MENAPAK ATAP JAWA TENGAH, GUNUNG SLAMET

Warna hijau daun yang diselimuti cahaya keperakan dari sinar matahari berpadu mesra dengan birunya sang langit. Selingan kicauan burung menjadi nyanyian alam yang serasi. Semilir angin menyejukkan hawa panas tubuh yang mulai naik di batas normal.

Begitulah pendakian Slamet ini dimulai pada pukul 10.00 wib dengan 9 orang teman lainnya. Ngomong-ngomong di pendakian ini saya kembali menjadi yang paling cantik karena teman-teman se team cowok semua. *cewek di sarang penyamun, hohohoho..*. Awalnya ada seorang cewek lagi yang dikabarkan ikut saat saya masih berada di Pekalongan. Namun karena satu dan lain hal yang tidak saya ketahui, maka si cewek itu pun batal ikut.

Sepertinya yang sudah saya rencanakan di awal, karena batuk pilek dan radang tenggorokan yang sudah menyerang sejak beberapa hari yang lalu, saya tidak berencana untuk menjejakkan kaki di puncaknya. Hanya sekedar ingin camping dan melihat hutan di kawasan Gunung Slamet. Puncak bisa lain waktu lah. Toh, tak lari gunung dikejar kan. Dan berdasarkan rembugan team, kita akan ngecamp di pos 7 dan paginya baru akan nanjak untuk summit attack.
Perjalanan dari Pos 1 ke pos 2 membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam (pukul 13.30 - 15.00) dimana jalur dimulai dari ladang penduduk hingga memasuki hutan pinus dan kawasan hutan. Untuk menuju ke pos selanjutnya juga waktu semakin cepat karena jarak antar pos pun semakin pendek dibandingkan pos sebelumnya. Dari Pos 2 ke pos 3 membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit, Pos 3 ke pos 4 sekitar 50 menit dan Pos 4 ke pos 5 membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Ini estimasi jalan santai mengingat saya sedang batuk pilek dan radang tenggorokan plus istirahat di tiap pos yang mencapai 10-30 menit.

Tak dinyana, karena kita keseringan istirahat, atau karena mereka sengaja memberikan waktu lebih buat saya yang sedang tidak fit, kami baru sampai di pos 5 hampir pukul  6 sore, menjelang magrib. Mengingat kita semua, terutama saya butuh istirahat lebih banyak, target ngecamp di pos 7 pun terpaksa dihapus dan kita pun ngecamp di pos 5, terutama karena pos  5 ini memiliki shelter dan kita yang pertama sampai di pos ini sehingga kita bisa menempati bagian dalam shelter terlebih dahulu. Dan sekelumit perbincangan pun dimulai

Saya : "kalian bikin tenda nanti saya yang masak deh, logistik sama peralatan masak tolong dikeluarin ya, soalnya kan saya tidak tahu peralatan ada dimana"
Cowok 1 : "Kompor sama nesting ada di tas saya, bentar saya keluarkan"
Cowok 2 : "Logistik ada sama saya, mau taruh dimana?"
Saya : "Taruh di balai-balai situ tuh, sekalian saya lagi mau potong-potong sayur nih. Oh iya, beras sekalian dikeluarkan dong, masak beras kan lama, jadi bisa sambil nyambi motong sayur dan siapin lauk lainnya"
Cowok 1, 2, 3 dan 4 : *lirik-lirikan sambil bengong megangin tenda*
Saya : *menatap lirik-lirikan para cowok itu dengan curiga* "Kalian ada packing beras kan?! jangan bilang kalian tidak bawa beras"
Cowok 2: "Nahh.. itu dia Ndah, seperti saya lupa beli" *sambil cengar-cengir*
Saya : "Dan yang lainnya gak ada yang bawa beras??"
Cowok 3: "Kan yang tugas beli logisitik si dia *nunjuk cowok 2* jadi yaa kita gak ada yang bawa beras lagi"
Saya : "hadeuhh.. kalian ini" *sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal*

Untuk pendakian kali ini saya memang cuma numpang ikut sehingga tidak ikut membantu penyediaan logistik. Saya cuma menambah logistik sayuran dan buah karena saya tahu kebiasaan kebanyakan para cowok kalau naik gunung masih banyak yang lebih suka bawa-bawa mie instan daripada sayur dan buah. Untungnya, saat akan memulai pendakian, kita sempat membeli beberapa nasi bungkus untuk dimakan saat isitrahat dan masih tersisa sekitar 3-4 bungkus jadi, malam ini masih bisa makan nasi sayur dan lauk-lauk lainnya. Huft! Buat besok? Besok aja deh mikirnya. Malam ini sebaiknya segera istirahat saja,

Sekitar pukul 4 pagi, alarm handphone saya berdering beberapa kali. saya membangunkan beberapa teman yang katanya mau summit attack sambil hunting sunrise. Saya hanya sekedar bangun untuk membantu menyiapkan peralatan dan logistik untuk persiapan mereka nanjak. Sambil mengeluarkan isi daypack saya yang rencananya akan diisi logistik buat nanjak, beberapa teman, Noval dan Mas Adhie mulai mengompori saya. "Ayo ikutan summit yuks, sayang kan udah sampai disini tidak sampai puncak"


"Saya lagi sakit woy, ntar malah memperlambat kalian sampai puncak lagi" "Saya disini aja deh nungguin kemah" Namun ke-kekeuh-an mereka menyeret saya untuk summit jauh lebih besar daripada ke-ngelesan saya. Alhasil, saat itu saya sedang tertatih-tatih dan mengatur napas yang tersengal-sengal di pos 7 sambil menatap sang mentari yang perlahan mulai menampakkan diri di ufuk timur.


Beberapa ratus meter dari pos 7, vegetasi tanaman semak mulai digantikan dengan pasir dan bebatuan dan buat saya disinilah medan terberat dari pendakian gunung Slamet. Setelah tertatih-tatih dengan napas tersengal-sengal, saya pun duduk di bebatuan puncak 3428 mdpl tepat pukul 07.45. Memandang seluruh penjuru puncak dan mengamati kawahnya yang sedang aktif dari kejauhan. Dan pada akhirnya, saya cuma bisa berdecak kagum sambil berucap lirih "Akhirnya setelah 4 kali gagal, Slamet juga akhirnya". (EKW)

Comments