Wednesday, August 10, 2016

SENIMAN KARUNGUT ITU PUN PERGI

Setelah huru-hara menyambut tugas negara ke Palangkaraya (baca disini) saya akhirnya bisa tiba dengan selamat di bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya sambil ngusap-ngusap hidung yang mampet bin gatal sejak 3 hari yang lalu.

Narasumber yang akan saya temui adalah bapak Syaer Sua, seniman karungut dari Kalimantan Tengah. Karungut sendiri adalah kesenian tradisional dari suku Dayak di Kalimantan yang berupa seni musik dan atau seni sastra lisan seperti pantun dan puisi yang didendangkan. Karungut biasanya berisi pesan-pesan kehidupan bagi para generasi muda.

Ternyata perjalanan menuju tempat tinggal narasumber tidak semudah yang dibayangkan. Beliau tinggal di Desa Tumbang Manggu, kecamatan Sanaman Mantikei, kabupaten Katingan yang letaknya sekitar 5-6 jam dari kota Palangkaraya.


Perjalanan pun dimulai dari jalan beraspal mulus hingga berbatu, berpasir hingga berair. Berair dalam artian harfiah lohh.. soalnya pakai acara menyeberangi sungai sampai 3 kali! pakai perahu. *Ya kali naik mobil nyebur sungai* hehehehe.

Memasuki jalanan menuju desa Tumbang Manggu, tidak ada jalanan beraspal mulus sama sekali. Hanya jalanan pasir yang berdebu dan sesekali terlihat deretan kayu yang telah dipotong berjajar rapi di pinggir jalan.

Mencari rumah beliau cukup mudah, semua penduduk desa mengenal beliau sebagai sesepuh Karungut dengan rumah betangnya yang berdiri kokoh di tengah desa. Mengetuk pintu di rumah Betang pun disambut dengan sapaan ramahnya saat menyambut kami memasuki rumah kediamannya yang dibangun pada tahun 2002.

Berbagi cerita, mencicipi masakan rumahan khas Dayak dan mendengarkan beliau bercerita sambil memainkan alat musik tradisional benar-benar jadi momen tak terlupakan. Beliau pun tidak keberatan saat saya meminta menggunakan pakaian adat khas Dayak dan menyanyikan lagu yang sama 3 kali berturut-turut untuk pengambilan gambar video. Maklum, untuk tugas kali ini, hanya saya seorang diri videografernya. Mau tak mau, harus melakukan beberapa kali pengambilan gambar untuk video yang sama.

Usai tugas selesai, kami pun diajak berkeliling di kedua rumah betangnya. "Bagaimana kalau malam ini kalian menginap saja disini?" ajaknya ramah. Senyum saya yang saat itu mulai terkembang mendengar ajakannya mendadak membeku saat mendengar team leader saya berkata: "Terima kasih pak, tapi kami hanya punya 2 hari di Kalimantan dan esok adalah tugas kami mewawancarai beberapa orang di kota Palangkaraya sebagai testimoni untuk Bapak, jadi kami harus pulang malam ini" ujarnya. Saat itu, ada sedikit rasa sesal di dada tidak bisa memenuhi ajakan beliau untuk menginap semalam di rumah Betangnya.

Kami pun segera pamit pada sore hari menjelang magrib dan bergegas meninggalkan desa Tumbang Manggu. Esok harinya tugas pun selesai dan kami segera pulang ke ibukota. Liputan dan pertemuan tentang beliau pun segera terlupakan dengan berbagai tugas negara yang datang bertubi-tubi hingga saya hanya sempat membagikan hasil video liputan lewat akun youtube pribadi saya @endahkwira setahun yang lalu.

Tak dinyana, sebulan yang lalu, beberapa orang mengomentari video youtube itu dengan ucapan belasungkawa "RIP pak Syaer Sua". Terkejut! Saya mencari info tentang beliau dan ternyata ia telah wafat pada tanggal 25 September 2016 karena penyakit pembesaran pembuluh jantung di RSPAD Jakarta.

Ahh.. Padahal saya berniat suatu saat ingin kembali kesana, menikmati alam dan seni budaya Kalimantan dan berbagi cerita bersama beliau di rumah Betangnya yang mempesona. Namun, nasib menggariskan jalan yang lain. Selamat jalan pak Syaer Sua, Semoga tenang bersama Yang Maha Kuasa disana dan abadi selalu nama dan seni yang telah engkau ajarkan di dunia ini.

Tulisan ini didedikasikan kepada Alm. Bapak Syaer Sua (15 Mei 1952 - 25 September 2016).

2 comments:

Translate

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...