Skip to main content

PULAU RAMBUT: KONSERVASI BURUNG DAN BIAWAK, DULU DAN SEKARANG

Atas ajakan teman, tanggal 3 Juni 2012 lalu saya berkesempatan kembali menginjakkan kaki di Pulau Rambut, kepulauan Seribu. Terakhir kali saya kesana sekitar bulan Maret 2008. Tak terasa sudah hampir 4 tahun lebih yah.. Dengan menggunakan perahu nelayan dari dermaga Muara Kamal selama hampir 1 jam, akhirnya saya tiba di dermaga pulau Rambut

Welcome to Rambut Island
(photo taken March 2008)
Niat saya kesini sudah pasti ingin hunting foto binatang. Hmmm.. Binatang?? Buat kalian yang belum tahu, Pulau Rambut adalah pulau tempat konservasi burung dan biawak. Jika pada musim migrasi burung dari Australia ke Asia, beberapa rombongan burung akan singgah di pulau ini. 


Pulau Rambut telah ditetapkan sebagai suaka margasatwa melalui keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/Kpts-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999 dengan luas 90 ha yang terdiri dari 45 ha daratan dan 45 ha perairan. Jadi disini tidak ada rumah penduduk satupun. Yang ada hanyalah rumah ranger atau petugas jagawana yang bertugas menjaga dan memelihara habitat asli pulau Rambut ini. 
Rumah Ranger atau Jagawana
Tenda di depannya adalah milik saya dan teman-teman Caterva
(Photo taken: March 2008)
Di pulau Rambut pengunjung tidak diizinkan menginap. Kalaupun ingin menginap untuk keperluan penelitian, kalian harus mengantongi surat izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kepulauan Seribu yang beralamat di daerah Salemba.


Saat pertama kali menginjakkan kaki di dermaga pulau ini, saya tidak melihat banyak perubahan. Cuma ada sedikit perbedaan, dulu saya masuk ke Pulau ini dengan teman-teman Caterva (penggiat alam bebas di kampus IISIP) dengan jumlah orang 15 orang harus mengantongi izin dari BKSDA terlebih dahulu. 


Sekarang saya kesini dengan teman-teman baru yang berjumlah 50 orang tapi bisa langsung masuk tanpa surat izin. Hehehe.. Sebenarnya bukan tanpa izin juga sih, tapi persyaratannya jadi lebih mudah. Bisa tinggal telepon kepala jagawana yang bertugas di pulau Rambut. Cukup bilang mau masuk ke pulau ini hanya untuk melihat-lihat sebentar, maka bisa langsung masuk. 
Dermaga Pulau Rambut
Atas : Maret 2008,  Bawah : Juni 2012
Setelah istirahat sebentar sambil menikmati sarapan (atau makan siang yah?? soalnya sudah jam 10.30 wib) saya dan kawan-kawan lainnya pun berjalan menuju ke tengah pulau. Di tengah pulau ini ada menara pengamat setinggi 15 meter. Sambil berjalan, saya mencoba pasang kuping dan mata untuk melihat apakah ada biawak di sekitar jalan setapak yang kita lalui. Tapi ternyata, saya berjalan bersama rombongan yang cukup berisik. 


Kelelawar di ranting pohon
(Photo taken : March 2008)

Mas Budi, jagawana yang menemani rombongan saya pun berkata, "Susah kalau berisik begini, semua hewan pasti pada kabur". Yahhh.. musnahlah sudah keinginan saya untuk bisa memotret biawak. Yasudlah, saya pikirkan strategi untuk memotret binatang melata ini nanti saja. Sekarang fokus memotret burung dulu. 


Mata saya jelalatan melihat ranting-ranting pohon di atas kepala saya, karena saya ingat dulu saya pernah memotret beberapa ekor kelelawar yang sedang istirahat (atau tidur yah??) di beberapa ranting pohon. Sayangnya, saya tidak menemukan satu ekor kelelawar pun yang bertengger.Saat sedang berjalan dengan santai, tiba-tiba ada benda jatuh dari langit. Kalian bisa tebak benda apa yang jatuh?? TIKUS MATI ! 


Hahaha.. baru kali ini saya lihat tikus mati jatuh dari pohon..  Kata mas Budi, itu adalah muntahan makanan dari salah satu burung di atas pohon. Penjelasan singkatnya, ada burung yang merasa terganggu dengan suara berisik kita sehingga dia merasa stress dan kemudian memuntahkan makanannya, atau membuang makanannya dan tidak jadi makan. Jadi kalau mau berkunjung kesini, saran saya adalah JANGAN BERISIK!


Suasana hutan bakau di sekitar menara pengamat
(Photo taken : June 2012)

Sesekali saya melihat ada beberapa biawak yang sedang bergerak. Setiap kali saya mengendap-endap untuk memotret biawak tersebut, suara tertawa dari orang-orang yang ada di depan saya membuat biawak tersebut langsung kabur.. Haahhh..!! Bikin bete aja nih.. 


Sesampai di menara pengamat, saya menunggu di bawah dahulu karena ada satu rombongan yang berada di atas menara pengamat. Maksimal hanya 10 orang yang boleh naik keatas. Sisanya harus menunggu dibawah. Kalau mau maksa naik sih silakan, tapi resiko menara rubuh tanggung sendiri ya.. hehehe..
Tangga menara pengamat
(Photo taken : June 2012)
Setelah beberapa saat akhirnya saya bisa naik juga dengan beberapa orang lainnya. Di atas, saya mulai sibuk sendiri untuk hunting foto burung. Sedangkan yang lain asyik foto narsis-narsisan. Kadang saya tidak habis pikir dengan mereka. Mereka tahu pulau ini adalah balai konservasi burung dan biawak. Bukannya belajar (minimal tanya sedikit kek..) mengenai habitat pulau ini, malah asyik foto-foto sendiri. Agak susah memang kalau bawa orang kota ke trip macam begini. Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya sih.. Mungkin memang mereka punya interest dan tujuan yang berbeda dengan saya saat mengikuti trip ini. 


Oh ya.. Berjalan di pulau ini terutama di tengah hutan seperti ini sebaiknya berhati-hati dengan ranjau. Ranjau yang saya maksud disini adalah kotoran burung yang sesekali bisa jatuh dari atas dan biasanya berwarna putih. Di sepanjang jalan menuju menara juga terdapat banyak kotoran burung. Baunya?? Tidak usah ditanya deh.. Mirip pasar burung. Kalau memang tidak kuat dengan bau-bauan tidak enak, sebaiknya persiapkan masker yaa..

Penunjuk arah yang semakin berkurang
Atas : March 2008, Bawah : June 2012
Sayangnya meski kamera yang kali ini saya bawa adalah DSLR (beda sama 4 tahun lalu yang cuma bawa kamera pocket digital, hihihihi..), lensanya masih standar, 18-135 mm. Sedangkan untuk foto jarak jauh butuh lensa tele dengan ukuran minimal 200 mm. Halahh.. Dulu cuma bawa kamera pocket, momennya banyak dan hasil foto gak bisa maksimal (mau bagaimana lagi, dulu adanya cuma itu..). Sekarang bawa kamera semi profesional, namun momennya minimalis sekaleee...  Jadi hasilnya tidak bisa maksimal juga. Jadi berasa tidak ada gunanya punya kamera semi pro seperti ini dehh.. 
Burung Kuntul Besar (Casmerodius Albus)
(Photo Taken: June 2012)
Setelah mencoba memotret beberapa burung yang terbang dan bertengger, saya pun berinisiatif untuk turun duluan. Rencananya saya mau kembali menyusuri jalan setapak sendirian. Siapa tahu bisa ketemu biawak lagi. Saya pun berjalan sekitar 50 meter dari menara pengamat sendirian dan mencoba berdiam diri sejenak memasang telinga. Wilayah di sekitar jalanan setapak ini penuh dengan daun kering, sehingga kalau ada binatang bergerak, pasti akan terdengar suaranya. 


Dugaan saya tepat, sekitar 5 menit-an berdiri dalam kesunyian (ceileee...) saya mendengar bunyi kresek..kresek dari sebelah kiri saya. Mencoba menengok sambil mencari sumber suara..


GOTCHA!! Itu dia ada satu biawak kecil sedang berjalan perlahan-lahan. Agak jauh sedikit dari tempat saya berdiri sihh.. Saya pun mencoba berjalan sehening mungkin, mulai mencoba memotret beberapa kali dengan setingan manual. Akhirnyaaa... dapat satu frame yang bagus.
Satu-satunya foto biawak yang berhasil saya abadikan dengan baik
sisanya, lebih banyak nge-blur atau tidak fokus
(Photo taken : June 2012)
Horee..!! Mission accomplished, ladies and gentleman! Tepat saat saya mendapat satu frame itu, seorang teman menghampiri saya menanyakan apakah ada biawak disekitar situ. Sayangnya, dia nanya sambil berjalan dan berbicara agak sedikit berisik (meskipun dia sudah berusaha untuk berbisik-bisik dengan saya) Jadilah tuh biawak langsung kabur..
Salah satu ranger atau jagawana di pulau Rambut
(Photo taken : June 2012)
Yasudlah.. Sebenarnya saya agak gemas juga nih sama teman baru ini. Tapi berusaha memaklumi bahwa dia hanya orang awam yang belum mengerti bagaimana caranya memotret binatang liar.. Gaya amat ya saya ngomongnya, padahal saya juga masih butuh banyak belajar.. hehehe...


Setelah ini saya mencoba berjalan lagi (berusaha untuk tanpa suara) sambil berharap dapat menjumpai beberapa biawak lagi. Meski saya bertemu dengan beberapa biawak, namun kali ini di belakang saya sudah ada rombongan peserta trip lainnya. Sudah pasti suasanya mulai berisik, dan saya mulai kesulitan lagi mencari biawak lagi. Kayaknya harus puas dengan satu frame itu deh.
Dipotret dari atas menara pengamat
(Photo taken: March 2008)
 Mas Budi cuma tertawa melihat saya manyun. Kata dia, kalau niat mau memotret biawak, sebaiknya datang saja pada hari biasa, jangan pas weekend. Terlalu ramai untuk bisa memotret biawak.


Oh iya.. Ngomong-ngomong, selama berada di pulau Rambut ini, saya hanya melihat biawak-biawak kecil, bukan yang besar-besar seperti yang saya lihat dahulu. Jumlah burungnya pun rasanya kok semakin berkurang ya??



Menurut mas  Budi, burung disini mulai berkurang sejak pulau Rambut mulai banyak pengunjungnya karena perijinan masuk yang lebih mudah. Sedangkan biawak, masih banyak kok yang besar-besar yang panjangnya hingga 2 meter lebih. Hanya saja dia berada di tempat yang lebih tersembunyi karena tidak suka suara berisik dari pengunjung yang datang.. hhmm.. Pantesan aja!
Berharap bisa dapat foto seperti ini lagi
tapi susah euuyy..
(Photo taken: March 2008)
Ya sudah lah! Saatnya pulang. Sayangnya kali ini saya tidak berkesempatan melakukan susur pantai dan mengelilingi pulau Rambut seperti yang dulu pernah saya lakukan bersama teman-teman Caterva. Mungkin lain kali saya akan kesini sendirian khusus untuk hunting foto saja, dan menyusuri pantai pulau ini di hari Jumat atau Sabtu. Tidak seperti hari Minggu seperti ini. Ada yang mau ikut?? (EKW)

Comments