Wednesday, September 16, 2015

SELIMUT KABUT JAMBI

Sudah hampir 2 bulan lebih bencana kabut asap menerpa pulau Sumatera dan Kalimatan. Sudah berbagai upaya sedang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya. Namun, sepertinya memang butuh waktu lebih lama untuk mengatasi kabut asap tahun ini.

Awal September ini, saya berkesempatan menembus pekatnya kabut asap di kota Jambi. Untuk sampai di kota ini, saya harus menempuh jalur darat selama 12 jam dari Bengkulu karena pesawat tidak ada yang bisa mendarat di bandara Sultan Thaha, Jambi. Pilihan lain, 7 jam dari Palembang dimana saat itu status penerbangan masih 50% bisa berangkat atau cancel, 12 jam dari kota Padang dengan status 100% aman dan Batam 5 jam dengan status 50% bisa berangkat atau cancel pula.

Satu-satunya pesawat yang berhasil mendarat hari itu (tanggal 10 September 2015) hanyalah 3 pesawat Hercules tipe C-130 milik TNI-AU. Padahal hari itu jarak pandang di Jambi hanya 300 meter. Aturan penerbangan sipil mengharuskan jarak pandang 1200 meter untuk bisa melakukan pendaratan dan take off dengan aman.

Saya memang cuma 24 jam berada di kota ini. Namun saya merasakan betapa perih dan sakitnya menghirup kabut asap ini. Hanya 10 menit di luar ruangan atau di luar mobil sudah membuat saya terbatuk-batuk, padahal saya sedang memakai buff/masker. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang di kota ini, dan kota-kota lainnya yang tertutup asap bisa beraktifitas sehari-hari dengan nyaman. Hanya bisa berdoa, semoga hujan bisa segera turun dan menghapus selimut kabut asap disini dan di kota-kota lainnya yang sedang tertutup kabut asap. Amin!!! (EKW)


10 comments:

  1. buset dah! itu kabutnya pekat banget :O fotonya putih semua!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan putih mas, tp kuning..
      saya bareng sama fotografer Tempo aja sampai dia nyeletuk "Ini kenapa hasil foto gw kayak pake filter kuning ya?!"
      parah banget memang kabut asap disana..
      jadi miris ngeliatnya...

      Delete
  2. Widih, sempat2nya main2 disaat kabut begitu, ndah, hasil kamera kayak di efek2 gtu tapi itu real begitu ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan main woy.. ini kerja kk..
      kebetulan hotel tepat disamping jembatan itu jadi sekalian bisa ambil beberapa foto disana..

      Delete
  3. Haduh, semakin lama ngelihatnya jadi semakin ngeri, udah berbulan-bulan kayaknya belum jadi lebih baik, ah, masak harus nunggu musim hujan dateng? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. menurut BMKG malah musim hujannya ntar November bahkan Desember..

      tp kemaren beberapa teman di Padang, Solok dan Batam sudah laporan hujan, Riau yang belum..
      semoga turun hujan secepatnya dehhh..

      Delete
  4. fotonya menggambarkan keadaan disana. sesak nafas ak lihatnya. hiks. semoga cepet padam api dan asapnya. aamin

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. iya mas cumi.. sakitnya tuh disini.. *tunjuk mata dan dada* :'(

      Delete

Translate

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...