Wednesday, September 21, 2016

DEHIDRASI DI TENGAH SUNGAI

Gambar pasar terapung di Kalimantan paling terkenal se Indonesia adalah lewat iklan RCTI oke atau ID stasiun RCTI yang disiarkan pada tahun 1996 - 1998 dan tahun 2008 - 2009. Pas menginjakkan kaki di kota sungai ini, narasumber mengajak untuk mengambil gambar di pasar terapung. "Belum ke Banjarmasin kalau belum lihat pasar terapung" ujarnya dan saya mah nurut saja secara ada team leader yang tugasnya mengatur jadwal liputan. hehehehe..

Jam 6 pagi, 15 menit sebelum matahari muncul di ufuk timur, kami menaiki perahu, yang sering disebut Jukung oleh orang Banjar, dari dermaga di depan balai kota Banjarmasin. Jukung ini merupakan transportasi utama di sungai-sungai Kalimantan yang biasanya dipasang mesin beberapa PK. Pasar terapung yang dituju adalah Lok Baintan yang ditempuh sekitar 30-40 menit dari depan Balaikota. 


Matahari mulai muncul saat kami masih menyusuri sungai menuju Lok Baintan. Harap-harap cemas apakah pasar terapung masih ada karena kita sudah kesiangan. Idealnya sih jam 5 pagi sudah di Lok Baintan, kenyataannya sekarang sudah pukul 06.30 WITA. *garuk-garuk kepala* Yasudahlah ya. terima nasib aja kalau pasarnya sudah bubar. Sekarang nikmati saja terbitnya matahari dari atas jukung di tengah sungai Martapura.

Beberapa puluh menit kemudian kapal kami sudah mendekati wilayah Lok Baintan dan dari kejauhan masih terlihat belasan kapal dengan berbagai bahan dan barang-barang jualan. Yeay! Pasarnya belum bubar sodara-sodara. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 lewat. *sorak-sorak bergembira di atas kapal sambil tersenyum selebar-lebarnya*

Begitu sampai, saya langsung sibuk mengambil gambar dan video. Saat sibuk foto-foto dan melihat barang jualan di pasar terapung ini, beberapa ibu-ibu penjual yang mendekat selalu bertanya "Kok berani naik ini, mbak?"
saya berkerut, "Emangnya kenapa, bu?".
"Biasanya orang luar suka naik kapal yang besar itu tuh, kalau macam jukung begini pada takut. mbak dan mas hebat berani naik jukung".
"Lha ibu juga berani tuh naik jukung" kata saya sambil tersenyum.
"Ahh si mbak, kita kan udah biasa tiap hari naik jukung"
"Saya juga sudah biasa naik perahu semacam ini Bu, Bapak saya kan pelaut di Papua selama belasan tahun. Jadi, nenek moyang kita seorang pelaut Bu" Sambil tersenyum lalu membeli sebungkus nasi kuning, pisang goreng dan beberapa telor asin dari kapalnya.

Beberapa penjual buah juga mendekati kapal kami dan sebungkus jambu air pun mendarat mulus di kapal kami. Beberapa penjual lainnya bahkan memberi harga yang cukup murah, 20.000 untuk 10 buah mangga seukuran 2 kepalan tangan. Deuhhh.. bukannya tidak mau beli ya, tapi sebanyak itu mau dihabisin seberapa lama?? Mau tak mau harus ditolak sambil menunjukkan belanjaan lain di kapal kami. Maaf ya pak, bu.

Btw, setelah puas foto-foto sambil ngunyah di atas jukung, saya baru ngeh lupa bawa air minum. Saya berusaha mencari-cari penjual yang menjual air minum kemasan. "Tadi sih ada saya lihat, mbak. tapi entah deh sekarang kemana tuh penjualnya" ujar teman saya. Duh abis ngemil telor asin 2 butir berasa banget dehidrasinya nih tenggorokan. Kering euy. Kalau nih sungai airnya jernih mah sudah saya minum dari tadi kali nih air sungai. Sayang airnya berwarna coklat. "Anggap saja susu coklat ndah" kata teman saya yang satunya lagi. Dihh ogah banget.

Terpaksa harus menahan rasa dehidrasi selama lebih dari setengah jam menuju kembali ke Banjarmasin. Lain kali, kalau mau ke pasar terapung, sebaiknya sih bawa air minum deh ya. Biar gak dehidrasi di tengah sungai macam saya.(EKW)


6 comments:

  1. Hello mbak, salam kenal. AKu suka banget liat photo2nya.dari dulu kepengan moto beginian, belum terwujud, Pas ke Thailand juga nggak jadi2...Its a must lah kalau ke Kalimantan,kk saya kebetulan baru pindah ke sana...so maybe have a chance :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hello mbak Dewi, salam kenal juga..
      saya bulan mei lalu ke Tahiland juga gak nemu pasar terapungnya, karena bukan weekend. Alhamdulillah dapat rejeki tugas ke Banjarmasin jadi bisa menyambangi pasar terapungnya dehh

      Delete
  2. Aku cek di Tripadvisor kok banyakan komen negativenya ya mbak.. yg discam lah disana..nggak banyak yang puas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sih.. beberapa penawaran harga memang sempat bikin saya cuma bisa nyengir kuda, rada mahal bahkan untuk ukuran kita yang dari kota besar.
      trus.. jambu air yang saya beli ternyata busuk di dalamnya..
      jadi kecewa sih..

      Delete

Translate

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...