Wednesday, March 16, 2016

MELEPAS RINDU DI CIKURAY

Sejak awal 2014, saya tak lagi menapakkan kaki di dinginnya hutan dan tingginya gunung. Trauma akibat pendakian di gunung Salak yang membawa pergi salah satu teman membuat saya kini lebih banyak menghabiskan waktu di pantai, pulau dan laut. Terkadang ada rasa ingin kembali berpetualang ke ketinggian yang menjulang di kejauhan. Namun, rasa takut selalu menyurutkan langkah untuk kesana. Berkali-kali tawaran menapakkan kaki di ketinggian itu saya tolak. Kalaupun ada, hanya gunung-gunung standar yg bisa didaki dalam hitungan 2-3 jam. Lebih dari 5 jam?! Sudah pasti hanya.gelengan kepala lirih yang bisa saya berikan. Bahkan tawaran ke gunung Gede yang sudah berkali-kali saya sambangi pun tetap saya tolak.
view gunung Cikuray sebelum pos pemancar
Hingga suatu saat teman menawarkan untuk mendaki puncak Cikuray. Saya masih meragu, namun tak ada gelengan kepala kali ini. Hanya senyuman dan kalimat "masih tentatif tapi Insya Allah ya" yang bisa terucap dengan gemuruh di dada yang memburu. Masih sanggupkah saya?! Masih takutkah saya?! Bagaimana jika hal itu terulang kembali?! Ahh.. tak sadar bulir-bulir airmata menetes di sudut mata.

Meski demikian, segala persiapan tetap saya lakukan, bahkan cek and ricek perlengkapan dan logistik saya lakukan hingga lebih dari 5 kali. Ahhh.. saya merasa kembali menjadi Endah di tahun 2002, Endah yang pertama kali diajak hiking namun tidak punya peralatan lengkap. Hanya ada rasa ingin tahu yang tinggi sekaligus juga rasa takut yang membuncah di dada.

Hari keberangkatan semakin dekat. Koordinasi dengan 2 orang teman dekat secara terus menerus menguatkan tekad untuk kembali menapakkan kaki di ketinggian itu. Tanggal 28 Maret 2015 saya berada di bawah pemancar, memandang ketinggian yang menjulang dari Cikuray sambil berbisik kepada sang Maha Pencipta, semoga perjalanan kali ini senantiasa diberi kemudahan.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 Langit cerah hari ini. Kami berjalan melewat perkebunan teh yang menghijau, perlahan tapi pasti. Huft! Setelah sekian lama tak mendaki, nafas rasanya susah diatur. Panas matahari yang mulai memanggang kulit mulai terasa memberatkan.

Memasuki kawasan hutan, langkah kaki tak lagi terasa berat. Teduhnya kanopi hutan diselingi hembusan angin semilir membuat saya bisa mengatur nafas dan langkah yang stabil. Tatkala beristirahat, terlihat puncak gunung Ciremai di kejauhan. Gunung yang pernah kupijak bersama kawan-kawan kampus 6 tahun silam. Perjalanan tampaknya masih panjang, matahari semakin turun di peraduannya. Namun, pos 7 yang akan kami tuju belum juga terlihat.
Puncak gunung Ciremai di kejauhan
Hujan turun!! Saya mulai panik, hari itu persis sama dengan hari ini, hujan menjelang matahari terbenam. Kami pun sepakat untuk mendirikan tenda beberapa ratus meter selepas pos 5. Tak masalah belum sampai tujuan, yang penting kami harus segera berlindung dari derasnya hujan dan segera mengisi perut kami malam ini. Ayam goreng, sayur sop, sosis goreng dan beberapa potong buah jadi menu makan malam kami. Bukan, Ini bukan menu mewah, hanya menu standar dengan kalori yang cukup untuk aktifitas berat yang kami jalani hari ini. Di luar tenda, hujan tetap mengguyur tak henti menemani kami hingga terlelap.

Guyuran hujan sejak pukul 16.00 tak kunjung berhenti tak kala kami tersadar dari mimpi tak berujung pagi ini. Pukul 05.00. Ahh. Tampaknya menikmati sunrise di puncak nanti harus dilupakan. Tak apalah, gumamku sambil menyiapkan sarapan pagi.

Pukul 07.00, tetesan dari langit mulai menghilang berganti dengan hangatnya mentari. Kami sepakat, ini saatnya mencoba untuk menapakkan kaki menuju ketinggian 2821 mdpl. Berbekal 1 daypack berisi logistik dan air minum, saya dan ke empat teman seperjalanan ini pun berusaha menggapai puncaknya.

Sepanjang perjalanan, beberapa sapaan dan candaan dari team lain yang sedang turun terkadang saya dapatkan. Ahh beberapa hal tak berubah. Masih sama seperti yang dulu, meski tak semuanya seperti itu. Ada beberapa team yang kami lewati bersikap acuh meski senyum dan sapaan kami lemparkan. Yahh.. mungkin semua hal tak benar-benar sama seperti dulu.

3 jam pun kami lewati untuk bisa menjejakkan kaki diatap bumi Priangan. Saya, hanya bisa mengucap syukur dimudahkan semua jalan menuju kesini. Duduk bersandarkan tembok pos di puncak ini, bercengkerama bersama beberapa team membuat saya tersadar. Saya rindu hal ini, bercengkerama akrab dengan orang asing yang menyenangkan sambil berbagi kopi, teh, makanan ringan dan cerita-cerita.
Saya hampir tertidur oleh semilirnya angin ketika salah satu teman mencolek pundak saya sambil berkata "yuk turun, udah siang, biar gak kesorean sampai di bawah". Rindu itu kini telah lepas di antara pepohonan dan sejuknya kabut di hutan Cikuray. Hanya satu janji terucap lirih, saya akan kembali bermain disini, menikmati alam, dan mensyukuri setiap anugerah Yang Maha Kuasa, hingga di ujung usia. (EKW)

4 comments:

  1. Lama pendakiannya mayan ya 3jam, kalo saya besok2 lagi aja deh nanjak sampe selama itu :(


    Salam kenal dr blogger ala2

    ReplyDelete
    Replies
    1. total pendakian sekitar 7-8 jam mas, 3 jam itu cuma dari pos 5 ke puncak.
      Salam kenal juga dari blog ala kadarnya. hehehe..

      Delete
  2. entah kenapa, bila melihat pemandangan dari atas gunung itu terasa beda, indah sekali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. gunung memang selalu ngangenin..
      karena tak lari gunung dikejar.

      Delete

Translate

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...