Skip to main content

SINGKARAK TERKEPUNG ASAP!

Suatu hari saya pernah menerima telepon dari teman dengan nada yang terdengar panik dan khawatir

Teman: Halo, endah, apa kabar orang tua kamu disana??? *terdengar panik*
Saya : baik-baik saja *dengan nada datar*
Teman : Serius nih orang tua kamu baik-baik saja disana?? Kapan kamu terakhir kali telepon mereka??
Saya : iya, mereka baik-baik saja. Saya ngobrol sama mereka 2 hari yang lalu. *mulai bingung sama teman yang terdengar seriusan panik*
Teman : Kok kamu bisa tenang-tenang saja sih?? Tuh di berita baru saja ada kabar Solok lagi gempa tuh.. *nada ngomel2*
Saya: Ohh.. Trus, emangnya kenapa?? *kembali datar*
Teman : *terdiam sejenak beberapa detik* Eh Solok itu di Sumatera ya?! Orang tua kamu tinggalnya di Papua kan ya?! Apa nama kotanya?!
Saya : Sorong! *mulai ngakak*
Teman : *ikutan ketawa* pantesan kamu tenang-tenang saja jawabannya.. ternyata, saya salah tohh..

Bwahhahahhahaha.. jadi ketawa ngakak berdua di telepon.

Sekelumit pembicaraan beberapa tahun silam itu kembali teringat saat saya sedang dalam perjalanan melewati danau Singkarak dan memasuki wilayah kabupaten Solok.

Hari ini tanggal 6 september 2015, wabah kabut asap yang berasal dari provinsi Riau dan Sumatera Selatan sudah merambah ke provinsi bahkan negara lain, termasuk danau kedua terbesar di Sumatera setelah danau Toba, yaitu danau Singkarak. Secara teritori, danau seluas 107,8 kilometer persegi ini masuk dalam wilayah kabupaten Solok dan kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Danau Singkarak terletak di ketinggian 363,5 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman mencapai 268 meter. *Dalam juga ya danau ini*

Berdasarkan penelitian, ada sekitar 19 spesies ikan yang hidup di danau ini. Namun ikan yang paling terkenal dan menjadi ciri khas danau ini yang diperkirakan cuma hidup di danau ini saja adalah ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis). Jadi, di sekitar danau ini terdapat banyak penjual ikan asin terutama ikan bilih yang harganya 300.000 per kilo. Mahal juga ya nih ikan. Tapi rasanya enak kok. *Abis mencicipi ikan bilih yang dibeli teman seperjalanan euy, hehehehe*

Saya memang cuma sebentar dan sekilas melintasi danau ini. Namun kepungan asap ini membuat hati miris, mengingat daerah ini merupakan salah satu daerah yang mengandalkan wisata alamnya. Apalagi di bulan Oktober akan ada event bertaraf internasional "Tour de Singkarak" yang pesertanya banyak berasal dari negara-negara lain.


Meski demikian, keindahan danau singkarak memang tidak bisa terabaikan. Sehingga meski terkepung asap dan jarak pandang yang terbatas, saya tetap ingin mengabadikannya. Kabut asap hasil pembakaran hutan memang menyesakkan dada dan memerihkan mata *maksudnya mata saya jadi perih euy.. hehehehe*. Makanya jangan punya hobi membakar hutan deh, cari hobi yang lain sana. Supaya anak cucu kita bisa tetap menikmati alam tanpa kabut asap ini. (EKW)

Comments

  1. Iya ih gimana mau lihat keindahan sepanjang jalur Tour De Singkarak sementara kabut asap masih menggenang di langit gak pergi-pergi. Batam juga dapat kiriman dari daratan Sumatera. Gerah banget nggak ada angin di sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. kemarin kesana gak bisa melihat pemadangan di kejauhan..
      jadi sedih melihatnya.. semoga kabut asap segera berlalu..

      Delete
  2. waaah! PARAH! Ini kapan sih asapnya ilang :( kok kayaknya malah makin parah dan nyebar kemana-mana gitu ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu dia.. menurut perkiraan BMKG sih musim hujan baru dimulai November atau Desember nih.. :(

      Delete
  3. kalau ke danau singkarak ... yang seru adalah kelok 44 - nya .
    kalau pas asap begini .. sulit dong lihat kemegahan danau singkarak dari kelok 44

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa.. kemarin jarak pandang disana dibawah 1 kilometer euy.. jadi tidak bisa melihat bukit2 indah nan mempesona
      *sedih*

      Delete

Post a Comment