Skip to main content

AROMA MENYENGAT DI GUNUNG PAPANDAYAN

Huekks!!

Berkali-kali saya ingin muntah mencium aroma semerbak yang melayang di udara. Jalanan yang tak seberapa menanjak itu pun terasa berat. Bunyi semburan asap berwarna kuning dari sela-sela bebatuan pun tetap menyembur keluar tanpa mempedulikan para pejalan dan pendaki yang berusaha melewatinya.

Perjalanan saya ke salah satu gunung volcano teraktif yang berada di daerah Garut, Jawa Barat ini dimulai ketika ada postingan dari seorang kawan di salah satu jejaring sosial. Berhubung sebelumnya saya belum pernah mendaki ke gunung ini, meski tanggal keberangkatannya bertepatan dengan libur long weekend (29 Maret, Jumat, wafat Isa Almasih), saya tetap ingin ikut pendakian ini.

Dengan menggunakan bis malam, saya dan 8 orang teman baru berangkat dari pool bis di daerah cawang menuju Garut. Namun awal perjalanan kami tidak mulus. Bis yang kami tumpangi mengalami mogok di sebelum memasuki wilayah kota Bandung, di dalam jalan tol pula *jadi tidak bisa kemana-mana dehh.. :(*
Terdampar di pinggiran jalan tol
Mau tidak mau kami terpaksa menunggu di pinggir jalan selama beberapa jam sampai bis pengganti datang dan mengangkut kita semua.

Setelah tertidur di pinggir jalan hingga hampir 2 jam, bis pengganti yang ternyata juga sudah penuh orang pun datang.. *ini bis pengganti apa bukan sih? garuk-garuk kepala sambil menguap.. hoahem*. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 08.00 WIB kita pun sampai di Garut.

Setelah berisitirahat, sarapan, mengganti sandal dengan sepatu trekking, Gerry sang ketua rombongan pun memanggil sebuah mobil bak terbuka untuk kita tumpangi menuju ke kamp David. Perjalanan ke kamp David sekitar 2 jam dan sekali lagi, perjalanan kami mengalami hambatan. Jalan rusak dan becek membuat ban mobil yang kami tumpangi selip dan tidak bisa bergerak maju. Selama hampir satu jam, saya dan kawan-kawan lainnya mencoba berbagai cara supaya mobil bisa bergerak maju dan akhirnya berhasil saudara-saudara.. *standing applause for all of us*
Pos pendakian Camp David
Gunung Papandayan dari parkiran pos Camp David
Siap-siap! 
sekitar 15 menit kemudian, sampailah kita di kamp David. Setelah mengurus izin naik, kita pun memulai perjalanan. Sekitar 15 menit perjalanan, sampailah kita di kawasan kawah. Bau belerang yang membaur di udara pun mulai tercium. Langkah kaki dan helaan napas yang semula ringan menjadi berat.

Saya mulai terbatuk-batuk dan merasa mual *tingkat dewa* manakala setiap kali menarik nafas, udara yang masuk ke hidung ikut bercampur dengan aroma belerang ikut yang menusuk. Saya pun mulai memperlambat jalan, menutupi hidung dan mulut saya dengan jilbab, dan berusaha menarik napas lebih pendek dan pelan dibandingkan biasanya.
Kawah gunung Papandayan
Jalur pendakian disamping kawah Papandayan
Setelah beberapa ratus meter kemudian saya sampai disebuah pertigaan. Disini ada sebuah batu besar dan saya duduk sebentar sembari melihat 2 jalan di depan mata. Yang kanan memiliki track yang menanjak sedangkan yang kiri jalanan landai yang menghilang di tikungan di depan sana.

Saat menengok ke belakang, berusaha mencari teman setim diantara para pendaki yang sedang melintasi kawasan dengan bau belerang. Sayangnya, saya tidak melihat mereka disana. Tampaknya langkah kaki saya terlalu cepat atau terlalu lebar. Akhirnya setelah menimbang dan observasi lapangan, saya melihat lebih banyak pendaki di depan saya yang memilih jalur menanjak, maka saya pun memutuskan untuk mengikuti jejak langkah mereka.

Setelah perjalanan menanjak sekitar 1 jam, sampailah saya di kawasan hutan mati. Kawasan ini merupakan kawasan pohon-pohon kering yang terkena efek panas dari letusan gunung Papandayan beberapa tahun silam. Suasana disini gabungan antara eksotis dan mistis sekaligus. Apalagi kalau jalan sendirian macam saya. *contoh buruk, jangan ditiru! Jalan di gunung tidak boleh terpisah dari teman se team ya!*
Kawasan hutan mati
Setelah menunggu sejenak, saya bertemu dengan pendaki lainnya. Setelah menanyakan posisi pos Pondok Salada, saya pun melanjutkan perjalanan menuju kesana karena disanalah saya dan team akan ngecamp. 15 menit kemudian saya telah sampai di pos Pondok Salada. Saya pun berkeliling dan celingak-celinguk sendirian mencari teman-teman saya. Dimana mereka?! 

Setelah duduk beristirahat, akhirnya sekitar 1 jam kemudian mereka pun muncul satu persatu. Wah.. ternyata mereka mengambil jalur landai di sebelah kiri tadi. Pantesan tidak ketemu mereka sepanjang perjalanan meski sudah saya tungguin lebih dari 15 menit, beda jalur toh ternyata. 
Beberapa tenda di pos Pondok Salada
Kawasan Pondok Salada ini merupakan kawasan tanah lapang dengan mata air yang dikelilingi oleh pepohonan. Disini pun kita pun mendirikan tenda dan mulai memasak makanan untuk santap malam ini. Malam ini kita harus tidur lebih cepat karena pendakian menuju puncak Papandayan akan dimulai esok hari pukul 04.00 WIB. 

pukul 05.00 pagi meski dengan langkah ogah-ogahan, menguap dan mata masih setengah terpejam, saya dan teman-teman pun bersiap mendaki ke puncak Papandayan. Namun kali ini tanpa membawa peralatan. Semua peralatan kami tinggal di pos Pondok Salada. Kami hanya membawa satu daypack yang berisi makanan kecil dan air minum. 

Perjalanan menuju ke puncak dari Pondok Salada kembali melewati kawasan hutan mati. Namun kali ini, berhubung masih pagi, kawasan ini diselimuti kabut. TOP banget deh suasananya saat itu. 
Kawasan hutan mati berselimut kabut
Dari kawasan ini perjalanan mulai menanjak dengan jalan setapak kecil menuju ke pos selanjutnya yaitu pos Tegal Alun. Jarak perjalanan berkisar 30 hingga 60 menit, tergantung kecepatan berjalan. Memasuki kawasan Tegal Alun, matahari sudah menampakkan diri di ufuk timur. Kawasan tanah lapang dengan hamparan semak bunga edelweiss ini pun terlihat sangat indah sekali. Disini kita bisa berisitirahat sejenak sambil menikmati bunga edelweiss. 

Perhatian untuk semua pendaki, DILARANG MEMETIK BUNGA EDELWEISS!!!
Take nothing but pictures, please.  
Kawasan Tegal Alun
Semak bunga edelweiss
Full team at Tegal Alun
Usai istirahat dan sesi pemotretan *hehehe.. Narsis.com* kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke  puncak. Lepas dari kawasan padang edelweis Tegal Alun, kawasan hutan mulai didominasi dengan tumbuhan semak dan pakis. Jalanan pun menyempit dan hanya seukuran tubuh. Setelah sekitar 40 menit lebih berada di kawasan ini, jalanan setapak pun mulai menanjak. 

Meski jalanan menanjak dan melelahkan. cobalah sekali-kali beristirahat dan menengok kebelakang. Kalian akan bisa menikmati pemandangan dari bukit atau gunung di sekitar Papandayan beserta kawahnya yang kemarin dilewati. Pemandangan seperti itu cukup sukses membuat rasa lelah itu hilang. 
Pemadangan dari tanjakan menuju ke puncak
Setelah beberapa saat perjalanan menanjak, sampailah kita di kawasan puncak bayangan. kawasan ini disebut demikian karena ini bukanlah kawasan puncak Papandayan yang sesungguhnya. Namun karena kawasan ini cukup terbuka sehingga terlihat lebih tinggi daripada yang lainnya. Makanya banyak yang salah mengira area ini sebagai puncak Papandayan. *Untung ada plang namanya, kalau tidak, saya juga pasti salah mengiranya. Maklum, ini pertama kalinya ke Papandayan euy. Hehehe.. *

Dari kawasan puncak bayangan, kami berjalan sekitar 20-30 menit dan sampailah di Puncak Papandayan. Kawasan ini berupa tanah lapang dengan beberapa pohon yang menjulang tinggi. Di area ini lebih tertutup pohon dibandingkan kawasan puncak bayangan. *pantesan banyak yang salah*

Sambil beristirahat dan memandangi areal puncak Papandayan ini, mata saya tertuju pada sebuah batang pohon yang berukiran inisial. Siapa sih yang hobi bikin vandalisme di pohon di tengah hutan begini? Apa gunanya? Buat kenang-kenangan? Siapa di tengah hutan begini yang mau mengenangnya? Vandalisme seperti ini cuma merusak pohon dan alam! Sungguh keterlaluan sekali orang-orang yang melakukannya kegiatan merusak seperti ini! *Kalau tahu siapa yang melakukannya pasti saya marahin dan di blacklist, tidak akan saya ajak lagi traveling ke alam*
Vandalisme di pohon
Langit biru berpadu dengan hijaunya dedaunan
Puncak Papandayan

Setelah beristirahat dan berfoto disini *buat barang bukti kalau sudah mencapai puncak Papandayan.. hehehe.. * kami pun beranjak kembali menuju pos Pondok Salada. Sekitar pukul 12.oo siang kami telah tiba kembali di tenda masing-masing. Sebagian dari kami mulai memasak, sedangkan yang lain mulai berbenah-benah. 

Setelah selesai makan siang dan mempacking semua barang, kami pun beranjak pergi dari kawasan Pondok Salada. Kali ini semua orang termasuk saya, setuju untuk mengambil jalur jalanan landai. Kalau saya sih lebih karena ingin melihat jalur yang satunya lagi seperti apa.
Bersiap-siap turun!
Pic by Azis Siswoyo
Jalanan landai ini sebenarnya cukup lebar dan bisa dilalui mobil offroad atau truk. Sayangnya di salah satu bagian jalanan ini longsor yang mungkin diakibatkan gempa akibat aktivitas vulkanik gunung Papandayan di sebalahnya yang mengakibatkan jalanannya putus. 

Oleh masyarakat setempat atau mungkin ranger disini, mereka pun membentuk sebuah jalanan setapak yang mengitari bekas longsoran tersebut. Sayang saya tidak bisa memotret dikawasan ini karena sejak di Pondok Salada, saya bertukar ransel dengan teman saya sehingga tas saya beserta kamera di dalamnya dibawa oleh dia dan dia telah berjalan jauh di depan saya.. *hiks..hiks..hiks*

Saat berada dijalanan setapak ini saya melihat ada seekor monyet yang bergelantungan dan bermain di pohon sekitar sungai kecil. Argh!! kamera saya, mana kamera saya?? *Nangis sambil garuk-garuk tanah*. *lainkali boleh tukeran tas tapi kamera tetap harus saya yang bawa ya* Ya sudahlah, saya cuma duduk di sebuah batu sambil memandangi monyet yang bermain-main seakan meledek saya itu. *Awas ya, lain kali pasti saya bisa memotret kamu*.

Setelah lepas dari kawasan ini, kembali kita memasuki kawasan kawah dengan aroma menyengat itu. Kali ini saya lebih mudah mempercepat langkah karena jalanan yang menurun. Aroma belerang tetap menusuk hidung hingga kali ini saya sempat ingin muntah dibuatnya. Untungnya dengan sedikit bantuan air minum dan cuci muka sekedarnya rasa mual itu mulai hilang. Saya pun segera mempercepat langkah untuk segera meninggalkan areal kawah menuju ke pos awal pendakian, Pos Camp David. 

Setelah beristirahat, kami pun kembali menuju kota Garut dengan mobil bak terbuka dan dilanjutkan dengan bus menuju Jakarta. Di depan terminal Kampung Rambutan, saya pun mengucapkan salam perpisahan dan janji untuk tetap berkomunikasi dengan kawan-kawan baru saya ini.

Pendakian ke Papandayan ini sangat menyenangkan terutama bisa bertemu, berkenalan dan memiliki beberapa teman baru. (EKW)



Comments

  1. reportase yang menarik. semoga sy jg bisa kesana...
    jika berkenan berkunjung ke sini http://gurila405.blogspot.com/2013/11/barang-mahal-itu-bernama-kesadaran.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah membaca..
      Saya doakan semoga kmu juga bisa berkunjung ke Papandayan

      Delete
  2. terimkasih... atas doanya. terimkasih pula telah blogwalking

    ReplyDelete
  3. satu lagi mbak, jika berkenan mohon follownya donk. trimkasih

    ReplyDelete
  4. saya juga hari Sabtu lalu pergi kesana :3
    perjalanan yang menyenangkan

    ReplyDelete

Post a Comment