Monday, May 7, 2018

PEJUANG PEDAS GEPREK DI BUMI MINA TANI

Sejak memutuskan resign dan beralih menjadi freelancer, saya pun segera hengkang dari kota Jakarta dan balik ke kota Pati, Jawa Tengah. Selain karena biaya hidup yang lebih murah, saya juga berniat untuk kerja di rumah sembari menemani kedua orangtua. Maklum, saya sudah merantau selama 19 tahun, sejak umur 15, jauh dari orangtua.

Peralihan dari kota besar ke kota kecil tentu saja butuh banyak adaptasi. Salah satunya soal kuliner. Di kota besar meski tengah malam pun masih bisa mencari berbagai makanan yang diinginkan. Kota Pati memang punya beberapa kuliner lokal yang sudah pernah saya coba. Namun, di kota kecil ini, kalau tengah malam lapar mah paling banter makan mie instan euy. Itu juga harus sedia stok di rumah.

Baca Juga : Kulineran di Bumi Mina Tani

3 bulan pertama, saya bingung mencari makanan dengan sambal yang nampol. Maklum, di keluarga saya yang paling doyan makanan pedas. Sebenarnya di keluarga sih semuanya doyan pedas. Namun, levelnya beda-beda dan level saya lah yang paling tinggi.


Setelah beberapa bulan bengong aja di rumah, dimulai deh perjuangan mencari kuliner geprek di kota Bumi Mina Tani, kota Pati. Ini dia listnya.


1. Ayam Geprek Joozz
Ini warung makan ayam geprek pertama yang saya lihat dan saya datangi di kota Pati. Seporsi ayam geprek original tanpa nasi di bandrol dengan harga Rp. 13.000. Ada juga menu ayam geprek dengan toping Mozarella yang enak banget. Harganya Rp.15.000,-. Ayamnya berupa dada ayam goreng tepung.
ayam geprek Joozz Pati
Di warung Geprek Joozz ini level kepedasan bisa dipilih. Pertama kali datang saya lihat level pedasnya sampai 40. Namun sebulan terakhir saya lihat menu sudah diganti dengan maksimal level 20. Mungkin karena belum ada yang sampai level diatas 20 kali ya. Saya sendiri sih pernah sampai mencoba level 12 dan itu pedasnya bikin sakit perut keesokan harinya. Hahahaha. Setelah itu biasanya pesan di level 8 atau 10 saja.

2. Ayam Geprek Pati
Restoran yang satu ini telah saya lewati berkali-kali dan akhirnya mencoba mampir untuk mencicipi ayam gepreknya. Disini ada paket hemat berupa ayam geprek + sambal korek + lalapan + teh (panas/dingin) seharga Rp. 22.000.
Ayam geprek Pati
Saat pesanan saya datang saya agak bingung lihat isi piring saya. ayam liwet (atau ungkep) goreng (tanpa tepung) dan sambel koreknya terpisah, tidak digeprek bersamaan. Lebih mirip pecel ayam sih.  Lalu lalapannya berupa kol, rebusan daun pepaya dan sepotong timun. Irit banget lalapannya. Yahh namanya juga paket hemat.

Secara rasa, bumbu ayamnya berasa banget. Dimakan begitu saja enak lho ayamnya. Lalu sambal koreknya juga lumayan pedas. Oh ya, resto yang ini sebenarnya merupakan franchise karena saya pernah melihat logo yang sama di kota Kudus dan Semarang.

3. Red Chicken
Red Chicken ini sebenarnya lebih mirip resto fast food gitu deh. Letaknya berada di depan stadion Joyokusumo, kota Pati. Kalau kesini sore-sore bisa sambil nongkrongin yang lagi pada olahraga di sekitar stadion.
Ayam geprek Red Chicken Pati
Menunya aja ada paket burger, ayam goreng tepung, dan juga steak ayam. Mungkin karena sedang booming ayam geprek makanya ada tambahan menu ayam geprek. Seporsi paket ayam geprek Rp.17.000 sudah plus minuman es teh manis. Meski tampilan ayam geprek sambelnya menggoda iman, tapi rasanya tidak terlalu menggoda lidah. So-so lah kalau menurut saya.

4. Ayam Geprek Kahfi
Lokasi ayam geprek Kahfi ini berada di jalan Penjawi ini juga jadi incaran saya karena masih satu jalan dengan resto Bakso Bandeng favorit ibu saya. Seporsi ayam geprek seharga Rp. 14.000,-. Rasa pedasnya menurut saya sih lumayan, meski masih agak sedikit kurang nampol sih. Hehehe.
Disini juga ada menu ayam bakar geprek namun belum sempat saya coba sih, nanti akan diupdate untuk menu yang satu itu.
ayam geprek Kahfi, Pati

Berdasarkan hasil test lidah saya, untuk rasa pedas saya lebih suka Ayam Geprek Jozz yang punya level 1 hingga 20 plus ada menu yang pakai keju pula. Hampir setiap ngidam ayam geprek saya pasti larinya ke warung makan ini. Tapi kalau berdasarkan rasa gurihnya potongan ayam maka Ayam Geprek Pati lebih juara, meskipun ayamnya tidak digeprek dengan sambal koreknya.

Sebenarnya ada beberapa ayam geprek pinggir jalan yang sudah saya coba, seperti di sekitar alun-alun Pati atau di sekitar pasar Guwangsan. Mungkin nanti list disini akan bertambah nantinya. Tunggu saja ya.

Jadi, di kota kalian sudah nemu berapa warung ayam geprek? Seberapa tinggi level pedasnya? Yuks dishare. (EKW)

12 comments:

  1. Aku justru nggak begitu suka pedas, mba. Padahal kuliner di kampung halaman cenderung pedas dan asin. Suka bingung kalau disuguhi makan, karena keluarga besarku semuanya doyan pedas. Tetap makan sambil ngoweh-ngoweh kepedasan.
    Aku suka masak sendiri. Kalau ke warung pilih warung yang bakulnya berasal dari Jawa Tengah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. buat saya penyuka pedas, tinggal di jawa tengah itu rada membingungkan, karena masakannya rata2 manis euy...saya lebih suka rasa pedas dari kuliner sumatera dan sulawesi .. hehehe

      Delete
  2. Ayam geprek adalah makanan yang mudah diterima tiap lidah orang Indonesia hahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul.. tinggal menyesuaikan dengan tingkat kepedasan yang diinginkan.

      Delete
  3. kelihatannya mantaf banget tuh ayam gepreknya, jadi ingin deh

    ReplyDelete
  4. Wah bisa nih jadi alasan buat main ke Pati. Siapa tau sekalian dikenalin sama orang tua adik angkatan waktu kuliah. *eh

    ReplyDelete
  5. Wah, menjadi penganut GKD alias gerakan kembali ke desa ya mbak, mantap
    Klo ayam geprek saya suka beli ajam goreng tepung trus digeprek sendiri dirumah, bisa sesuai selera, bisa dijadikan alternatif mungkin hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. GKD, baru dengar saya. Hehehe
      Iya sih demi memmbangun desa.. Halah!

      memang sepertinya geprek ayamnya enakan di rumah ya.. bisa menyesuaikan tingkat kepedasan yang diinginkan ya.. Bisalah kapan2 dicoba..

      Delete