DIENG, NEGERI DIATAS AWAN YANG PUNYA BANYAK KAWAH, CANDI DAN TELAGA

Akhir bulan Juni lalu saya mendapat tawaran dari teman sekantor untuk jalan-jalan ke Dieng. Secara saya belum pernah ke Dieng dan biaya yang dia tawarkan cukup murah, Rp. 410rb untuk trip 3 hari 2 malam, maka saya pun setuju untuk ikut. Kalau kalian pikir harga segitu masih mahal, bagaimana kalau saya bilang tanggal keberangkatan kita bertepatan dengan Festival Dieng yaitu pemotongan rambut gimbal dan harga sudah termasuk akses untuk berkeliaran disekitar arena festival dan mengikuti jalannya acara? Murah kan?? hehehe...
Pintu gerbang kota Dieng
Dieng memang terkenal sebagai negeri di Atas Awan *jadi ingat lagunya Katon Bagaskara* karena Dieng terletak lebih dari 2000 meter diatas permukaan laut. Itu sebabnya Dieng dianggap sebagai kota tertinggi di Indonesia. 
Petani Kentang 
Gambar perbukitan di Dieng
diambil dari Gardu Pandang Tieng
Sesampainya saya di Dieng, sudah ada minibus dan guide yang akan menemani perjalanan. Sambil bertanya-tanya sama guide *yang saat nulis artikel ini saya lupa namanya* *Maaf ya* mata saya tidak lepas memandang keluar menikmati alam dan hamparan ladang kentang di Dieng.  Saya baru tahu kalau Dieng ini ternyata memiliki 4 kawasan Candi yaitu Area Candi Arjuna, Area Candi Dwarawati, Area Candi Gatot Kaca dan Area Candi Bima. 
Candi Arjuna
Candi Bima
candi Gatotkaca
Saya berkesempatan menengok dan mengagumi 3 kawasan candi yang dibangun secara bertahap sejak akhir abad ke-8 ini. Sayangnya saya belum berkesempatan menengok Candi Dwarawati karena tidak masuk di itinerary trip ini. *hiks..hiks..hiks.. Mungkin lain kali*. Meski semua kawasan candi ini berada dibawah nama Candi Dieng, jangan kalian pikir jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki ya.. Jarak antar kawasan Candi ini cukup jauh, terutama bagi kalian yang beranggapan 500 meter adalah jarak yang jauh banget!
Jarak antar Candi berdasarkan Google Map
Sebagai panduan jarak, homestay tempat saya menginap berada 500 meter di depan candi Arjuna. Jarak Candi Arjuna ke Candi Bima adalah 3 kilometer. Jarak Candi Arjuna ke Candi Gatotkaca adalah 1,5 kilometer. Dan jarak candi Bima ke candi Gatotkaca sekitar 800 meter lebih. Jarak ke candi Dwarawati?? Maaf saya tidak tahu, kan belum sempat kesana.

Setelah berkeliling ke beberapa candi, istirahat dulu kayaknya enak nih. Saat istirahat sejenak, saya mencoba mencicipi beberapa makanan yang dijual disekitar kawasan Dieng. Ada bakso ayam, jamur goreng, kentang goreng, hingga manisan buah Carica. Tahu carica itu apa?? Orang Dieng menyebut Carica sebagai Pepaya "Kuntet" alias pepaya mini. Rasanya? Hmm.. Yummy, enak dan segar banget! 
Carica a.k.a Pepaya Mini a.k.a Pepaya Kuntet
Selain ke 3 kawasan candi tersebut, saya juga berkesempatan menengok kawah yang sangat terkenal di Dieng yaitu Kawah Sikidang. kawah ini merupakan kawah terbesar di Dieng dan menjadi salah satu objek wisata di Dieng. Kawah Sikidang berada tidak jauh dari candi Bima, setidaknya pintu masuk kawah ini. Kawahnya sendiri sih jauh masuh ke dalam sekitar lebih dari 500 meter dari gerbang masuk.
Pintu gerbang kawah Sikidang
Kawah Sikidang
Selain kawah ini, Dieng ternyata memiliki beberapa kawah lainnya. Informasi ini saya dapat saat mengunjungi Dieng Plateau Theatre. Disini terdapat film pendek mengenai sejarah kawasan Dieng dan beberapa kawahnya yang masih aktif seperti kawah Sikidang, kawah Candradimuka, kawah Sileri, kawah Sinila dan kawah Timbang.

Kawah yang paling terkenal adalah kawah Sikidang, kawah Candradimuka dan kawah Timbang. Sikidang terkenal karena merupakan objek wisata yang bisa dikunjungi. Kawah Candradimuka terkenal karena cerita direbusnya Gatotkaca di dalam kawah ini sehingga dia menjadi sakti dan memiliki tulang kawat dan otot besi. Sedangkan kawah Timbang terkenal karena pada tahun 1979 terjadi letusan di kawah Sinila dan gempa mengakibatkan kawah Timbang mengeluarkan gas beracun CO2 dan menewaskan 149 warga desa di sekitar kawah tersebut. Tragis euy!
Nonton film singkat tentang Dieng disini nih..
Sayangnya saya belum berkesempatan mengunjungi kawah selain Sikidang. Padahal saya ingin sekali melihat kawah Candradimuka yang terkenal itu lho.. Soalnya nama kawah ini sering dipakai sebagai ungkapan untuk tempat pelatihan militer. Jadi penasaran, mungkin lain kali *crossing my finger and wih me luck, everyone*

Oh iya, karena Dieng memiliki banyak kawah akibat letusan vulkanik, Dieng juga ternyata memiliki beberapa danau atau telaga. Beberapa yang terkenal adalah telaga Warna, telaga Pengilon, telaga Nila dan telaga Cebong.
Telaga Cebong 
Telaga Warna
Yang paling terkenal adalah Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Telaga Warna sangat terkenal karena memiliki beberapa semburat warna seperti merah, hijau, biru, putih dan lembayung. Namun tidak semua warna ini kita bisa melihatnya. Saat saya kesana, warna yang paling dominan adalah warna hijau dan sedikit putih di beberapa bagian telaga. 
Can't take my eyes from this beautiful scene
Selain itu di beberapa tempat sekitar telaga Warna ini terdapat beberapa goa untuk tempat bersemedi dan memohon sesuatu seperti goa Semar, goa Sumur dan goa Jaran. Sebenarnya kalau boleh protes, saya tidak setuju kalau ketiga tempat ini disebut goa karena sebenarnya menurut saya tempat yang disebut goa ini hanyalah sebuah cerukan kecil ke dalam dinding yang tidak lebih dari 5 meter. 
Goa Semar

Goa Sumur
Nah disini saya menemukan sedikit kontradiksi mengenai cerita rakyat di pulau Jawa, Seperti yang pernah saya tulis di artikel Museum Wayangtokoh Semar dan kawan-kawan diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk sarana dakwah, namun cerita di goa Semar ini adalah goa ini dipercaya dijaga oleh Eyang Semar. 
Tokoh Semar di depan Goa Semar
Siapakah dia??
Jadi Semar itu sebenarnya tokoh rekaan, semacam makhluk gaib, atau tokoh yang benar-benar ada jaman dahulu?  Hmm.. mari kita tanya pada rumput yang bergoyang.. *krik..krik..krik..*

Selanjutnya telaga Pengilon atau bisa juga disebut telaga Cermin, terkenal karena telaga ini bisa dibilang satu paket wisata sama telaga Warna.  Telaga Pengilon ini terletak tepat di sebelah telaga Warna dan hanya dibatasi sebuah rawa kecil yang berumput. Konon katanya kalau bercermin di telaga Pengilon ini berhati buruk, maka pantulan wajahnya juga akan terlihat buruk, namun jika hatinya bersih dan baik, maka pantulan wajahnya juga akan terlihat cantik. Sayangnya saya tidak berkesempatan membuktikan teori ini karena akses jalan menuju telaga ini dari telaga Warna sama sekali tidak ada.
Dibalik padang rumput ini ada telaga Pengilon
Sayangnya padang rumput ini tidak bisa diinjak
karena dibawahnya rawa yang cukup dalam
Sebenarnya suasana di sekitar telaga ini cukup teduh dan tenang. Sayangnya karena ini weekend dan bertepatan dengan Dieng Cultural Festival, jadinya ramai banget tempat ini. Padahal saya ingin duduk sendirian di tepi telaga sambil mengkhayal *sok tidak takut kesambit setan.. hahaha* 
Pertunjukkan wayang
Kembang api dari kawasan Candi Arjuna
dilihat dari balkon homestay
Malamnya saya berkeliaran bersama beberapa teman di sekitar candi Arjuna sambil menikmati pasar malam, pertunjukkan wayang kulit dan kembang api. Udah ah, saatnya istirahat. Besok kan mau lihat Golden Sunrise dan Festival Dieng. Yukk Marii!! (EKW)

Comments