini menjadi renyah dan manis.
Ketupat dan Serundenganya
Serundeng yang terbuat dari biji padi muda
Serundeng ini biasanya dimakan sebagai cocolan dari ketupat. Ketupatnya sih dimasak seperti biasa kok. Tapi rasa renyah dan manis membuat saya menikmati serundeng ala Singkawang ini sebagai cemilan, soalnya enak banget nih serundeng apalagi diminum dengan teh panas sore-sore. Setidaknya begitulah menurut saya.

Sehabis makanan berat, saya pun mencicipi 2 jenis rujak ala Singkawang. Yang satunya sih sama lah dengan rujak-rujak yang banyak beredar di pinggiran jalan. Perbedaanya cuma rujaknya ditambahin dengan parutan kelapa goreng dan emping melinjo sebagai toppingnya.

Rujak lengkap
Rujak yang kedua, kalau tidak salah ingat, teman saya menyebutnya sebagai rujak juhi mangga. Ini adalah rujak mangga yang diserut dan diberikan bumbu rujak tapi rasa dan teksturnya menurut saya sih lebih mirip sambal terasi + jeruk nipis. Saya sebenarnya agak lupa sama rujak yang satu ini karena mungkin perut yang sudah terlanjur penuh. *lapar galak, kenyang bego*
Rujak juhi mangga
Sebagai penutup, ada 2 buah kue yang sudah tersaji. Yang pertama sebenarnya sama dengan kue putri salju cuma penyajiannya saja yang berbeda, parutan kelapanya terpisah dari kuenya.
Kue kedua yang saya coba adalah Choi Pou Pan. Sekilas kue ini mirip sama dimsum atau hakau. Saat saya mencicipinya rasanya memang gurih seperti dimsum namun dengan kulit yang lebih tipis. Isi di dalam Choi Pou Pan ini adalah lobak manis dan bengkoang.
Chou Pou Pan
Di bagian luar Choi Pou Pan ini diolesi dengan bawang putih goreng cincang yang dicampur dengan minyak. Rasanya?! Enakkk pake banget lagi.. hehehe.. Usai makan-makan dan berbincang-bincang, kami pun pamit untuk melanjutkan mencari target liputan lainnya.

Usai liputan seharian, malamnya kami makan di sebuah restoran di hotel Bukit Mas *bukan promosi yaa*. Namanya makanan di hotel restoran ya menunya mewah lah. Mulai dari Tomyam, Ikan kuah asam, cumi goreng, jamur goreng dan berbagai jenis sambal tersaji di meja. Bon Apetit!!! *malam ini bisa tidur nyenyak dan mimpi indah* *usap-usap perut yang membuncit kekenyangan*. :D
Ini baru sebagian menu yang tersaji lho.. 
Ikan kuah asam dengan potongan nenas di dalamnya.

Tumis daun pakis
Tomyam
keesokan harinya, saya dan teman-teman kembali diajak untuk mencicipi kuliner Singkawang lainnya yang cukup terkenal yaitu bubur pedas. Waktu dengar namanya, saya pikir ini sama dengan bubur ayam tapi diberi cabai yang banyak.

Ternyata bubur yang satu ini beda. Pertama dari berasnya yang disangrai terlebih dahulu sebelum ditanak, jadi warna bubur ini jadi agak sedikit hitam. Kemudian campurannya yang menggunakan daun kesum yang membuat rasa bubur ini punya rasa seperti mint. Selain itu bubur ini juga diberi taburan daging ayam, ikan teri goreng dan kacang goreng dan bisa ditambahi perasan jeruk nipis. Rasanya?? Enak dong!! Ini makanan kesekian yang saya sukai di Singkawang. *tersenyum lebar* 
Bubur pedas
Siangnya, karena sibuknya keluyuran kesana kemari, saya cuma bisa menyempatkan diri untuk menyantap cemilan pisang goreng keju dan jus wortel. Setidaknya kalau hitungan kalori sih mungkin bisa tahan sampai 5 jam kedepan lah.. *benar gak tuh?!* Hehehe..
cemilan di siang menjelang sore
Untuk penutup hari terakhir saya dan teman-teman di kota Singkawang, kami sepakat memutuskan untuk bersantap kembali di Bakmie Kering Haji Aman.. Yeayyy!!! Mie ayam terenak sedunia menurut saya, setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Sesampainya saya di Jakarta, saya mencoba kembali mie ayam di sekitar komplek rumah dan ternyata... saya tidak suka!! Duhh!! Masak mau makan mie ayam saja saya mesti jauh-jauh ke Singkawang sih?? *garuk-garuk kepala* (EKW)


26 comments:

  1. Choi Pou Pan unik warnanya ijo2.. ooh disangkanya itu kue yaa tau2nya dalamnya lobak sama bengkoang

    ReplyDelete
    Replies
    1. choi pou pan nya bukan yang warna hijau, kakak
      tapi yang bentuknya kayak dimsum itu

      Delete
  2. eeh salah yaa choi pou pan itu yang bawahnya hahaha, lagi mengidam kue putri salju :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. Choi pou pannya yang kayak dimsum itu tuh.. hehehe.. :D

      Delete
  3. Membuka postingan ini pas lagi laper ternyata kesalahan besar...sekarang jadi tambah laper dan ngeces hihihi . Jadi mupeng pengen nyobain Bakmie Kering..kayaknya menggoda :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe..
      saya aja yang nulis mesti bolak-balik ngeces tiap kali liat fotonya..
      hahaha..

      Delete
  4. baca postingan ini langsung lapar seketika XD

    saya malah penasaran cicip sama bubur pedasnya itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. saya juga jadi lapar nih..
      bubur pedas itu memang enak dehhh..

      Delete
  5. Menarik ini. Saya menduga perpaduan kuliner dari tiongkok dan budaya setempat menghasilkan beraneka macam jenis kuliner baru yang unik-unik. Saya jadi penasaran, seperti apa sih kuliner Singkawang yang asli tanpa ada "campur tangan" dari budaya lain?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kuliner singkawang yang asli sih sudah pasti kuliner dari suku dayak. sayang di tengah kota mungkin agak jarang ditemui.
      tapi dari dulu memang singkawang terkenal dengan etnis tionghoanya sih.. Festival cap go meh di singkawang aja terkenal hingga ke manca negara lho..

      Delete
  6. kuliner singkawang emg mantaaappp, msih bnyak kuliner khas lainnya yg blm d tampilkan,,
    jd pgn ksna lg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. sampai detik ini saya masih terbayang-bayang dengan nikmatnya mie kering dan choi pou pan nya itu..
      enaknya pake bangetsss... :D

      Delete
  7. Replies
    1. Iyaaa.. saya juga kalau liat foto2nya juga jadi lapar..

      Delete
  8. Cara Pulangnyanya juga di share dong....
    Penasaran kalo naik kereta dari denpasar, kumpulnya di kantor KAI juga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo dari bali waktu itu saya pulangnya naik pesawat mas jadi saya tidak tau caranya klo dr denpasar..
      maaf yaa..

      Delete
  9. Jadi inget siapa yaaaa yg malem2 terbangun kelaperan lalu nyemil udang goreng tepung (atau calamari?) yg dibungkus krn ga habis dari restoran? Buset dah 😃😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahh kau ini.. masa lalu tidak usah diingatlah..
      tapi kan memang wajib menghabiskan makanan.. ingat! banyak orang di luar sana yang masih kekurangan makanan tau..
      hahahaha..

      Delete
  10. Replies
    1. iyaa.. bubur pedas memang salah satu yang bikin kangen.. selain mie kering haji aman ituuu..

      Delete
  11. Mba Endah, kapan ke singkawang lagi? ga kangen makan mie kering H Aman nya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya kangen chou pou pan, kangen mie kering haji Aman, kangen Singkawang, kangen mba Azizahhh.. :)

      Delete
  12. omg mbaaaaa, aku sukses pgn ke singkawang jadinyaaaa :D.. suami tuh yg prnh dinas ke beberpa kota di kalimantan, dan dia selalu cerita, smua makanan di sana enak2 bangetttt... hiks, sayang aku g ikut pas dia dinas... bubur pedes nya aku penasaran ih.. ama yg ketupat dan serundeng jugaa... itu kok mirip ama serundeng daerah sorkam yaaa... ah, kalo kuliner gini mah, aku g bakal bosen2 deh... mendingan wiskul drpd yg lainnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga mbaa.. pengen balik ke Singkawang.. itu bakmi kering haji aman masih terngiang-ngiang di lidah ampe sekarang..
      *ngeces*

      Delete

Translate

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...