Skip to main content

BERSIH DAN TERATURNYA SINGAPURA

Hari Kedua, 22 April 2012

Setelah tertidur dengan pulas selama beberapa jam di rumah om Hussien, saya pun terbangun sekitar pukul 7 pagi. Hmm.. Melirik kanan kiri di dalam rumah kok masih sepi ya??? Ada si mbak Afiyah, pembantu om Hussien yang berasal dari Indonesia sedang mulai memasak. Bertanyalah saya sama dia, "Kok masih sepi ya? Memangnya anaknya om Hussien tidak sekolah?" "Sekolah kok, Nanti jam 8"
Si Coco, kucing anggora yang menggemaskan..
Heehh.. jam 8? Tidak salah tuh? Kalau masuk sekolah aja jam 8, bagaimana yang masuk kerja ya? Hahaha..  Beda negeri memang beda kebiasaan ya.. Yasudlah.. Saya melanjutkan tidur lagi aja.. Hohoho... Masih ngantuk soalnya nehh...

Sekitar jam 10 saya pun terbangun. Segera mandi buat siap jalan-jalan lagi. Mumpung Om juga lagi bersiap-siap, maka saya dan Irma pun main-main sama si Coco, si kucing anggora yang lucuuuu... bangets.. Hiyaa.. Boleh dibawa pulang tidak yahh??? hehehe...


Setelah Om Husien sudah ready, kita pun makan pagi bareng sambil ngobrol. Hari ini kita rencananya mau ke Jurong Bird Park a.k.a taman burung.. hehehe.. Pasti kalian pada mikir, jauh-jauh ke Singapore mau ngapain ke taman burung segala? Sebenarnya sih lebih karena saya suka lihat binatang saja sih. lagipula tiket masuknya murah, hanya sekitar SGD 18.
Welcome to Singapore Zoo
Setelah ngobrol sedikit panjang dan lebar, Om Husien menawarkan untuk ke Singapore Zoo. Aduhh.. Saya langsung melirik Irma karena kita tahu tiket masuk kebun binatang ini agak mahal, sekitar SGD 42 (termasuk night safari). *krik..krik.. bingung.com). Ternyata Om Husien memberikan kejutan buat kita, 2 tiket gratis ke Singapore Zoo.. Horeeee.. Loncat-loncat kegirangan, tapi dalam hati aja deh. Malu kalau beneran dilakukan hehehe.. Terimakasih Ya Allah, Engkau berikan kesempatan untuk bertemu dengan keluarga yang baik hati ini. Jadilah kita ke Singapore Zoo.
Petunjuk arah, peta dan jadwal show binatang 
Kalau ngomongin kebun binatang, saya pernah ke beberapa kebun binatang di beberapa kota di Indonesia, dan saya beranggapan, jika binatang terpelihara dengan baik di suatu kota, biasanya itu bisa mencerminkan bagaimana kepedulian pemerintah daerah terhadap warganya. Itulah sebabnya saya mau ke Singapore Zoo. Ehh.. nyambung tidak sih logikanya?? Well.. setidaknya begitulah menurut saya.. hehehe.. maksa.com.

Pertama kali masuk Singapore Zoo, saya dan Irma pun terkagum-kagum dengan kerapihan dan kebersihan di kebun binatang ini. Di depan pintu masuk langsung ada brosur Singapore Zoo dengan peta lokasi-lokasi binatangnya. Di beberapa tempat saya juga melihat beberapa peta Singapore Zoo dan beberapa jadwal show binatangnya. Keren deh.. Jadi agak sedih jadinya begitu mengingat kondisi kebun binatang Ragunan di Jakarta. Beda jauh euy...

Saya langsung terpesona melihat seekor hewan mirip kera tapi kecil banget. Namanya Cotton Top Tamarin. Eksotis banget deh kera kecil satu ini.  Hebatnya lagi di Singapore Zoo ini lebih dari 60% hewan tidak dimasukkan ke dalam kandang dengan jeruji besi. Arsitektur landscapenya memungkinkan beberapa binatang tetap di tempatnya dengan dibangun kolam disekitarnya dan pohon-pohon tinggi untuk tempat bergelantungan monyet dan tempat hinggap burung. Bahkan ada beberapa binatang yang jinak malah dibiarkan lepas seperti burung merak yang bebas berkeliaran diantara pengunjung. 
Cotton Top Tamarin 

Salah satu burung merak yang bebas berkeliaran
Di kebun binatang ini saya dapat melihat beberapa hewan khas Indonesia seperti Tapir, Babirusa sampai Komodo juga ada. Saya perhatikan lingkungan di sekitar kandang para hewan ini plus hewan itu sendiri juga terlihat bersih banget. Jadi sedih lagi deh mengingat nasib para binatang di Ragunan euy.. 

Kita pun berkeliling selama beberapa jam dan mengabadikan beberapa hewan dan juga foto narsis kita disini lahh.. Setelah puas melihat-lihat disini, berikutnya kita dijemput dan diantar keliling kota sebelum akhirnya kita ke Bugis Junction di Bugis Street. Horeee... Saatnya belanja saudara-saudara..
Bugis Junction
Ditempat ini kita bisa mencari berbagai suvenir mulai dari harga termurah sampai harga termahal, mulai dari baju dan aksesoris sampai beberapa peralatan elektronik juga ada. Kalau mau kaos dengan tulisan I Love Singapore dijual dengan harga termurah 4 kaos = SGD 10, gantungan kunci ada yang isinya 18 seharga SGD 10. Beberapa barang juga ada yang bisa ditawar kok. Saya pikir sama dengan yang di mangga dua kali yaa.. 
Suasana di Bugis Street
Berhubung saat itu hari minggu jadi suasana jalan disini ramai banget. Saat sedang asyik memilih barang, tiba-tiba HP saya berbunyi. Ehh.. si Ichi sms minta ketemuan karena ingin jalan bareng. Yasudlah. Saya telepon untuk memberitahukan dimana lokasi kita berada. Sekitar 30 menit kemudian Ichi datang dan kita pun pergi ke sebuah minimarket grosir makanan untuk membeli oleh-oleh untuk teman kantor. 
Menjelang sunset di  East Coast, Singapore
Sunset di East Coast
Setelah puas berbelanja, kita pun meluncur ke East Coast. Ini merupakan salah satu pantai di Singapore. Rencananya sih ke East Coast supaya bisa rental sepeda dan keliling Singapore sambil naik sepeda. Ehh.. Sampai disana ternyata rental sepeda cuma boleh di wilayah East Coast, sepeda tidak boleh dibawa keluar dari wilayah East Coast. Yaahh.. penonton kecewa!! hehehe..
Suasana East Coast di malam hari
Bersih dan tenang yaahh..
Yasudlah.. Kita nongkrong aja disini sambil menikmati sunset, main-main di pantai dan foto-foto narsis (teteup yahh..). Setelah matahari benar-benar tenggelam, kita pun segera beranjak keluar dari wilayah East Coast. Sempet foto-foto sebentar di wilayah East Coast malam hari, kita pun melanjutkan perjalanan. Sebelumnya kita harus mengantarkan Ichi balik ke hotelnya. 


Sebenarnya saat itu kita sudah mau pulang, tapi mengingat ini malam terakhir kita di Singapore maka saya meminta untuk diantarkan ke Merliom Park, karena saya ingin memotret suasana Singapore di malam hari. Maka meluncurlah kita gedung Esplanade ditemani rintik-rintik hujan. 
Kolam di depan gedung Esplanade

Merlion Park di malam hari

Dengan meminjam tripod milik Om Husien, mulailah saya hunting foto suasana Singapore di malam hari. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 saat lampu sorot di Marina Bay Sands dinyalakan dan berputar-putar. wahh.. Keren euy.. 

Sayangnya saya tidak bisa puas memotret karena baterai kamera sudah berkedip-kedip tanda kehabisan energi dan memori card sudah tercantum kurang dari 20 frame lagi yang bisa diambil. Hadoohh.. kenapa kehabisan baterai dan memori card di saat-saat seperti ini sih?? Mana hujan mulai turun dan belum  makan pula. Hadoohh.. Lengkap lah sudah penderitaan saya malam ini. Tapi tetap bersyukur bisa mendapat beberapa foto istimewa seperti yang kalian bisa lihat disini. Bagus tidak ???

Marina Bay Sands dengan lampu sorotnya
Setelah benar-benar kehabisan baterai kamera dan memori card, mau tidak mau akhirnya hunting foto harus dihentikan. Kita pun kembali ke mobil. Setelah ini kita sudah bersiap-siap pulang kerumah, namun Om Husien mengajak kami berkeliling Singapore di malam hari dan menunjukkan beberapa tempat seperti daerah Little India yang banyak banget orang Indianya (yaiyalah...) dan jalan Geylang yang terkenal sebagai tempat prostitusi.

Haahh.. di Singapore ada tempat khusus prostitusi juga ya?? Kata Om Husien, prostitusi di sini terutama yang di dalam hotel dan bar memiliki sertifikat kesehatan dan sertifikat praktek prostitusi. Setiap 6 bulan sekali mereka diwajibkan melakukan tes kesehatan supaya memastikan mereka bebas penyakit kelamin. Para konsumennya berhak untuk melihat sertifikat kesehatan mereka sebelum melakukan penawaran harga. Jika prostitusi itu tidak lolos tes kesehatan, maka mereka tidak boleh beroperasi lagi. Kalau ketahuan bisa langsung dijebloskan ke penjara. Jadi di jalan Geylang ini suka ada pemeriksaan dadakan dari dinas kesehatan Singapore.

Heehh.. Peraturan yang aneh!!! Sebegitu teraturnya Singapore sampai-sampai prostitusi saja harus ada sertifikasinya dulu.. *geleng-geleng kepala* Di pinggirang jalan Geylang juga ada prostitusi yang lagi mangkal. Kata Om Husien yang biasanya menunggu pelanggan di jalanan seperti itu harganya lebih murah karena mereka tidak punya sertifikat kesehatan. Biasanya kalau ada pemeriksaan dadakan mereka langsung pada melarikan diri. 


Berkeliling Singapore sambil mendengarkan info seperti ini tentu saja sangat menyenangkan. Bayangkan kalau saya menginap di hotel, mana saya tahu info seperti itu, betul tidak??? 

Setelah ini kita pun pulang menuju rumah Om Hussien. Kita berhenti dulu di sebuah restoran India di sekitar area Woodlands untuk makan malam. Sampai di dalam restoran, iseng-iseng saya melihat jam. Pukul 24.00. 
Prata dengan kentang tumbuk didalamnya
Haahh.. Serius nih tengah malam??? Saya sampai bertanya ke Irma kemudian melihat jam di dalam restoran yang ternyata benar-benar jam 12 malam. Pantesan dari tadi di Merlion Park perut saya selalu menyanyi lagu keroncong. Ternyata emang sudah lewat jam makan malam tohh. Oke ! Mari kita makan. 

Makanan disini rata-rata lebih ke camilan daripada makanan berat, setidaknya menurut saya. Namanya Prata, beberapa diantara kalian mungkin mengenalnya dengan nama Roti Cane. 
original paper prata
Saat mencicipinya rasanya lebih mirip crepes tapi tidak manis, melainkan gurih. Makanan ini dilengkapi dengan saus kari kambing, saus kari kacang,  gula pasir putih, dan ada 2 saus lagi yang saya lupa namanya..  Maaf ya.. sudah malam jadi otak sudah mulai konslet euy.. Selain itu saya juga mencoba Paper Prata dengan susu dan Coin prata dengan saus dan gula pasir. Enak buat camilan nongkrong neehh.. 
Prata paper with Milk
Coin Prata
Untuk penutupnya, minumnya.. Teh tarik dingin yang segar bangettss!!
Setelah makan dan ngobrol panjang lebar, saatnya kita pulang! Begitu sampai di rumah, kembali saya melihat jam. Pukul 03.00. Halah, lama amat kita makannya yahh, sampai 3 jam begitu yah.. pantesan ngantuk berat. Yasudlah.. Mari kita tidur! (EKW)

Comments